Langsung ke konten utama

RAHASIA TENTANGMU (Part II)


Tanggal 15 Januari musim kemarau, saat duduk diteras. Masih terbayang bagiku wajah tirus Resya dengan kaca matanya, serta kursi roda yang berusaha ia bawa. Wajahnya tampak sedih, tidak terlukis kegembiraan di raut wajahnya. Yang ada hanya goresan luka yang tergambar jelas dibola matanya.
aku langsung berdiri berjalan kedalam kamar, kubuka lemari. lalu kuambil pakaian yang merasa cocok ditubuhku. Tidak beberapa lama taksi kemudian berhenti tepat didepanku dan aku segera naik, menuju rumah Resya. Sampai disana tak terlihat aktifitas didalamnya, rumah dengan bercet putih serta pagar yang menjulang tinggi dengan hiasan bunga mawar yang indah bermekaran menambah keelokkan rumah itu. Resya sangat menyukai tanaman apa lagi bunga Mawar, persis seperti Almarhum Ibunya. Teringat bagiku saat –saat bertemu ia selalu memberikanku bungan mawar, yang ternyata selalu ia petik dari halaman rumahnya. Namun mawar berwarna putih yang ia ceritakan menggambarkan kasih sayang ibunya, terlihat mati.
Rumah itu tampak sepi, sejak lima tahun kepergianku ke Jepang, ini pertama kalinya aku menapaki daerah tempat Resya tinggal. Rumah dengan panorama indah. Ditumbuhi dengan berbagai tanaman, namun kini menjadi gersang dan mati. Hanya bunga mawar berwarna merah yang tumbuh dihalaman itu, bahkan terlihat ditengah-tengah bunga mawar itu, terselip satu bunga mawar berwarna hitam.
Kupencet bel rumah itu berulang kali, tak ada satupun yang menjawab. Namun saat aku akan pergi tiba-tiba seorang wanita setengah baya keluar dari rumah itu, dan berjalan menghampiriku.
“Maaf cari siapa ya Neng?” tanya wanita itu padaku.
“Mau cari Resya Bu, Resyanya ada?” Tanyaku padanya.
“Den Resya? Den Rasya kali Non.”
“Bukan Bu tapi Resya. Pake E.”
“Tapi yang tinggal dirumah ini Den Rasya.”
Mungkin aku kira hanya berbeda satu huruf saja, kuanggap Ibu yang bekerja dirumah Resya terbiasa memanggil Rasya, lagi pula tampaknya Ibu itu baru. Biasanya Bi Imah yang selalu membukakan pagar setiap kali aku berkunjung.
“Terserah Ibu. Aku bisa bertemu dengannya?”
“Den Rasya sedang Cek-up, mungkin nanti jam tiga sore baru pulang.”
“Oh begitu, aku bisa menunggunya di Teras?”
“Boleh silahkan Non.”
Ibu itu membukakan pagarnya dan mempersilahkan aku masuk. Benar sesampaiku dihalaman Rumah itu tidak terlihat lagi keasrian rumahnya, padahal dulu aku sangat mengagumi Rumah Resya, bahkan Rasanya jika bertandang aku selalu menghabiskan waktu ditaman menikmati kesegaran tanaman serta pepohonan yang rindang dan indah. Namun kini tanaman itu banyak yang mati seperti perasaan Resya yang kulihat dua minggu yang lalu ditaman tempat kita bertemu.
Saat sedang asik menyirami beberapa Tanaman yang layu, namun tiba-tiba sebuah mobil berwarna hitam masuk dan memarkirkan mobilnya digarasi, sebuah pria tinggi besar yang kulihat ditaman dua minggu lalu berlari membuka bagasi mobil dan mengeluarkan kursi roda, lalu ia membantu pria yang ada didalam mobil itu untuk duduk diatas kursi Roda. Benar itu adalah Resya pria yang pernah singgah dihatiku, bahkan hingga kini.
Kemudian Resya berjalan kearahku dengan dibantu oleh pria besar itu menghampiriku. Matanya menyipit dan seperti mengingat sesuatu namun tampaknya ia tidak berhasil untuk mengingatnya. Lalu ia pergi meningggalkanku, dengan meminta bantuan pria besar itu untuk mendorongnya masuk kedalam. Aku tampak kaget dan tidak mengerti mengapa Resya seperti itu kepadaku, ia bahkan tidak menegurku walau hanya sebatas Hai.
“Kamu sudah berubah Res.” Teriakku menghentikannya.
