Aku terus berputar seperti jarum jam, yang tidak tau dimana titik hentinya. Yang ku tau jika aku berhenti tak kudapatkan seberkas keindahan yang masih tersisa di dalam hatimu. Maka semua akan berlalu begitu saja, kemudian menghilang bersama gelembung. Yang tersisa hanya kenangan kita di masa lalu. Ini bukan lagi tentang aku atau kamu, tapi tentang kesetiaan yang terkikis oleh waktu.
Namaku Reina, aku wanita yang masih percaya akan adanya kesetiaan. Aku menunggunya dipersimpangan jalan, dekat Taman dibawah pohon ketapang kencana. Pohon yang sangat rindang untuk menunggumu seperti saat-saat pertama kita jumpa.
Aku seperti wanita yang naif, berharap kamu masih memiliki perasaan yang sama seperti dulu. Aku bermimpi bahwa kau datang ketempat ini, tempat dimana waktu itu kita berdiri dibawah pohon ketapang kencana. Disini pula terakhir kalinya kuucapkan kata perpisahan. Dimana saat itu aku harus pergi meninggalkanmu, namun membawa kenangan kita pergi bersama denganku.
“Res, aku harus pergi ke Jepang ikut dengan kedua orang tuaku. Tapi aku janji, aku akan kembali untukmu.” Menyakinkan Resya
“Bagaimana bisa kamu menyakini diri
kamu, kalau kamu akan kembali untukku? Lelaki disitu banyak yang tampan dan
mampan, aku tidak yakin jika kamu tidak tergoda dengan mereka.”
“Munafik jika wanita seperti aku
tidak tergoda oleh pria tampan. Tapi aku selalu memegang janji kita untuk
saling percaya satu sama lain. Itu janjiku padamu.”
“Rein aku takut jika aku tidak bisa
menunggumu. 5 tahun waktu yang sangat lama, seseorang tidak akan bisa bertahan
dengan hubungan jarak jauh.”
“Tapi aku bisa Resya, sekarang zaman
sudah canggih kita bisa menggunakan internet, tlp, video call. Mana kesetiaan
yang pernah kamu janjikan ke aku? Aku butuh bukti Res.”
“Kesetiaan itu jika kita bersama,
saat itu aku akan terus menjagamu. Dan tak akan ku biarkan kamu ragu terhadap
cintaku.”
“Tidak Res, kesetiaan itu terjadi
ketika dua
orang saling mencintai diberi ujian, saat ia di pisahkan oleh orang yang ia
cintai. Apakah ia bisa bertahan, atau mungkin ia akan berpaling.”
Akupun pergi meninggalkan Resya yang
masih terpaku dengan kebimbangan yang mengelayuti pikirannya.
Kejadiaan itu sudah 5 tahun sejak ku tinggalkan ia ke Jepang. Hingga kini belum ku dengar kabar tentang dirinya. Andai ia tau aku telah menepati janjiku kepadanya tentang kesetiaan yang pernah kita ucapkan dibawah pohon Ketapang kencana ini. Dimana kesetiaan adalah kunci dari sebuah hubungan. Namun hingga kini aku masih terlalu naif, berharap ia melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan. Padahal saat itu sudah jelas jika Resya tidak bisa menungguku.
Kejadiaan itu sudah 5 tahun sejak ku tinggalkan ia ke Jepang. Hingga kini belum ku dengar kabar tentang dirinya. Andai ia tau aku telah menepati janjiku kepadanya tentang kesetiaan yang pernah kita ucapkan dibawah pohon Ketapang kencana ini. Dimana kesetiaan adalah kunci dari sebuah hubungan. Namun hingga kini aku masih terlalu naif, berharap ia melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan. Padahal saat itu sudah jelas jika Resya tidak bisa menungguku.
***
Keesokan harinya, aku kembali lagi
ke Taman. Seperti biasa aku
selalu berdiri dibawah pohon ketapang kencana menghadap kesungai, aku terduduk
dibawahnya sambil mengenang setiap detik-detik ku bersama Resya. Sebuah
kenangan yang tak terlupakan, kenangan yang masih kubawa hingga kini.
