“Maafkan
Nara, Kenny! Nara tidak sengaja.” Ucapnya ketakutan.
“Kamu
itu seperti gelembung di tengah lautan, yang tidak berarti apa-apa dalam hidup
saya. Bahkan lumut yang menjijikan saja bagi saya, lebih berharga di bandingkan
denganmu.” Ucapnya dengan amarah yang berkobar, seakan matanya saat itu sedang
mengincar mangsa.
“Lalu
mengapa Kenny, menyelamatkan hidup Nara saat itu?” Ucapnya dalam tangis.
“Dan
itu adalah kesalahan dalam hidup saya!” Teriaknya, menyentakkan Pak Ogah yang
masih berada di sana.
Nara
berlari menuju Pavillion, saat itu hatinya hancur. Gadis polos dan lugu, bahkan
hidupnya yang selalu penuh warna, seketika warna itu pudar. Bayangan masa lalu
kembali menyelinap masuk, dan mengusik tidurnya. Warna–warni itu menyeretnya ke
dalam warna hitam dan putih, sebuah kehidupan yang sudah ia tutup rapat, kini
mengelupas membuka luka lama yang belum mengering.
Sementara
Kenny melempar gitar yang ada di pangkuannya, ia berdebat dengan dirinya
sendiri dengan apa yang ia alami selama ini. Rasa lelah membuatnya ingin
membrontak, namun ia tak bisa, ada janji yang sedang ia pertahankan kepada
seseorang yang raganya sudah tak bisa ia sentuh. Pertama kalinya, Kenny
meluapkan segala kekesalannya dengan membanting gitar kesayangannya, hingga
terbelah dua.
“Mengapa
kau tak lenyap saja dalam hidupku! Aku letih, letih untuk semua kehidupan ini.
biarkan sekali ini aku lepas dari belengu yang mengikatku.” Ucapnya
menyenderkan tubuhnya di kasur, dengan tangan kanannya menutup matanya,
beberapa saat matanya terpejam.
Gadis
itu sejak kecil hobi sekali melukis, bahkan saat SD dan SMP Nara selalu
menjuarai lomba melukis. Jadi tak heran jika ia bisa meniru semua bentuk
lukisan. Termasuk lukisan yang di pajang di ruang tengah dengan bingkai kaca,
yang ia pecahkan tadi. Sebenarnya lukisan itu tidak terlalu rusak, hanya sedikit
koyak karena pecahan kaca. Namun Nara harus tetap bertanggung jawab dengan apa
yang telah ia perbuat.
Nara
mengeluarkan kuas dan alat perlengkapannya dari tas, tangannya mulai
menari-nari. Lincah tangannya memegang kuas membuat Bi Ela terkagum-kagum
dengannya.
“Wah
Non Nara pintar sekali melukis?” Ucap Bi Ela.
“Hahah
Bibi, Nara hanya hobi saja. Bibi mau Nara Lukis?” Ucapnya tersenyum.
“Beneran
Non?”
“Iya.”
Ucapnya mengangguk dengan senyuman termanisnya.
Bi
Ela berjalan ke arah Nara, kemudian memeluk tubuh mungil gadis itu. Air
matannya mengalir, sambil menatap puncak kepala Nara. Sementara gadis itu hanya
diam, ia seakan menikmati pelukan hangat dari seorang Ibu. Sesekali memejamkan
matanya, seakan ia sedang memeluk Mamanya.
“Bagaimana
Oma tidak sayang denganmu Non. Kamu mudah sekali mengemas hatimu, baru saja
hatimu hancur oleh amarah Den Kenny, beberapa saat kemudian kamu kembali
tersenyum. Beruntungnya orang tua yang telah melahirkanmu.” Ucapnya mengecup
puncak kepala Nara.
“Bi…Bi..”
Ucapnya terbatuk-batuk.
“Kenapa
Non?”
“Nara
tidak bisa nafas, pelukan Bibi terlalu kencang?” Ucapnya melonggarkan tangan Bi
Ela dari lehernya.
Seketika
gelak tawa pecah, dari Pavillion tempat Nara tinggal. Kenny yang dari dapur
mengambil air putih. Tampak marah, ketika pekikkan tawa terdengar di
telingannya. Pria itu kemudian berjalan ke arah Pavillion.
“Kamu
baru saja merusak lukisan yang ada di rumah saya, dan sekarang kamu tertawa
seakan tidak terjadi apa-apa. Kamu tau, dengan kamu merusak lukisan itu, sama
saja kamu telah menghancurkan hidup saja. Seperti ini, Lihat!” Ucapnya dari
luar, kemudian melempar gelas yang ada di tangannya, hingga pecah
berkeping-keping.