Lalu Resya menyuruh pria besar itu pergi meninggalkannya, kini hanya ada aku dan Resya disana. Kami membisu, yang terdengar hanya bisikan angin yang semilir mengibarkan rambutku. Resya memutar bali kursi rodanya, dan mendekat kepadaku.
“Kamu mengenaliku? Aku kira kamu sedang ada keperluan dengan Ayah. Oh ya, aku baru ingat. kamu wanita yang pernah bertemu denganku di Tamankan. Yang tiba-tiba memanggil aku Resya, aku pacarmu lalu kamu mendramatisir dan tiba-tiba menjadi melow.”
Aku hanya terdiam terpaku dengan semua kata-kata yang dilontarkan Resya padaku. Apa maksud semua ini? jika memang ia tidak ingin mengenaliku lagi, itu tidak masalah bagiku. tapi mengapa ia begitu mudah melupakan semuanya, tentang kita. Tentang kenangan dan kesetiaan. serta dongeng-dongeng yang baru akan aku bangun kembali. Padahal aku kembali deminya, demi kesetiaan yang aku janjikan. Namun Resya membuat hatiku hancur berkeping-keping.
“Res, semudah itukah kamu melupakanku? Mana kesetiaan yang kamu janjikan? Kamu bahkan pernah bilang akan membantu aku membangun dongeng-dongeng indah bersamaku. Jahat kamu Res.”
Resya hanya terdiam seakan tidak mengerti, lalu ia memanggil pria besar itu dan menyuruhku untuk pergi. Hatiku terasa hancur melihat perlakuan Resya padaku. Apakah ia hilang ingatan sehingga lupa tentangku, tentang janji kita.
“Mba maaf kata Den Rasya mba disuruh pergi.”
“Tapi pak saya mau bicara dengan Resya.”
Pria besar itu terus menyuruhku pergi, namun tiba-tiba Resya berhenti kemudian kembali menghampiriku.
“sebentar, sepertinya saya baru ingat. Mari masuk.”
Resya mempersilahkan aku masuk kerumahnya. Lalu menyuruhku duduk. Kulihat disekeliling ruang tamu itu tampak tidak ada yang berubah semuanya masih sama. Hanya saja ada yang aneh sebuah foto besar, foto keluarga yang belum pernah aku lihat. Difoto itu seperti ayah Resya, dan Almarhumah Ibunya yang pernah ia perlihatkan. Namun ada yang terasa aneh difoto itu tampak dua orang laki-laki dengan jas berwarna hitam dengan senyuman manis seperti tersenyum kepadaku, lelaki itu berwajah sama. “Resya” ternyata selama ini ia memiliki kembaran. Yang tidak pernah diceritakan kepadaku.
Aku tertunduk malu saat menatap foto itu, lalu aku kembali duduk menghampiri Rasya.
“Jadi kalian kembar? Maaf aku kira kamu Resya.”
“Ya tidak apa-apa. Aku baru ingat sekarang. Maaf sejak kecelakaan tiga tahun yang lalu ingatanku tidak stabil. Kadang ingat, nanti tiba-tiba lupa lagi.”
“Tapi Resya tidak pernah cerita padaku tentang saudara kembarnya.”
“Karena kami tidak ingin dikatakan kembar. Selama ini aku berobat diluar negri jadi memang tidak pernah pulang ke Indonesia, ini pertama kalinya aku kembali ke Indonesia. Sebelum Resya pergi dia menceritakan banyak tentangmu. Dia bilang kamu hobi sekali mendongeng kadang membuatnya geli dan rindu.”
Aku menangis mendengar kata-kata yang terlontar dari bibir saudara kembarnya, ada rasa bahagia karena Resya masih mencintaiku.
“Lalu dimana Resya?”
Rasya hanya terdiam, lalu menatap wajahku dalam-dalam. Seakan tidak ingin mengecewakanku.
“Rein maaf aku baru mengatakannya sekarang, sebenarnya sudah jauh-jauh hari aku ingin menemuimu. Namun dengan kondisi aku sering lupa. Membuat aku tidak mengingat apa-apa tentang cerita Resya dan kamu. Lima tahun yang lalu saat kepergianmu ke Jepang, Resya menyusulmu ke bandara. Namun diperjalanan sebuah mobil menabraknya dari belakang, sehingga membalikan mobilnya. Tidak beberapa lama sebelum dilarikan ke Rumah sakit resya menghembuskan nafasnya. Asal kamu tau Resya masih ingat janji kalian tentang kesetiaan yang kalian  ucapkan. Jadi aku mohon jangan anggap Resya jahat apa lagi penghianat.”

