Langsung ke konten utama

KINARA DI UJUNG SENJA PART 3


“Maafkan Nara, Kenny! Nara tidak sengaja.” Ucapnya ketakutan.
“Kamu itu seperti gelembung di tengah lautan, yang tidak berarti apa-apa dalam hidup saya. Bahkan lumut yang menjijikan saja bagi saya, lebih berharga di bandingkan denganmu.” Ucapnya dengan amarah yang berkobar, seakan matanya saat itu sedang mengincar mangsa.
“Lalu mengapa Kenny, menyelamatkan hidup Nara saat itu?” Ucapnya dalam tangis.
“Dan itu adalah kesalahan dalam hidup saya!” Teriaknya, menyentakkan Pak Ogah yang masih berada di sana.
Nara berlari menuju Pavillion, saat itu hatinya hancur. Gadis polos dan lugu, bahkan hidupnya yang selalu penuh warna, seketika warna itu pudar. Bayangan masa lalu kembali menyelinap masuk, dan mengusik tidurnya. Warna–warni itu menyeretnya ke dalam warna hitam dan putih, sebuah kehidupan yang sudah ia tutup rapat, kini mengelupas membuka luka lama yang belum mengering.
Sementara Kenny melempar gitar yang ada di pangkuannya, ia berdebat dengan dirinya sendiri dengan apa yang ia alami selama ini. Rasa lelah membuatnya ingin membrontak, namun ia tak bisa, ada janji yang sedang ia pertahankan kepada seseorang yang raganya sudah tak bisa ia sentuh. Pertama kalinya, Kenny meluapkan segala kekesalannya dengan membanting gitar kesayangannya, hingga terbelah dua.
“Mengapa kau tak lenyap saja dalam hidupku! Aku letih, letih untuk semua kehidupan ini. biarkan sekali ini aku lepas dari belengu yang mengikatku.” Ucapnya menyenderkan tubuhnya di kasur, dengan tangan kanannya menutup matanya, beberapa saat matanya terpejam.
Gadis itu sejak kecil hobi sekali melukis, bahkan saat SD dan SMP Nara selalu menjuarai lomba melukis. Jadi tak heran jika ia bisa meniru semua bentuk lukisan. Termasuk lukisan yang di pajang di ruang tengah dengan bingkai kaca, yang ia pecahkan tadi. Sebenarnya lukisan itu tidak terlalu rusak, hanya sedikit koyak karena pecahan kaca. Namun Nara harus tetap bertanggung jawab dengan apa yang telah ia perbuat.
Nara mengeluarkan kuas dan alat perlengkapannya dari tas, tangannya mulai menari-nari. Lincah tangannya memegang kuas membuat Bi Ela terkagum-kagum dengannya.
“Wah Non Nara pintar sekali melukis?” Ucap Bi Ela.
“Hahah Bibi, Nara hanya hobi saja. Bibi mau Nara Lukis?” Ucapnya tersenyum.
“Beneran Non?”
“Iya.” Ucapnya mengangguk dengan senyuman termanisnya.
Bi Ela berjalan ke arah Nara, kemudian memeluk tubuh mungil gadis itu. Air matannya mengalir, sambil menatap puncak kepala Nara. Sementara gadis itu hanya diam, ia seakan menikmati pelukan hangat dari seorang Ibu. Sesekali memejamkan matanya, seakan ia sedang memeluk Mamanya.
“Bagaimana Oma tidak sayang denganmu Non. Kamu mudah sekali mengemas hatimu, baru saja hatimu hancur oleh amarah Den Kenny, beberapa saat kemudian kamu kembali tersenyum. Beruntungnya orang tua yang telah melahirkanmu.” Ucapnya mengecup puncak kepala Nara.
“Bi…Bi..” Ucapnya terbatuk-batuk.
“Kenapa Non?”
“Nara tidak bisa nafas, pelukan Bibi terlalu kencang?” Ucapnya melonggarkan tangan Bi Ela dari lehernya.
Seketika gelak tawa pecah, dari Pavillion tempat Nara tinggal. Kenny yang dari dapur mengambil air putih. Tampak marah, ketika pekikkan tawa terdengar di telingannya. Pria itu kemudian berjalan ke arah Pavillion.
“Kamu baru saja merusak lukisan yang ada di rumah saya, dan sekarang kamu tertawa seakan tidak terjadi apa-apa. Kamu tau, dengan kamu merusak lukisan itu, sama saja kamu telah menghancurkan hidup saja. Seperti ini, Lihat!” Ucapnya dari luar, kemudian melempar gelas yang ada di tangannya, hingga pecah berkeping-keping.
