Langsung ke konten utama

Love story

Love story

Kisah ini antara kau dan aku, cerita yang tak pernah tersampaikan. Cerita ini teramat dalam dan panjang sampai akhirnya tiada ujung. Apakah aku dan kamu akan bersatu? Atau bahkan bumi menolak kita? Tapi pada akhirnya kisah kita hanya sebuah cerita, aku dan kamu memang tak akan pernah bersatu meski aku berusaha bertahan, namun takdirnya berkata lain. Sampai kapan cinta ini akan terpendam?
***

Kupandangi bingkai foto yang terpajang didinding kamarku, sudah kusam dan penuh debu, gambar itu tersenyum indah menatap bola mataku, seakan hidup dan berkomunikasi denganku.

Bukan sebuah gambar yang indah, atau mempesona. Itu hanya sebuah foto terakhirmu yang kudapat dari Risa 6 tahun yang lalu saat perpisahaan SMA. Yang diam-diam aku meminta padanya untuk mengambil dimeja belajarnya setelah UN selesai. foto yang berukuran 3x4 aku perbesar dan kubingkai agar wajahmu terlihat jelas saat kupandang. Walau berwarna hitam putih namun bagiku itu penuh dengan warna. Karna aku tau aku salah satu wanita yang menjadi penggemarnya dari puluhan penggemarnya yang lain.

Pria itu tidak begitu pintar, artispun bukan. Namun kharisma dan wajahnya mampu membius semua wanita yang berada disekolah, dia juga salah satu pemain basket terbaik di SMA ku. Dia memiliki daya tarik tersendiri yang membuat setiap wanita bertekuk lutut tak terkecuali aku. Jika wanita lain dengan terang-terangan mengatakan cinta, maka aku hanya dengan diam menyukainya.

Kenangan itu masih teringat jelas dimana kamu berdiri dihadapanku tepat di depan kantin kau menumpahkan semangkuk Mie Instan, pada rok abu-abuku, namun dengan panik dirimu meminta maaf denganku sambil membantu membersihkan bekas tumpahannya, saat itu semua mata tertuju padaku, ya mata para penggemarmu yang seolah ingin menikamku.

Kini sudah 3 tahun cerita itu masih saja kuingat setiap kali ku pandangi fotomu, ku dengar kini kau pergi jauh ketempat dimana itu menjadi impianmu, Paris adalah tempat pertama yang ingin kau kunjungi, semua tentangmu kudapatkan dari Facebookmu, hanya mengetahui kabarmu disana sudah membuatku bahagia.

Sudah pukul 22.00 malam biasanya jam seperti ini aku sudah siap di atas tempat tidur, untuk merebahkan tubuhku dari lelahnya seharian bekerja ditambah aku harus kuliah, untung mata kuliah hari ini libur, jadi setidaknya waktu luang istirahatku agak lebih panjang.

Saat aku hendak mematikan laptop di atas meja belajarku, facebook yang masih terbuka kupandangi, saat ada sebuah pesan masuk. Tiba-tiba hatiku berdebar kencang, sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Aku sontak kaget dan seakan bola mataku hampir keluar saat terpampang namamu dipesan itu.
Juan : hai, kamu lulusan dari SMAN 4 ya?

Akupun menjadi kaget, senang semua bercampur aduk menjadi satu, ya dia Juan seseorang yang hanya bisa kulihat dari kejauhan, dan orang yang bisa ku ajak bicara melalui Foto. namun kini seperti keajaiban untukku kau hadir diwaktu yang tepat, disaat aku benar-benar sedang merindukanmu.
Shania: iya benar, kamu Juan kan?
Juan: yup, benar sekali. Apa kabarnya? Udah malam ko belum tidur?
Shania : iya ni, belum ngantuk. Kamu sendiri belum tidur?
Juan: kamu itu cewek yang pernah aku tumpahin kuah mie ke Rok nya ya? Maav ya untuk kejadiaan yang dulu?
Shania: masih inget aja, ya gak apa-apa ko.
Juan: oh ya namaku kamu Shani ya?