Nara
yang menyaksikan itu, menutup telingannya. Tanpa ia sadari setitik air mata
menyelinap keluar. Ia kemudian masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu
kamarnya.
“Itulah
hati saya saat ini!” Teriaknya dari luar, kemudian berlalu pergi.
Hati
keras Kenny tak akan pernah ada yang bisa menaklukkannya, kecuali Oma dan Clara.
Hanya dua wanita hebat itu yang bisa membuat hati Kenny sedikit lebih tenang.
Kenny bagaikan banteng yang akan menabrak apapun yang ada dihadapannya, hati
keras yang telah membatu sangat sulit untuk di runtuhkan.
Sehabis
pulang sekolah ia menghabiskan waktunya bermeditasi dengan segala imajinasinya.
Membentuk dunia hayalan dengan keindahan yang ia dambakan, sehingga helaian
harapan dapat terwujud dalam ilusi yang ia bangun. Kerumitan hidup berlahan
menyingkir, dan tidak menyisahkan kenangan yang pahit.
***
Pagi
itu, Kenny turun dari lantai dua, menuju meja makan. Ada Oma dan Nara yang
sudah menunggu di Ruang tengah. Nara seperti biasa, selalu pintar mengemas
hatinya. Ia kembali tersenyum dan bertingkah polos.
Kenny
yang tidak tahan melihat wajah Nara, memilih untuk pergi. Namun langkahnya
terhenti, saat lukisan yang ada di ruangan tengah itu, kembali utuh tanpa lecet
sama sekali. Ia menatapnya tajam-tajam, seakan mencari perbedaan pada lukisan
itu. Hingga putaran ke tiga, pria itu tidak menemukan bentuk perbedaannya.
Oma
berjalan ke arah Kenny, kemudian menepuk lembut pundak cucu kesayangannya.
“Ada
apa? Apakah sangat mirip dengan yang sebelumnya?”
“Hmmm…”
“Nara
lho, yang melukisnya sehingga terlihat sama. Oma sudah dengar semuannya dari Bi
Ela, seharusnya kamu tidak marah kepada Nara, dia hanya tidak sengaja.”
Kenny
membalikkan tubuhnya, kemudian menatap mata Omanya dengan penuh tanda tanya.
Sebelum tangannya mengayun untuk meraih lukisan itu.
“Oma
tau, kalau aku paling tidak bisa marah kepada Oma. Tapi maaf, kali ini aku
terpaksa melakukannya,” Ucapnya mengambil lukisan itu, kemudian melemparnya
tepat di depan mata Nara. Seketika, menimbulkan kecemasan dari raut wajah gadis
itu.
“Sampai
kapanpun lukisan ini tidak akan pernah sama dengan yang aslinya. Saya ingin, mulai
hari ini kamu menjauh dari saya dengan jarak lima meter, jangan pernah
mengikuti saya lagi, pulang sekolah tetap berada di Pavillion dan jangan pernah
keluar menunjukkan wajahmu, kecuali di sekolah atau kamu akan saya kirim
kembali ke Bandung.” Ucapnya kemudian pergi.
Nara
hanya terdiam, kemudian berjalan membereskan pecahan kaca yang ada
dihadapannya. Air matanya terus mengalir, sementara Oma dan Bi Ela tak tega
melihatnya. Oma menarik tangan Nara menjauh dari pecahan kaca itu, namun gadis
itu tidak menunjukkan reaksi apapun ia hanya diam dan terus membersihkannya.
Pagi
itu, gadis polos dengan sejuta warna, menjadi gadis dengan guratan wajah penuh
kekecewaan. Ia tidak berangkat ke sekolah, ia memilih duduk di depan teras
Pavillion dengan seragam yang masih dikenakannya. Warna yang terlukis indah
menjadi pudar, bahkan cenderung menghitam. Hatinya hancur seperti pecahan kaca
yang berserakan tadi.
Oma
mendekat, seakan memberikan angin segar untuk gadis itu. Ia memeluk tubuh
mungill Nara seakan memberikan ketenangan.
“Maafkan
Kenny ya. Kenny hanya kecewa karena dia tidak bisa menjaga barang pemberian
Clara, wanita yang teramat ia cintai.” Ucap Omanya.
“Apakah
Clara sangat berharga untuk Kenny, Oma?”
“Iya,
Karena hanya Clara yang bisa memahami hati Kenny.”
“Apakah
Nara, bisa menggeser Clara di hati Kenny?”
“Tidak
akan bisa. Tapi kamu bisa membuat namamu berdampingan dengan Clara di hati
Kenny.” Ucap Omanya menghapus air mata Nara.
“Kenapa
Oma?”
“Karena
Clara adalah permata Kenny dan kamu adalah berliannya. Karena Clara dan Nara
dua wanita yang berbeda, tetapi memiliki tempat yang sama di hati Kenny.”