Nara yang menyaksikan itu, menutup telingannya. Tanpa ia sadari setitik air mata menyelinap keluar. Ia kemudian masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kamarnya.
“Itulah hati saya saat ini!” Teriaknya dari luar, kemudian berlalu pergi.
Hati keras Kenny tak akan pernah ada yang bisa menaklukkannya, kecuali Oma dan Clara. Hanya dua wanita hebat itu yang bisa membuat hati Kenny sedikit lebih tenang. Kenny bagaikan banteng yang akan menabrak apapun yang ada dihadapannya, hati keras yang telah membatu sangat sulit untuk di runtuhkan.
Sehabis pulang sekolah ia menghabiskan waktunya bermeditasi dengan segala imajinasinya. Membentuk dunia hayalan dengan keindahan yang ia dambakan, sehingga helaian harapan dapat terwujud dalam ilusi yang ia bangun. Kerumitan hidup berlahan menyingkir, dan tidak menyisahkan kenangan yang pahit.
***
Pagi itu, Kenny turun dari lantai dua, menuju meja makan. Ada Oma dan Nara yang sudah menunggu di Ruang tengah. Nara seperti biasa, selalu pintar mengemas hatinya. Ia kembali tersenyum dan bertingkah polos.
Kenny yang tidak tahan melihat wajah Nara, memilih untuk pergi. Namun langkahnya terhenti, saat lukisan yang ada di ruangan tengah itu, kembali utuh tanpa lecet sama sekali. Ia menatapnya tajam-tajam, seakan mencari perbedaan pada lukisan itu. Hingga putaran ke tiga, pria itu tidak menemukan bentuk perbedaannya.
Oma berjalan ke arah Kenny, kemudian menepuk lembut pundak cucu kesayangannya.
“Ada apa? Apakah sangat mirip dengan yang sebelumnya?”
“Hmmm…”
“Nara lho, yang melukisnya sehingga terlihat sama. Oma sudah dengar semuannya dari Bi Ela, seharusnya kamu tidak marah kepada Nara, dia hanya tidak sengaja.”
Kenny membalikkan tubuhnya, kemudian menatap mata Omanya dengan penuh tanda tanya. Sebelum tangannya mengayun untuk meraih lukisan itu.
“Oma tau, kalau aku paling tidak bisa marah kepada Oma. Tapi maaf, kali ini aku terpaksa melakukannya,” Ucapnya mengambil lukisan itu, kemudian melemparnya tepat di depan mata Nara. Seketika, menimbulkan kecemasan dari raut wajah gadis itu.
“Sampai kapanpun lukisan ini tidak akan pernah sama dengan yang aslinya. Saya ingin, mulai hari ini kamu menjauh dari saya dengan jarak lima meter, jangan pernah mengikuti saya lagi, pulang sekolah tetap berada di Pavillion dan jangan pernah keluar menunjukkan wajahmu, kecuali di sekolah atau kamu akan saya kirim kembali ke Bandung.” Ucapnya kemudian pergi.
Nara hanya terdiam, kemudian berjalan membereskan pecahan kaca yang ada dihadapannya. Air matanya terus mengalir, sementara Oma dan Bi Ela tak tega melihatnya. Oma menarik tangan Nara menjauh dari pecahan kaca itu, namun gadis itu tidak menunjukkan reaksi apapun ia hanya diam dan terus membersihkannya.
Pagi itu, gadis polos dengan sejuta warna, menjadi gadis dengan guratan wajah penuh kekecewaan. Ia tidak berangkat ke sekolah, ia memilih duduk di depan teras Pavillion dengan seragam yang masih dikenakannya. Warna yang terlukis indah menjadi pudar, bahkan cenderung menghitam. Hatinya hancur seperti pecahan kaca yang berserakan tadi.
Oma mendekat, seakan memberikan angin segar untuk gadis itu. Ia memeluk tubuh mungill Nara seakan memberikan ketenangan.
“Maafkan Kenny ya. Kenny hanya kecewa karena dia tidak bisa menjaga barang pemberian Clara, wanita yang teramat ia cintai.” Ucap Omanya.
“Apakah Clara sangat berharga untuk Kenny, Oma?”
“Iya, Karena hanya Clara yang bisa memahami hati Kenny.”
“Apakah Nara, bisa menggeser Clara di hati Kenny?”
“Tidak akan bisa. Tapi kamu bisa membuat namamu berdampingan dengan Clara di hati Kenny.” Ucap Omanya menghapus air mata Nara.