Saat pertama kalinya dia menanyakan namaku itu merupakan sebuah anugerah terindah, dari sekian banyak nama setidaknya ia masih mengingat namaku.
Shania: benar, dengar-dengar kamu lagi di Paris ya?
Juan: iya, tau dari mana? Pasti Risa.
Shania: Risa! Kamu kenal Risa? Gak lah, itu statusmu.
Juan: ya jelas kenal lah diakan sepupuku.... J

Saat itu aku benar-benar mendapat kiriman Bom yang sangat besar, badanku menjadi lemas, tidak habis pikir mengapa Risa selama ini mencoba menyembunyikan tentang hubungannya dengan Juan, Apa lagi dia tau kalau aku menyukai Juan. Bahkan kini semenjak lulus tak pernah lagi kudengar kabarnya.
Shania: sepupu! Tapi Risa gak pernah cerita padaku.
Juan: ya begitulah Risa orangnya cuek dan gak peduli apapun yang ada disekitarnya. Apa lagi yang berhubungan dengan masalah ku. Dia satu-satunya orang yang gak mau tau tentang aku, karna waktu SMP teman-temannya banyak minta tolong kepadanya untuk minta dicomblangin sama aku setelah mereka tau kalau aku dan Risa sepupuan. Jadi saat SMA dia berusaha menyembunyikannya.
Shania: apa jangan-jangan Risa juga pernah cerita tentangku?
Juan: iya aku tau semua tentangmu dari Risa, makanya aku memberanikan diri untuk memulai percakapan ini.

Setelah kudengar penjelasan Juan panjang lebar membuatku kaget setengah mati, namun membuatku sedikit merasa lega. Namun ada satu kepastian yang belum kudapat untuk apa ia menghubungiku?
Juan: Shania terima kasih untuk rasa yang masih kau simpan sampai kini untukku, itu sebuah penghargaan terbesar bagiku. Aku berharap bisa selalu berteman denganmu dalam keadaan apapun. Menjadi temanmu adalah hadiah terindah untukku.

Pesan itu membuatku serasa ingin menangis, namun apa yang membuatku menangis. Aku tidak punya hak atas dirinya. Bisa berteman denganku apa maksudnya, apa mungkin ia tidak akan pernah bisa mencintaiku? Hanya ingin menjadi temanku, apakah itu sebuah penolakan yang teramat menyakitkan untukku. Jika hanya mengecewakanku untuk apa kau hadir setelah 6 tahun menghilang. Lebih baik tak ku dengar kabar darimu jika pada akhirnya menjadi luka seperti ini.
Shania: ya sampai kapanpun kita akan tetap menjadi teman. Terima kasih atas niat baikmu.

Hatiku serasa ingin menangis namun untuk siapa? Untuk apa? Pada kenyataanya dia hanya ingin berteman denganku. Air mataku tak bisa terbendung lagi berlahan roboh membentuk aliran sungai kecil di pipiku. Saat ku hendak meng logout sebuah pesan terakhir dari Juan, kali ini benar-benar mengguncang batinku. bertahun-tahun mencintainya dalam diam, namun kepahitan yang aku rasakan. Ada kenyatan yang teramat sakit namun harus kuikhlaskan semuanya.
Juan: minggu depan aku balik ke indonesia, karna pada tanggal 5 Maret 2014 aku akan menikah dengan Rena alumni SMAN 4  mungkin kamu mengenalnya? Aku harap kamu bisa hadir. Aku tunggu kedatanganmu.

Rena teman sebangkuku mana mungkin ia bisa bersama Juan? Padahal ia tau kalau aku menyukai Juan, tapi mengapa harus wanita itu? Mengapa bukan wanita lain, batinku menjerit tak kuasa aku membalas pesannya. Akupun meng logout dan membiarkan tidak membalas pesannya.

Sabtu, 5 Maret 2014 tepat dimana lelaki yang pernah aku cintai menikah dengan Rena sahabatku tepat di depan mataku. Namun lagi-lagi hanya keikhlasan yang kudapat. Setelah seminggu pernikahannya akupun bertemu dengan Venus kakak kelasku saat di Universitas dulu, ia mantan ketua senat yang diam-diam pernah menyimpan perasaan padaku. Tepat sebulan setelah pertemuan itu kami menjadi dekat ia selalu mengajaku bertemu dengan teman-temannya, hubungan kami berjalan begitu saja layaknya sebagai seorang Sahabat, karna ia tau jika aku tidak pernah menginginkan pacaran. Karena ia tau aku adalah wanita yang sulit untuk diajak pergi, ia pun selalu mengajak sepupu wanitanya untuk bertemu denganku agar terhindar dari Fitnah dan dosa. Sebulan pertemanan kami, ka Venus memberanikan diri mengajakku untuk bertemu dengan keluarganya, alhamdulillah mereka menerimaku dengan tangan terbuka. Dan dua hari setelah itu keluarga ka Venus datang untuk mengkhitbahku saat itu air mataku benar-benar tumpah dan tak kuasa aku menahannya.