Ucapnya mengecup kening Nara, kemudian berlalu pergi.
Gadis
itu hanya menatap ke mana Oma pergi, setelah memastikan Oma sudah berada di
dalam rumah ia masuk ke dalam Pavillion kemudian mengambil tasnya. Hari itu,
Nara pergi tanpa meninggalkan pesan dan salam terakhir untuk Oma.
Kakinya
melangkah, dan tidak tau ke mana arah tujuannya yang ada di benaknya saat itu
adalah. Lembang, sebuah puncak tempatnya menatap mesra langit sore dengan mata
telanjang. Menikmati setiap pacaran cahayanya di ujung senja, hingga langit
berubah warna menjadi kelam.
Ia
rindu akan tempat itu, tempatnya menyendiri dari rasa sakit saat kayu tipis
menghujam tubuhnya yang kemudian membiru dan meninggalkan bekas. Nara
melangkahkan kakinya menjauh dari kediaman Oma Eva, kemudian menghentikan
angkot yang menuju terminal. Lisa yang ingin melihat keadaan Nara, untuk
memastikan bahwa apa yang dikatakan Kenny tidak benar, bahwa gadis itu sedang
mengalami penyakit tidak waras.
Dari
kejauhan Lisa mendapati Nara membawa barangnya. Ia yang panik dengan keadaan
Nara, menyusulnya dengan ojek. Sesampainya di terminal, Lisa menghentikan
langkah Nara. Membuat Gadis berkaca mata itu, hanya terdiam kemudian menatap
Lisa dengan tatapan yang tidak biasa.
“Kamu
mau ke mana Nara?”
“Nara
tidak tau mau ke mana Lisa. Nara Cuma ingin ke puncak tempat Nara bisa menatap
senja di balik bukit yang ada di ujung sana. Nara hanya rindu sama Mama dan
Papa.” Ucapnya dengan air mata yang tiba-tiba mengalir.
Lisa
memeluk tubuh gadis itu, tubuh yang sudah mulai lelah.
“Kalau
begitu kita pulang ya?” Bujuk Lisa.
“Pulang
ke mana?”
“Pulang
ke tempat Kenny. Bukankah Nara bilang, kalau Nara tidak bisa jauh dari Kenny?”
“Tidak
Lisa. Nara pergi karena Nara ingin Kenny bisa menikmati hidupnya. Kenny
mengalami banyak masalah itu semua karna Nara. Nara pembawa sial untuk Kenny.”
“Tidak
Nara. Semua hanya salah paham, sekarang kita pulang ya?”
Gadis
itu hanya menggelengkan kepalanya. Ia tetap keras kepala, kemudian menaiki bis
menuju Bandung. Lisa yang tidak bisa meninggalkan Nara dengan keadaan yang
memilukan, mengambil keputusan untuk menemani gadis itu, hingga hatinya sedikit
lebih tenang. Ia menghubungi keluarganya untuk meminta izin pergi ke rumah
tantenya yang ada di Bandung sekaligus menemani Nara, mengingat esok adalah
hari minggu.
Sesampainya
di Bandung tepatnya di Lembang jalan Bhakti sejati, Nara berdiri di depan rumah
bercat putih dengan pagar hijau menjulang menutupi keindahan halaman rumah itu.
kakinya hendak melangkah ke dalam, namun sebuah bayangan menahan kakinya agar
menjauh dari rumah itu. Nara memutar balikkan tubuhnya kemudian berjalan ke arah
Kawah Putih, Ciwidey yang jaraknya cukup lumayan jauh dari tempat dia singgah
tadi.
Lisa
yang hanya mengikutinya dari belakang tampak kelelahan, sesekali iya berhenti
merenggangkan otot-ototnya kemudian berlari mengejar Nara, yang jalannya cukup
cepat.
“Nara
berhenti dulu yuk. Kakiku letih. Sebenarnya kita mau ke mana sih? Hari sudah
malam.” Ucap Lisa
“Nara
tidak tau mau ke mana. Nara Cuma mau ke kawah putih tempat favorit Nara sama
papa!”
“Tapi
hari ini sudah malam Nara. Besok pagi kita liat senjanya ya?” Bujuk Lisa.
“Lisa,
nilai lisa dengan nilai Nara. Lebih tinggi nilai Lisa, tapi sayang pengetahuan
Lisa tidak lebih baik dari Nara. Senja itu berada di ujung sore menuju maghrib,
keadaan setengah gelap di Bumi sesudah matahari terbenam, waktu dimulai setelah
matahari tenggelam saat cahaya masih terlihat di langit hingga datangnya waktu
malam. Makanya Nara suka sekali menatapa Senja, apa lagi kalau ada Papa.”