“Kenapa Oma?”
“Karena Clara adalah permata Kenny dan kamu adalah berliannya. Karena Clara dan Nara dua wanita yang berbeda, tetapi memiliki tempat yang sama di hati Kenny.” Ucapnya mengecup kening Nara, kemudian berlalu pergi.
Gadis itu hanya menatap ke mana Oma pergi, setelah memastikan Oma sudah berada di dalam rumah ia masuk ke dalam Pavillion kemudian mengambil tasnya. Hari itu, Nara pergi tanpa meninggalkan pesan dan salam terakhir untuk Oma.
Kakinya melangkah, dan tidak tau ke mana arah tujuannya yang ada di benaknya saat itu adalah. Lembang, sebuah puncak tempatnya menatap mesra langit sore dengan mata telanjang. Menikmati setiap pacaran cahayanya di ujung senja, hingga langit berubah warna menjadi kelam.
Ia rindu akan tempat itu, tempatnya menyendiri dari rasa sakit saat kayu tipis menghujam tubuhnya yang kemudian membiru dan meninggalkan bekas. Nara melangkahkan kakinya menjauh dari kediaman Oma Eva, kemudian menghentikan angkot yang menuju terminal. Lisa yang ingin melihat keadaan Nara, untuk memastikan bahwa apa yang dikatakan Kenny tidak benar, bahwa gadis itu sedang mengalami penyakit tidak waras.
Dari kejauhan Lisa mendapati Nara membawa barangnya. Ia yang panik dengan keadaan Nara, menyusulnya dengan ojek. Sesampainya di terminal, Lisa menghentikan langkah Nara. Membuat Gadis berkaca mata itu, hanya terdiam kemudian menatap Lisa dengan tatapan yang tidak biasa.
“Kamu mau ke mana Nara?”
“Nara tidak tau mau ke mana Lisa. Nara Cuma ingin ke puncak tempat Nara bisa menatap senja di balik bukit yang ada di ujung sana. Nara hanya rindu sama Mama dan Papa.” Ucapnya dengan air mata yang tiba-tiba mengalir.
Lisa memeluk tubuh gadis itu, tubuh yang sudah mulai lelah.
“Kalau begitu kita pulang ya?” Bujuk Lisa.
“Pulang ke mana?”
“Pulang ke tempat Kenny. Bukankah Nara bilang, kalau Nara tidak bisa jauh dari Kenny?”
“Tidak Lisa. Nara pergi karena Nara ingin Kenny bisa menikmati hidupnya. Kenny mengalami banyak masalah itu semua karna Nara. Nara pembawa sial untuk Kenny.”
“Tidak Nara. Semua hanya salah paham, sekarang kita pulang ya?”
Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya. Ia tetap keras kepala, kemudian menaiki bis menuju Bandung. Lisa yang tidak bisa meninggalkan Nara dengan keadaan yang memilukan, mengambil keputusan untuk menemani gadis itu, hingga hatinya sedikit lebih tenang. Ia menghubungi keluarganya untuk meminta izin pergi ke rumah tantenya yang ada di Bandung sekaligus menemani Nara, mengingat esok adalah hari minggu.
Sesampainya di Bandung tepatnya di Lembang jalan Bhakti sejati, Nara berdiri di depan rumah bercat putih dengan pagar hijau menjulang menutupi keindahan halaman rumah itu. kakinya hendak melangkah ke dalam, namun sebuah bayangan menahan kakinya agar menjauh dari rumah itu. Nara memutar balikkan tubuhnya kemudian berjalan ke arah Kawah Putih, Ciwidey yang jaraknya cukup lumayan jauh dari tempat dia singgah tadi.
Lisa yang hanya mengikutinya dari belakang tampak kelelahan, sesekali iya berhenti merenggangkan otot-ototnya kemudian berlari mengejar Nara, yang jalannya cukup cepat.
“Nara berhenti dulu yuk. Kakiku letih. Sebenarnya kita mau ke mana sih? Hari sudah malam.” Ucap Lisa
“Nara tidak tau mau ke mana. Nara Cuma mau ke kawah putih tempat favorit Nara sama papa!”
“Tapi hari ini sudah malam Nara. Besok pagi kita liat senjanya ya?” Bujuk Lisa.