Mungkin inilah balasan yang Tuhan kirim untukku atas setiap penantianku yang tertunda, atas segala keikhlasanku selama ini. Tuhan mempertemukanku dengan laki-laki yang jauh lebih baik dari pada Juan, karna pada dasarnya Tuhan selalu tau apa yang terbaik untuk umatnya, jika bagi kita baik belum tentu bagi- Nya baik, maka bersabar dan berserah kepada yang Maha Kuasa adalah yang terbaik. Dan kini semua itu telah terbukti padaku dengan rasa yang berbeda, waktu yang singkat, kisah ini, kisah dimana aku mulai mencintai ka Venus dengan cara lain namun menjadikannya indah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Minuman sehat Untuk Kita yang Syar’i

Berhijab syar’i bukan menjadi suatu hambatan bagi kita untuk menjalankan suatu aktifitas. Hanya karena kita tidak PD (Percaya Diri) dengan apa yang kita kenakan. Karena merasa kita berbeda dengan yang lainnya. Jangan jadikan syar’imu menghambat karir dan dirimu untuk berkarya. Banyak perusahan yang mau menerima karya dan ilmumu, tak sedikit wanita berhijab syar’i bisa sukses dan jaya bahkan bisa menembus dunia luar. Semua tergantung cara pandang dan berfikirmu. Lakukan yang terbaik, kepakkan sayapmu dan katakan pada dunia bahwa kamu juga bisa seperti mereka. Dulu saya menghabisi banyak waktu untuk kegiatan dengan bekerja di salah satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang otomotif, malam harinya saya harus kuliah, di tambah sabtu minggu saya harus latihan teater, bergabung bersama komunitas Film pendek, pengajian di YISC Al Azhar ditambah harus menyelesaikan naskah, itu semua tidak menghambat saya untuk tetap syar’i. Kalau sudah begitu, sangat penting bagi kita ...

CUKUP MENGAGUMIMU DALAM DO’A

CUKUP MENGAGUMIMU DALAM DO’A (jika dalam raga tak mampu memilikimu, maka dengan do’a aku merasa memilikimu) senja menyapa malam, sisa hujan tadi sore membuatku menelusuri lorong waktu. Detak jam tak seirama dengan suara rintikan hujan, namun dapat memadukan irama yang indah jika didengar dengan penuh cinta. Kenyataan tadi siang telah jauh menghantamku ketebing jurang tertinggi, senyum yang dulu aku harapkan, kini seakan menjadi neraka yang tak ingin aku lihat. jika kuingat kembali kejadian itu, aku hanya ingin meminta kepada tuhan, kenapa harus dirimu orang yang pertama aku cintai? Mengapa harus dirimu orang yang pertama mengisi hatiku? Ya seperti itulah kenyataannya. Kuingat kembali saat pertemuan kita digerbang sekolah, kau berjalan melewatiku dengan aroma wangi tubuhmu, senyumanmu yang memukau membuat seluruh wanita memandangmu. Namun sayangnya senyumanmu itu bukan untukku, tapi untuk wanita yang sedang berdiri anggun didepan taman sambil melambaikan tangann...

KINARA DI UJUNG SENJA PART 2

MALAM itu langkah kaki yang tidak menyisahkan suara, mencekik pernafasannya berulang kali. Sebuah nama yang terngiang jelas di benaknya. Sebuah nama yang tak ingin ia dengar, dan nama itu telah ia kubur dalam-dalam hingga tak membekas sedikitpun dalam memorinya. “Amara dan Ronald bagaimana keadannya sekarang?” Kenny melirik Omanya, ada rasa sesak membuncahkan rasa sakit teramat dalam. Ia kemudian membuang pandang dengan mata yang mulai memerah dan berair. “Oma jangan pernah sebut nama itu di depan saya. Rasanya mendengar namanya saja, membuat saya tak bisa bernafas.” Ucapnya menahan amarah, dengan gigi yang mengeram seakan ia merasakan darahnya berdesir. “Baiklah Oma mengerti.” Ke duanya terdiam. Hening, tak menimbulkan suara. Eva melirik sekilas ke arah Kenny, setelah memastikan cucunya sudah sedikit tenang. Ia kemudian meminta Kenny, untuk memanggil Nara di Pavillion. Mengingat hari ini hari libur, tentunya gadis itu akan sangat bosan, setelah seharian sejak ...