Aku
mencintainya dengan hati bukan dengan mata, aku mencintainya dengan rasa bukan
dengan nafsu. Setiap detak jantungku maka sebanyak itu juga tasbihku kepada-Nya
dia pemilik kerajaan langit dan Bumi kepada-Nyalah kita berserah.
Jika
kamu mencintainya, cintailah Rabb mu. maka kamu tidak akan kecewa karnanya.
Serta luruskan niatmu menjadi seseorang yang lebih baik, baik dimata keluarga,
teman, yang terpenting dimata sang pencipta karena sesungguhnya Ia lah
Al-Khabir (maha mengetahui) dan Al- Hadi (memberi petunjuk). Dua hal itulah
yang mendasariku untuk menolaknya secara halus pada Pria yang dulu menjadi
teman SMA ku yang terang-terang memintaku untuk menikah denganya. Tapi dilain
sisi aku diam-diam menyimpan Rasa dengan seseorang yang baru pertama kali aku
lihat, pria yang memiliki keteduhan hati setiap kali ia tersenyum……
Farel,
ya pria dengan gaya kharismanya mampu membius setiap wanita yang sedang transit
di Halte kampung Melayu. Tubuhnya yang gagah wajahnya yang baby face serta kulitnya
yang putih layaknya seorang model membuat ia banyak diidolakan oleh kaum hawa.
Tak heran jika banyak wanita yang hanya berpura-pura ke Kampung Melayu hanya
untuk melihatnya, begitu juga denganku. Ia seorang On Board penjaga pintu
Busway koridor 7 jurusan Kampung Rambutan- Kampung Melayu.
Kupandangi
tubuh tingginya itu, yang sedang tersenyum kepada setiap penumpang. Entah
mengapa hati ini bergetar saat mataku bertemu dengannya.
“Astaghfirullah
aladzim… jangan seperti ini Risa.”
Ujarku
sambil memejamkan mata sejenak. Wajah itu masih melirik kearahku, terbesit
untuk kembali memandanginya. Demi Tuhanku yang menciptakan Rasa dan Cinta
disetiap hembusan nafas ini, maafkan aku yang telah mengotori hatiku dengan
pandangan yang telah Engkau haram kan dari orang yang bukan Mahramnya.
Akupun
membuang pikiran jelek itu jauh-jauh, kemudian balik arah ke Harmoni untuk
melanjutkan pulang, padahal jika dari Kampung Melayu tidak terlalu jauh ke PGC.
Namun karena salah transit akupun mencari Busway yang aku ketahui yaitu ke
Harmoni. Saat hendak menunggung Busway jurusan yang ingin aku tumpangi kulihat seseorang
sedang memandangiku dengan penuh arti. Tubuhnya tinggi, dengan kemeja berwarna
biru, kulitnya terlihat putih. Tatapan itu terus saja memperhatikanku tanpa berkedip.
Beberapa menit setelah ia memandangiku, kakinya kemudian melangkah menuju
tempat aku berdiri dikoridor arah PGC. Semakin aku lihat semakin aku
mengenalinya, seseorang yang pernah dekat denganku bukan sebagai kekasih,
ataupun orang yang special untukku. Tapi teman seperjuanganku dulu saat SMA. Ya
tak salah lagi itu Ragi….aku sipitkan sekali lagi mataku berharap aku tak salah
orang, dan benar Ragi berdiri dihadapanku.
“Hei….masih
ingat kan sama aku?” aku terkejut melihatnya yang tiba-tiba berada dihadapanku.
“Oh,
ya aku ingat. kamu Ragikan? Alumni SMAN 3 jurusan IPA, yang duduknya dibelakang
Adi. Dan juga ketua kelas yang selalu aktif ikut Organisasi. Benarkan?”
“Hahahaha….
Ternyata ingatan kamu masih tajam, kamu sedang apa Ris?”
“Nunggu
Busway lah, untuk apa lagi aku dihalte.” Semula suasana yang tadi kaku menjadi
cair.