“Lisa, nilai lisa dengan nilai Nara. Lebih tinggi nilai Lisa, tapi sayang pengetahuan Lisa tidak lebih baik dari Nara. Senja itu berada di ujung sore menuju maghrib, keadaan setengah gelap di Bumi sesudah matahari terbenam, waktu dimulai setelah matahari tenggelam saat cahaya masih terlihat di langit hingga datangnya waktu malam. Makanya Nara suka sekali menatapa Senja, apa lagi kalau ada Papa.” Ucapnya mengejek, kemudian menundukkan wajahnya.
“Dalam keadaan seperti ini, kamu masih menyebalkan ya?” Ucap Lisa mencubit pipi Nara.
Mereka kemudian berjalan menikmati waktu malam, kakinya melangkah namun wajahnya menatap ke langit dengan gemerlap bintang menerangi langkah kedua anak manusia itu. Sesaat Lisa menatap pergelangan tangannya, ketika waktu telah menunjukkan pukul delapan. Sebuah ponsel berdering dari saku celananya.
Kamu di mana? Mama sudah telepon Tante, katanya kamu belum juga sampai di rumahnya. Ini sudah malam Lisa. Kamu di mana jangan bikin Mama panik?” Ucap suara parau dari seberang sana.
Iya Mah, ini Lisa lagi jalan menuju rumah Tante, Lisa sudah di Lembang kok. Mama jangan khawatir. Da Mama!” Ucapnya kemudian menutup telepon.
Lisa menarik tangan Nara, dan membawa gadis itu pulang ke rumah Tantenya. Jika ia terus mengikuti langkah kaki Nara, sampai besok pagipun tidak akan menemukan arah tujuannya. Nara yang sudah letih, tidak menunjukkan protes atau reaksi apapun. Ia hanya diam, dan mengikuti semua intruksi Lisa.
Sesampainya di kediaman Tantenya, seorang wanita berumur tiga puluh dua tahun, hilir mudik di depan rumahnya, dengan wajah harap-harap cemas. Saat ia melihat wajah keponakan satu-satunya, wanita itu berhamburan dan memeluk Lisa. Nara yang menyaksikan itu hanya tersenyum, tanpa sadar setitik air di matanya jatuh.
“Nara kamu kenapa?” Tanya Lisa kemudian merangkul Nara.
“Tidak apa-apa.”
“Beneran? Oh ya, kenalin ini Tante Ros.” Ucap Lisa memperkenalkan Tantenya.
Nara dan Tante Ros berkenalan. Di hari itu juga mereka tampak akrab. Malam yang biasanya sunyi menjadi pecah, saat Nara ada di tengah-tengah keluarga mereka. Tante Ros hanya tinggal berdua dengan suaminya. Malam itu dia sangat Bahagia, karena Lisa dan Nara menemaninya, mengingat selama tiga hari suaminya harus dinas keluar kota.
Lisa menarik Nara ke kamar tamu yang sudah disiapkan Tante Ros. Malam itu mereka menghabiskan waktu dengan bercerita panjang lebar, hingga tak sadar waktu telah bergerak menuju angka satu.
“Nara satu tahun kamu mengikuti Kenny, apakah tidak ada rasa yang tumbuh di hatimu?”
Nara hanya menggelengkan kepala, kemudian mengecup boneka yang ada di pangkuannya.
“Mana mungkin Nara. Dua manusia berlainan jenis selalu bersama, bohong jika tidak tumbuh rasa. Mungkin manusia kepala batu seperti Kenny bisa jadi, sulit untuknya jatuh cinta. Tapi kamu, yang bertergantungan dengannya mana mungkin tidak jatuh cinta. Aku ini tidak bodoh Nara, aku mencium sebuah rahasia besar yang kamu tutup-tutupi selama ini. Lihat aku Nara!”
Ucap Lisa kemudian memutar tubuh Nara, menghadap ke arahnya.
“Kamu itu ajaib, kamu itu unik, kamu itu memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang. Ya aku akui kamu selalu bertingkah seperti anak-anak, manja, hidupmu seperti penuh dengan warna, menjalani hidup tanpa beban. Tapi hari ini banyak rahasia yang kamu sembunyikan. Aku tau kamu itu tidak bodoh, entah mengapa kamu merahasiakan itu. Aku tau kamu menyukai Kenny, tapi kamu menyimpan rapi di hatimu, dan aku sadar bahwa kamu adalah….”
Sebelum Lisa melanjutkan kata-katanya, Nara menutup mulut Lisa. Agar gadis itu tidak melanjutkan semua hal yang ia ketahui tentang hidupnya.
“Baiklah, aku tidak akan melanjutkannya. Tapi aku harap, suatu saat kamu harus menjelaskan padaku. Mengapa kamu melakukan ini semua?” Ucap Lisa, yang hanya di balas anggukkan oleh Nara.


