Pagi
itu Nara sudah bangun dari tidurnya, sejak jam lima subuh sehabis shalat. Ia
bergegas menuju sebuah bukit yang tidak jauh dari Kawah Putih. Ia menghabiskan
waktu bersama embun, hingga matahari menyumbul dari balik awan.
Hingga
waktu bergerak menuju angka sebelas
siang, Nara masih belum beranjak dari posisinya. Panasnya terik yang menyengat
kulitnya tidak ia pedulikan. Matanya terus menatap tajam, pada hamparan pohon
yang menghijau hingga sebuah bayangan senyum menyapanya.
“Kenny?”
Ucap nara
Gadis
itu menutup matanya, kemudian membukannya kembali “Hahahaha…Nara itu hanya
bayanganmu saja.” Ucapnya dan tertawa seorang diri.
“Selain aneh kamu ternyata juga tidak waras.
Di tempat sepi seperti ini, masih sempat-sempatnya tertawa dan berbicara
sendiri.” Sebuah suara, berhasil menyentikkan telingannya.
Nara
membalikkan badannya. Matanya membulat tak percaya dengan apa yang kini ia
lihat. Gadis itu kemudian berdiri, dan menjauh dari pria itu. Nara berlari
sekencang-kencangnya, agar Kenny tidak menemukan dirinya. Hingga ia masuk ke
sebuah Hutan, dan terjatuh. Saat Kenny berusaha mengulurkan tangannya, Nara
mendorong tubuhnya ke belakang agar ia menjauh dari pria itu.
“Kamu
tidak hanya aneh, tapi juga keras kepala!” Ucapnya memutar badan, kemudian
berjalan menuju tempat tadi ia datang.
“Dari
mana Kenny tau, kalau Nara ada di sini?” Ucapnya menghentikan langkah kaki
Kenny.
“Lisa
menghubungi Dinnar, dan dia memberitau saya bahwa kamu kembali ke Bandung.
Sebenarnya itu yang saya harapkan sejak awal, tapi Oma sejak semalam terus saja
menyebut namamu. Saya ke sini, bukan saya yang mau, tapi karena Oma. Jadi kamu
mau ikut dengan saya kembali ke Jakarta atau tetap di sini?”
“Kalau
Nara ikut sama Kenny, apakah Nara boleh dekat-dekat dengan Kenny lagi.”
“Tidak.
Sampai kapanpun saya tidak suka melihat kamu berada didekat saya. Jadi
kesepakatan itu tetap akan berlanjut.”
“Kalau
begitu Nara tidak akan ikut dengan Kenny!”
“Bagus
itu akan lebih baik, dan saya akan bilang pada Oma bahwa kamu tidak betah berada
dekat dengan Oma. Dan peringatan terakhir saya, jika hari ini kamu tidak ikut
saya kembali ke Jakarta. Sampai kapanpun jangan pernah muncul dalam hidup
saya!” Ucapnya marah dengan tatapan penuh kebencian.
Pria itu berjalan tanpa menghiraukan Nara, namun
gadis itu terdiam beberapa saat, kemudian berlari menghampiri Kenny, dan
berjalan di belakangnya. Kenny hanya melirik sekilas dengan senyum jahatnya,
kemudian berjalan menuju rumah Tante Ros.
Dinnar
yang asik main basket di depan halaman Tante Ros, melempar bola basket itu ke
arah Kenny yang baru saja kembali. Pria itu menangkap bola dengan satu tangan,
kemudian terjadilah persaingan hebat antara dua pria yang hobi bermain Basket.
Lisa yang duduk di teras, menatap kagum hingga matanya tak berkedip, saat
lincahnya tangan Kenny melakukan jump
shoot, Slam Dunk hingga melakukan in
and out dribble.
Nara
dan Lisa hanya meloncat-loncat dengan tatapan kagum.
Ketika
hati seseorang terluka sangat sulit untuk bisa disembuhkan, jikalau sembuh akan
meninggalkan bekas. Namun tidak berlaku untuk Nara, meski hatinya di lukai ia
masih tetap tersenyum kemudian membuangnya, hingga tak berbekas dalam
ingatannya. Namun tidak untuk masa lalu, yang saat ini masih ia simpan rapi.
Baginya masa lalu dan kekejaman Kenny adalah dua hal yang berbeda, meski yang
ia rasakan sama pedihnya.
Nara
dan Lisa meloncat bahagia, saat Basket itu berada di tangan Kenny. Hingga
Dinnar menyingkir dari lapangan, karena pendukung yang menurutnya tidak
seimbang.
“Dinnar
kenapa berhenti?” Teriak Lisa dari teras halaman rumah.