Mataku tertuju pada sebuah tulisan
yang tertulis pada batu besar dipinggir sungai, ada goresan tip-x, ku hampiri
tulisan itu dan semakin aku lihat aku mengenalnya.
Hai..sayang, semoga kamu sehat disana. Aku sayang kamu.
Jangan sakit ya?maaf sudah membuatmu ragu tentang kesetianku, aku menunggumu. Cepat kembali..Resya J
Sontak kakiku menjadi lemas, pikiranku melayang. Entah apa yang sedang aku pikirkan, Tapi ini seperti keajaiban untukku. Ini benar-benar dari Resya, tapi mengapa ia tidak jujur jika ia masih menungguku? Kenapa ia harus berbohong tentang semuannya? Tapi aku bahagia jika Resya masih menungguku.
Sontak kakiku menjadi lemas, pikiranku melayang. Entah apa yang sedang aku pikirkan, Tapi ini seperti keajaiban untukku. Ini benar-benar dari Resya, tapi mengapa ia tidak jujur jika ia masih menungguku? Kenapa ia harus berbohong tentang semuannya? Tapi aku bahagia jika Resya masih menungguku.
***
Sebentar lagi matahari akan
tenggelam, burung-burung berterbangan untuk pulang kesarangnya, langit berubah
kemerahan jalanan disekitar taman mulai sepi. Terdengar suara jangkrik saling
bersahutan, suara gemericik air sungai yang mengalir. Akupun berdiri dan segera
meninggalkan Taman
itu.
Namun saat aku mulai melangkah,
tiba-tiba kakiku terhenti ketika dua bola mataku tertuju kepada seorang pria
yang sedang berusaha memutar kursi rodanya dengan tangannya. Saat itu aku kaget
setengah mati, aku masih mematung seperti tak percaya. Ya, aku mengenali pria
itu.
“Resya, tapi kenapa menggunakan
kursi roda.” Ucapku dalam hati
Aku
lalu menghampirinya, Resya sangat kaget melihatku berdiri didepannya. Saat ku
sapa dirinya, ia segera memutar kursi rodanya dan berusaha menghindariku. Namun
tiba-tiba tanganku berusaha menghentikan Resya.
“Res…. Ini aku Reina. Rein pacar
kamu. Aku sudah kembali Res….aku udah tepati
janji aku untuk terus setia, dan kembali ke kamu. Kamu apa kabar?”
Resya tidak mau menjawab
pertanyaanku, bahkan melihat wajahku saja tidak mau. Ia berusaha menghindariku
dan menjauh dariku. Tiba-tiba tangannya mencoba untuk melepaskan tanganku dari
kursi rodanya. Saat itu aku langsung kaget, tidak percaya mengapa Resya seperti
itu kepadaku. Padahal aku sangat merindukannya.
“Res….Resya.” panggil ku berulang
kali, namun ia tetap tidak memperdulikanku. Tangannya terus memutar roda dengan
sekuat tenaga agar menjauh dariku. Saat aku berjalan mengikutinya dari belakang
tiba-tiba seorang laki-laki bertubuh besar membantunya untuk naik ke dalam
mobil. Dalam sekejap mobil itu melaju jauh semakin jauh hingga tidak ku dengar
lagi suara mobilnya.
Tubuhku masih lemas saat ku tahu
kenyataannya, bukan kenyataan ia menggunakan kursi roda. Tapi kenyataan jika ia
membenciku. Rasanya membuat aku tidak bisa bernafas, kesetiaan yang telah aku
janjikan semua tampak sia-sia. Apa yang membuat Resya seperti itu? jika memang
ia malu, bukankah cinta tidak memandang fisik? Tapi mengapa Resya
menghindariku. Harusnya ia tau jika aku masih tetap mencintainya dengan
perasaan yang sama.
***
Kelanjutannya “RAHASIA TENTANGMU PART
II”

Komentar
Posting Komentar
Dilarang mengcopy, karena Blog ini dilengkapi dengan pendeteksi pengaman
terima kasih telah berkunjung pada situs Blog ini.