Terima kasih sudah bertemu Nara hari ini, sampai bertemu di part 4

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Minuman sehat Untuk Kita yang Syar’i

Berhijab syar’i bukan menjadi suatu hambatan bagi kita untuk menjalankan suatu aktifitas. Hanya karena kita tidak PD (Percaya Diri) dengan apa yang kita kenakan. Karena merasa kita berbeda dengan yang lainnya. Jangan jadikan syar’imu menghambat karir dan dirimu untuk berkarya. Banyak perusahan yang mau menerima karya dan ilmumu, tak sedikit wanita berhijab syar’i bisa sukses dan jaya bahkan bisa menembus dunia luar. Semua tergantung cara pandang dan berfikirmu. Lakukan yang terbaik, kepakkan sayapmu dan katakan pada dunia bahwa kamu juga bisa seperti mereka. Dulu saya menghabisi banyak waktu untuk kegiatan dengan bekerja di salah satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang otomotif, malam harinya saya harus kuliah, di tambah sabtu minggu saya harus latihan teater, bergabung bersama komunitas Film pendek, pengajian di YISC Al Azhar ditambah harus menyelesaikan naskah, itu semua tidak menghambat saya untuk tetap syar’i. Kalau sudah begitu, sangat penting bagi kita ...

CUKUP MENGAGUMIMU DALAM DO’A

CUKUP MENGAGUMIMU DALAM DO’A (jika dalam raga tak mampu memilikimu, maka dengan do’a aku merasa memilikimu) senja menyapa malam, sisa hujan tadi sore membuatku menelusuri lorong waktu. Detak jam tak seirama dengan suara rintikan hujan, namun dapat memadukan irama yang indah jika didengar dengan penuh cinta. Kenyataan tadi siang telah jauh menghantamku ketebing jurang tertinggi, senyum yang dulu aku harapkan, kini seakan menjadi neraka yang tak ingin aku lihat. jika kuingat kembali kejadian itu, aku hanya ingin meminta kepada tuhan, kenapa harus dirimu orang yang pertama aku cintai? Mengapa harus dirimu orang yang pertama mengisi hatiku? Ya seperti itulah kenyataannya. Kuingat kembali saat pertemuan kita digerbang sekolah, kau berjalan melewatiku dengan aroma wangi tubuhmu, senyumanmu yang memukau membuat seluruh wanita memandangmu. Namun sayangnya senyumanmu itu bukan untukku, tapi untuk wanita yang sedang berdiri anggun didepan taman sambil melambaikan tangann...

KINARA DI UJUNG SENJA PART 2

MALAM itu langkah kaki yang tidak menyisahkan suara, mencekik pernafasannya berulang kali. Sebuah nama yang terngiang jelas di benaknya. Sebuah nama yang tak ingin ia dengar, dan nama itu telah ia kubur dalam-dalam hingga tak membekas sedikitpun dalam memorinya. “Amara dan Ronald bagaimana keadannya sekarang?” Kenny melirik Omanya, ada rasa sesak membuncahkan rasa sakit teramat dalam. Ia kemudian membuang pandang dengan mata yang mulai memerah dan berair. “Oma jangan pernah sebut nama itu di depan saya. Rasanya mendengar namanya saja, membuat saya tak bisa bernafas.” Ucapnya menahan amarah, dengan gigi yang mengeram seakan ia merasakan darahnya berdesir. “Baiklah Oma mengerti.” Ke duanya terdiam. Hening, tak menimbulkan suara. Eva melirik sekilas ke arah Kenny, setelah memastikan cucunya sudah sedikit tenang. Ia kemudian meminta Kenny, untuk memanggil Nara di Pavillion. Mengingat hari ini hari libur, tentunya gadis itu akan sangat bosan, setelah seharian sejak ...