“Oh,
ya Ris boleh aku minta no mu?” tanyanya dengan ragu.
“Boleh.”
Ku berikan nomorku padanya.
Beberapa
menit kemudian Busway yang akan aku tumpangi telah datang, ku tinggalka dia
yang masih berdiri tersenyum menatap kepergianku.
***
Di
ufuk barat langit telah berubah kemerahaan, matahari mulai terbenam dan
berganti dengan sang Rembulan. Burungpun terbang kembali kesangkarnya, kudengar
panduan suara Jangkrik saling bersahut-sahutan Indah untuk didengar. Aku masih
terduduk diteras Rumah bercat putih, pikiranku melayang beberapa menit kemudian
ponselku bergetar bertanda pesan masuk. Ku buka pesan itu ternyata dari Ragi
pria yang kutemui di halte tadi siang.
Assalamuallaikum….
Maaf
menggangu, kamu sedang apa Ris?
Kubiarkan
pesan itu terbuka, Adzan maghrib berkumandang seakan berseru mengajak kepada
seluruh umat islam untuk menunaikan kewajibanya sebagai seorang Muslim/ah.
Betapa mengagumkan suara adzan itu, dan bagi umat Islam di seluruh dunia, adzan
merupakan sebuah fakta yang telah mapan. Indonesia misalnya, sebagai
sebuah negara terdiri dari ribuan pulau dan dengan penduduk muslim terbesar di
dunia. Kutinggalkan segala aktifitasku, kuletakkan ponselku diatas meja segera
kulaksanakan perintah yang telah Allah Seru kan kepada setiap umatnya.
Beberapa
menit kemudian ponselku kembali bergetar, ternyata pesan itu berasal dari Ragi,
belum sempat ku balas pesannya yang tadi. Maka agar ia tidak berfikiran
macam-macam tentangku akupum langsung membalas pesannya.
Lagi
sibuk ya? Maav kalo begitu
Walaikum
salam….Tidak Gi, ada apa? jawabku
Hanya
ingin SMS, memangnya tidak boleh?
Hubungan
kamipun berlanjut, kami semakin dekat mengenal satu sama lain, sebagai seorang
teman yang lama tidak berjumpa. Sejak pertemuan pertama itu hingga kini
kuanggap sebagai ajang silaturahmi sebagai seorang muslimin.
Setelah
beberapa minggu, kudapat pesan panjang dari emailku. Yang tak lain berasal dari
Ragi, Seketika mataku langsung terbelalak kaget, seakan tidak percaya saat
membaca pesan darinya. Detak jantungku seakan tidak seirama dengan denyut
nadiku, mugkinkah aku harus senang atau bisa jadi aku merasa sedih? Entahlah
yang pasti pesan itu seperti menghantamku kepalung hati terdalam, sehingga
membuat aku tidak dapat berfikir secara jernih apa maksud Ragi kepadaku.
Assallamuallaikum,
Risa langsung saja dengan tujuanku,
setelah seminggu aku mengenalmu aku merasakan suatu yang beda terhadapmu. Aku
ingin berniat baik kepadamu sebagai seorang laki-laki, aku ingin memintamu
untuk menjadikanmu sebagai permaisuri dalam hidupku.
Aku tau kamu belum memiliki
kekasih, begitu juga denganku. Maka dengan niat tulus aku ingin meminangmu.
Kamu tau Ris, saat pertama kali kita bertemu di Halte saat itu aku sudah jatuh
hati padamu, kamu semakin cantik, berbeda saat kamu di SMA dulu. Saat itu
bergetar hatiku untuk menjadikanmu istriku, izinkan aku menjadi orang yang
pertama dan terakhir untuk menjagamu sampai akhir. Jika dirimu berkenan, tolong
jawab pesanku.
Dari: Ragi
Jujur
Saat itu mataku terbelalak membaca pesan darinya, mana mungkin pertemuan
sesingkat itu membuatnya jatuh hati kepadaku. Jika memang ia tulus meminangku
seharusnya tidak melalui media, jika ia mencintaiku karna kecantikanku, apakah
mungkin ia masih tetap mencintaiku dengan wajahku yang dulu?