“Karena
pendukung Kenny lebih banyak.” Ucapnya meneguk segelas jus jeruk yang ada di
atas meja.
“Ah
Dinnar payah.” Ucap Nara, kemudian disambar oleh gelak tawa Lisa dan Tante Ros.
Hari
itu hari yang sangat menyenangkan untuk mereka. Namun tidak untuk Kenny, ia
sibuk dengan ponsel yang ada di tangannya. Hingga tanpa sadar bahwa Dinnar
sejak tadi berdiri di belakangnya, memperhatikan apa yang dilakukan oleh Kenny.
“Kenny,
jangan bilang kalau kamu menyukai Mayang?” Ucap Dinnar.
Pria
itu menahan tawanya, hingga Kenny menyadarinya kemudian cepat-cepat mematikan
ponselnya. Wajah pria itu, memerah. Ada amarah yang tertahankan, sehingga
menyulutkan hati Dinnar untuk tidak lagi bergurau dengannya.
“Hmmm
sepertinya hari ini sangat cerah untuk jalan-jalan. Sebelum balik ke Jakarta,
alangkah baiknya kalau kita jalan-jalan dulu yuk? Kenny dan Nara sebagai
pemandunya, karenakan kalian berasal dari sini.” Ucap Dinnar mengalihkan
kemarahan Kenny.
Lisa
dan Nara yang masih berada di sana tertawa melihat tingkah Dinnar. Tak berapa
lama Nara memalingkan wajah, seperti ada sesuatu yang ia rahasiakan. Ke empat
remaja itu menghabiskan waktunya dengan berjalan-jalan menuju Farm House
Lembang. Jika Lisa dan Dinnar sibuk berfoto-foto, Kenny dan Nara sibuk
melihat-lihat.
Nara
menyukai Kelinci begitu dengan Kenny. Mata keduannya tak lepas menikmati
lucunya hewan berbulu putih memakan wortel. Sesaat Kenny membalikkan tubuhnya,
matanya terbelalak tak percaya saat seorang pria yang ia kenal kini berada di
hadapannya dengan seorang wanita. Hati pria yang pernah hancur, kali ini jauh
lebih hancur hingga kepingan itu berubah menjadi serbuk.
Nara
yang sadar Kenny sudah tidak berada di sampingnya. Mencari keberadaan Kenny,
namun justru yang ia temui bukan Kenny, tapi sebuah pemandangan yang
menyakitkan. Sebuah memori usang yang ia simpan rapi, terbuka kemudian
memaksanya untuk masuk. Hatinya merintih sakit, dengan apa yang kini ia
saksikan.
Nara
menyembunyikan wajahnya di balik selendang yang melilit di lehernya. Ia menjauh
dari pemandangan menyakitkan itu, kemudian berlari sejauh mungkin. Hinga
akhirnya ia terduduk disebuah pohan dan menghempaskan tubuhnya di sana.
Ia
meringkuh mengingat betapa hancur hatinya saat itu, mengenang bagaimana
penyiksaan yang ia terima dari seseorang yang dulunya dekat, tiba-tiba menjadi
monster. Lucu memang ketika seseorang yang pernah ada dalam bagian hidup kita,
yang telah kita anggap malaikat tanpa sayap. Kemudian menjadi sosok yang
menakutkan, bahkan untuk bertemu saja rasanya tubuh gemetar.
Lisa
dan Dinnar yang menyadari bahwa ke dua temannya tidak berada dekat dengannya,
mulai panik kemudian berusaha menghubunginya. Namun hingga telepon ke lima
tidak ada respon dari Kenny maupun Nara. Lisa dan Dinnar memutuskan untuk
kembali ke rumah Tante Ros. Sesampainya di depan halaman Tante Ros, Nara dan
Kenny tiba dengan arah berlawanan menunjukkan wajah dan ekspresi yang tidak
biasa.
Lisa
berlari menuju Nara, sementara Dinnar mendekat ke arah Kenny. Keduannya tetap
acuh, sehingga tanpa sadar Kenny maupun Nara meminta untuk segera kembali ke
Jakarta. Lisa dan Dinnar bertatapan dengan ekspresi bingung, dengan apa yang
terjadi oleh ke dua sahabatnya.
Aku pernah melupakan sesuatu yang
berharga dalam hidupku
Sesuatu yang tidak pernah hilang
dari jangkauan mata
Namun sebuah tragedi
menghancurkannya, merubah cinta menjadi benci
Hingga detik ini, aku tidak pernah
tau bagaimana caranya menyapa, atau sekedar mengatakan Hai.
Komentar
Posting Komentar
Dilarang mengcopy, karena Blog ini dilengkapi dengan pendeteksi pengaman
terima kasih telah berkunjung pada situs Blog ini.