Ucapnya mengejek, kemudian menundukkan wajahnya.
“Dalam
keadaan seperti ini, kamu masih menyebalkan ya?” Ucap Lisa mencubit pipi Nara.
Mereka
kemudian berjalan menikmati waktu malam, kakinya melangkah namun wajahnya
menatap ke langit dengan gemerlap bintang menerangi langkah kedua anak manusia
itu. Sesaat Lisa menatap pergelangan tangannya, ketika waktu telah menunjukkan
pukul delapan. Sebuah ponsel berdering dari saku celananya.
“Kamu di mana? Mama sudah telepon Tante,
katanya kamu belum juga sampai di rumahnya. Ini sudah malam Lisa. Kamu di mana
jangan bikin Mama panik?” Ucap suara parau dari seberang sana.
“Iya Mah, ini Lisa lagi jalan menuju rumah
Tante, Lisa sudah di Lembang kok. Mama jangan khawatir. Da Mama!” Ucapnya
kemudian menutup telepon.
Lisa
menarik tangan Nara, dan membawa gadis itu pulang ke rumah Tantenya. Jika ia terus
mengikuti langkah kaki Nara, sampai besok pagipun tidak akan menemukan arah
tujuannya. Nara yang sudah letih, tidak menunjukkan protes atau reaksi apapun.
Ia hanya diam, dan mengikuti semua intruksi Lisa.
Sesampainya
di kediaman Tantenya, seorang wanita berumur tiga puluh dua tahun, hilir mudik
di depan rumahnya, dengan wajah harap-harap cemas. Saat ia melihat wajah
keponakan satu-satunya, wanita itu berhamburan dan memeluk Lisa. Nara yang
menyaksikan itu hanya tersenyum, tanpa sadar setitik air di matanya jatuh.
“Nara
kamu kenapa?” Tanya Lisa kemudian merangkul Nara.
“Tidak
apa-apa.”
“Beneran?
Oh ya, kenalin ini Tante Ros.” Ucap Lisa memperkenalkan Tantenya.
Nara
dan Tante Ros berkenalan. Di hari itu juga mereka tampak akrab. Malam yang
biasanya sunyi menjadi pecah, saat Nara ada di tengah-tengah keluarga mereka.
Tante Ros hanya tinggal berdua dengan suaminya. Malam itu dia sangat Bahagia,
karena Lisa dan Nara menemaninya, mengingat selama tiga hari suaminya harus
dinas keluar kota.
Lisa
menarik Nara ke kamar tamu yang sudah disiapkan Tante Ros. Malam itu mereka
menghabiskan waktu dengan bercerita panjang lebar, hingga tak sadar waktu telah
bergerak menuju angka satu.
“Nara
satu tahun kamu mengikuti Kenny, apakah tidak ada rasa yang tumbuh di hatimu?”
Nara
hanya menggelengkan kepala, kemudian mengecup boneka yang ada di pangkuannya.
“Mana
mungkin Nara. Dua manusia berlainan jenis selalu bersama, bohong jika tidak
tumbuh rasa. Mungkin manusia kepala batu seperti Kenny bisa jadi, sulit
untuknya jatuh cinta. Tapi kamu, yang bertergantungan dengannya mana mungkin
tidak jatuh cinta. Aku ini tidak bodoh Nara, aku mencium sebuah rahasia besar
yang kamu tutup-tutupi selama ini. Lihat aku Nara!”
Ucap
Lisa kemudian memutar tubuh Nara, menghadap ke arahnya.
“Kamu
itu ajaib, kamu itu unik, kamu itu memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh
orang. Ya aku akui kamu selalu bertingkah seperti anak-anak, manja, hidupmu
seperti penuh dengan warna, menjalani hidup tanpa beban. Tapi hari ini banyak
rahasia yang kamu sembunyikan. Aku tau kamu itu tidak bodoh, entah mengapa kamu
merahasiakan itu. Aku tau kamu menyukai Kenny, tapi kamu menyimpan rapi di
hatimu, dan aku sadar bahwa kamu adalah….”
Sebelum
Lisa melanjutkan kata-katanya, Nara menutup mulut Lisa. Agar gadis itu tidak
melanjutkan semua hal yang ia ketahui tentang hidupnya.
“Baiklah,
aku tidak akan melanjutkannya. Tapi aku harap, suatu saat kamu harus
menjelaskan padaku. Mengapa kamu melakukan ini semua?” Ucap Lisa, yang hanya di
balas anggukkan oleh Nara.
Terima kasih sudah bertemu Nara hari ini, sampai bertemu di part 4
Komentar
Posting Komentar
Dilarang mengcopy, karena Blog ini dilengkapi dengan pendeteksi pengaman
terima kasih telah berkunjung pada situs Blog ini.