Saat itu badanku terasa lemas, nadiku seakan berhenti. Berita itu seakan mengguncang batinku. Seharusnya aku mengetahuinya lebih awal. Namun takdir berkata lain. Pria yang pernah ada dihidupku kini benar-benar hanya menjadi dongeng. Dongeng yang tidak akan mungkin hidup kembali. Pantas bunga mawar yang kulihat berwarna hitam tadi seperti memberitahuku bahwa pemiliknya telah tiada, mawar itu seakan ingin memberitahuku bahwa resya tetap akan tumbuh dihatiku diantara ribuan bunga yang berkembang. Semoga kamu damai disana Res dari Rein yang akan selalu tumbuh bersama pelangi.
NB: Terima kasih sudah mau mampir :D

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Minuman sehat Untuk Kita yang Syar’i

Berhijab syar’i bukan menjadi suatu hambatan bagi kita untuk menjalankan suatu aktifitas. Hanya karena kita tidak PD (Percaya Diri) dengan apa yang kita kenakan. Karena merasa kita berbeda dengan yang lainnya. Jangan jadikan syar’imu menghambat karir dan dirimu untuk berkarya. Banyak perusahan yang mau menerima karya dan ilmumu, tak sedikit wanita berhijab syar’i bisa sukses dan jaya bahkan bisa menembus dunia luar. Semua tergantung cara pandang dan berfikirmu. Lakukan yang terbaik, kepakkan sayapmu dan katakan pada dunia bahwa kamu juga bisa seperti mereka. Dulu saya menghabisi banyak waktu untuk kegiatan dengan bekerja di salah satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang otomotif, malam harinya saya harus kuliah, di tambah sabtu minggu saya harus latihan teater, bergabung bersama komunitas Film pendek, pengajian di YISC Al Azhar ditambah harus menyelesaikan naskah, itu semua tidak menghambat saya untuk tetap syar’i. Kalau sudah begitu, sangat penting bagi kita ...

CUKUP MENGAGUMIMU DALAM DO’A

CUKUP MENGAGUMIMU DALAM DO’A (jika dalam raga tak mampu memilikimu, maka dengan do’a aku merasa memilikimu) senja menyapa malam, sisa hujan tadi sore membuatku menelusuri lorong waktu. Detak jam tak seirama dengan suara rintikan hujan, namun dapat memadukan irama yang indah jika didengar dengan penuh cinta. Kenyataan tadi siang telah jauh menghantamku ketebing jurang tertinggi, senyum yang dulu aku harapkan, kini seakan menjadi neraka yang tak ingin aku lihat. jika kuingat kembali kejadian itu, aku hanya ingin meminta kepada tuhan, kenapa harus dirimu orang yang pertama aku cintai? Mengapa harus dirimu orang yang pertama mengisi hatiku? Ya seperti itulah kenyataannya. Kuingat kembali saat pertemuan kita digerbang sekolah, kau berjalan melewatiku dengan aroma wangi tubuhmu, senyumanmu yang memukau membuat seluruh wanita memandangmu. Namun sayangnya senyumanmu itu bukan untukku, tapi untuk wanita yang sedang berdiri anggun didepan taman sambil melambaikan tangann...

KINARA DI UJUNG SENJA PART 2

MALAM itu langkah kaki yang tidak menyisahkan suara, mencekik pernafasannya berulang kali. Sebuah nama yang terngiang jelas di benaknya. Sebuah nama yang tak ingin ia dengar, dan nama itu telah ia kubur dalam-dalam hingga tak membekas sedikitpun dalam memorinya. “Amara dan Ronald bagaimana keadannya sekarang?” Kenny melirik Omanya, ada rasa sesak membuncahkan rasa sakit teramat dalam. Ia kemudian membuang pandang dengan mata yang mulai memerah dan berair. “Oma jangan pernah sebut nama itu di depan saya. Rasanya mendengar namanya saja, membuat saya tak bisa bernafas.” Ucapnya menahan amarah, dengan gigi yang mengeram seakan ia merasakan darahnya berdesir. “Baiklah Oma mengerti.” Ke duanya terdiam. Hening, tak menimbulkan suara. Eva melirik sekilas ke arah Kenny, setelah memastikan cucunya sudah sedikit tenang. Ia kemudian meminta Kenny, untuk memanggil Nara di Pavillion. Mengingat hari ini hari libur, tentunya gadis itu akan sangat bosan, setelah seharian sejak ...