Wa’allaikum salam…..
Ragi kesungguhan itu tidak hanya diucapkan,
tapi perlu pembuktian. Jika caramu seperti ini sama saja ini bukan suatu
keseriusan. Aku masih memiliki Ayah dan Ibu, mereka masih bertanggung jawab
atasku. Jika memang niatmu baik bukan seperti ini caramu.
Cinta itu datang bukan dari mata,
tapi dari hati. Jika kamu mencintaiku karena fisik, bagaimana jika kelak aku
semakin tua wajahku dipenuhi dengan keriput, rambutku sudah tidak lagi hitam,
mataku akan menjadi rabun, apa masih tetap kau mengatakan mencintaiku? Tidak
Ragi jika kesan pertama saja kau katakan kamu jatuh hati saat pertama melihatku,
mengapa saat SMA kamu bahkan tidak peduli terhadapku. Aku butuh lelaki yang
mencintaiku karena Allah, bukan cinta karena fisik. Aku butuh laki-laki yang
menjadi imamku membimbingku kepada sang Khalik, bukan pria yang hanya menjadi
tulung punggung mencari nafkah. Jadi maaf aku tak bisa menerima pinanganmu
kecuali atas dasar niat karena allah, bukan karena mengejar hawa nafsu.
Saat
itu tak kudapat balasan darinya, bahkan setelah 4 hari ia mengirim pesan itu ia
seakan menghilang tanpa kabar, maka semakin mantap hatiku jika ia tidak
memiliki niat yang serius terhadapku. Waktu menunjukkan pukul 20.00 aku hampir
saja melewatkan sholat isya, walau waktunya panjang tetap bagiku sholat tepat
waktu adalah yang terpenting.
Saat
kufokuskan pikiranku kepada sang Pencipta langit dan Bumi tak sengaja bibirku
mengucapkan nama lelaki itu, lelaki yang namanya ku tau dari name tag baju
petugasnya. “Subhanallah, maha suci Allah dengan segala kuasanya. Kutitipkan
satu buah nama kepada-Mu, Engkaulah yang memiliki Hak untuk menyatukan setiap
insan-Mu. Dan kepada-Mu lah aku berserah diri jaga dia untukku jika memang dia
ditakdirkan untukku, jika bukan ku percaya rencana-Mu lebih indah ya Rabb.
Siang
ini langit tampak sedikit mendung. Menghalangi sang surya memancarkan sinarnya,
hari ini waktu libur, akupun mengajak temanku Yuli untuk menghabiskan waktu di
Gramedia membeli berbagai macam Novel untuk mengisi kekosonganku. Namun saat
aku tiba di Kampung Melayu, aku berjalan kearah Koridor tujuan Ancol seorang
Pria dengan tubuh Tinggi, berkulit putih menyapaku dengan senyum terindahnya.
Ya, tak salah lagi ia Farel laki-laki yang menyimpan sejuta pesona. Lalu
kubalas kembali senyumannya, pria itu kembali menundukkan pandangannya karena
ia tau aku adalah wanita berhijab yang tidak boleh dipandang terlalu lama.
Mungkin ia tau bahwa tidak boleh menatap lawan jenis yang bukan mahramnya
terlalu lama. saat itu Busway yang menjadi tujuanku pun datang, akupun
menaikinya dan berlalu dari pandangannya.
Biarlah
cinta ini ku titipkan kepada penciptaku, Dia-lah maha Tinggi yang mengatur
setiap hati Manusia, biarkan aku tetap mencintainya dalam Diam, karena
sesungguhnya mencintaimu dalam diam seperti sedang berjihad melawan nafsu.
NB: Terinspirasi dari salah satu anak YISC Al-Azhar ( R ) yang namanya tak boleh disebutkan

Komentar
Posting Komentar
Dilarang mengcopy, karena Blog ini dilengkapi dengan pendeteksi pengaman
terima kasih telah berkunjung pada situs Blog ini.