Langsung ke konten utama

ADA SURGA DIMATANYA



Cinta,
Adalah sebuah ekspresi yang sangat sulit untuk diungkapkan, ketika hati berperang melawan diri sendiri cinta justru menghempaskan harapan kedalam jurang. Yang ada hanya diam, diam seribu bahasa menahan perih ketika cinta kembali menyerbu puing-puing harapan yang masih membekas, sebab cinta menghilangkan akal sehat bermain-main dengan hati dan pikiran.

Banyak orang mengekspresikan cinta dengan cara yang berbeda. Seperti bunga yang layu kemudian menjadi mekar, angin yang tak terlihat dapat dirasakan, sayatan pisau hingga darah bercucuran tak terasa perihnya. Sebab cinta bukan sebuah permainan dan hanya sekedar ucapan. Namun cinta sebuah pembuktian, lantang diucapkan, tegas dinyatakan dengan jiwa dan raga menariknya menuju pelaminan. Begitulah cinta yang Fitrah.

SEBUAH buku jurnal kedokteran tergeletak di sudut meja kerjanya. Zein berjalan menghampirinya. Kedua bola mata bulat nan indah itu berputar-putar seperti ada rasa penasaran yang berkecambuk didalam hatinya, bukan karena isinya sebab isi dari buku itu sudah khatam diluar kepala, namun apa yang membuat lelaki berkulit putih, bertubuh tinggi itu dibuat penasaran?

Zein kembali berjalan menuju ranjang, dan mengurungkan niatnya untuk melihat isi didalam buku jurnal kedokterannya. Laptop yang tergeletak diatas kasur segera diraihnya. Ia pun segera membuka blog milik Yuliepelangi.blogspot.com blog yang berisi kumpulan cerita islami, entah apa yang membuat lelaki kelahiran tahun 89 itu terus-terusan update menunggu postingan dari blog itu. Apa yang membuat ia tertarik setiap kali membaca tulisan pada blog tersebut, yang pasti tulisan didalam blog itu membuat ia sedikit lebih tenang, akibat seharian bekerja ditambah jika ia harus bertugas malam. Menurutnya penulis dalam blog tersebut seperti memiliki ikatan batin dengannya, entah apa yang ia pikirkan? pastinya ia amat senang menikmati setiap tulisan yang ada pada blog itu.

Tidak beberapa lama tiba-tiba sebuah panggilan masuk dari ponselnya, diceknya ternyata berasal dari Maya kekasihnya. Diterimalah telepon itu.
Asalamuallaikum, sayang kamu kemana aja gak ada kabarnya?”
Wa’allaikumsalam, maaf May akhir-akhir ini aku sedang sibuk, dengan pekerjaan. Sekarang ini aku harus lebih Fokus dengan pasien-pasienku, karena mereka lebih membutuhkan aku dibandingkan kamu. Sekali lagi aku minta maaf.”

Namun tiba-tiba Zein mematikan ponselnya. Dan menimbulkan tanda tanya besar, apa yang membuat Zein semakin berubah terutama terhadap Maya kekasih yang selama ini ia cintai. Pastinya hanya Zeinlah yang tau apa yang membuat ia menjadi berubah 180°.

Setelah mematikan ponselnya, ia kembali Fokus pada laptop yang ada didepan matanya, tiba-tiba ia segera mengambil posisi duduk sempurna, dan matanya setengah keluar menatap sebuah tulisan terbaru yang ia tunggu dari sebuah blog. “Dia tau aja kalau gue, lagi nungguin cerita terbarunya.” Gumamnya dalam hati. Usai ia membaca tulisan itu, tiba-tiba ia terdiam, lelaki berlesung pipi itu tampak lesu kemudian segera mematikan laptopnya, seperti ada sebuah bom yang mendarat dihatinya lalu meledakkan seluruh tubuhnya hingga terguncang sangat dahsyat, bahkan lebih dahsyat dari gempa bumi ataupun nuklir.

Tanpa memperdulikan tulisan dalam blog itu, ia segera mengambil posisi tidur. Dan mengaggap tulisan yang terdapat dalam blog tersebut sama sekali tak pernah ada. Usai shalat Isya, ia merebahkan tubuhnya melemaskan semua oto-otot sarafnya. karena Besok pagi ia harus kembali ke Rumah sakit untuk menjalankan tugasnya menjadi seorang dokter. Mengingat akan banyak tanggung jawab yang harus ia jalanin.

Waktu menunjukkan pukul 05.10 WIB, Zein segera berlari ke kamar mandi. Usai shalat subuh ia segera bergegas menuju Rumah sakit. Sesampainya disana ia mengecek pasiennya yang kemari mengalami kecelakaan tabrak lari, untung saja Bapak tersebut bisa diselamatkan, jika terlambat sedikit saja mungkin akan berakibat fatal. Ia segera mengecek infuse dan oksigen yang terpasang pada kait tiang. Dan memastikan cedera yang dialami oleh pasien tersebut akan segera pulih karena tungkai tangan kirinya fraktur (patah) dan pagi ini pasien tersebut akan segera di rontgen dulu untuk bisa menegakkan hipotesis itu. Usai mengecek beberapa pasien ia segera menuju ruangannya membaca buku operasi sekaligus mengobservasi pasiennya, namun tiba-tiba  bola mata hitam nan bulat itu tertuju pada map berwarna biru yang bertuliskan nama seseorang Shafira Azahra seperti sebuah nama yang ia kenal.
Ah mana mungkin, yang namanya Shafira Azahra kan banyak.” Ucapnya dalam hati, kemudian ia segera pergi menuju ke ruangan A untuk melakukan observasi tekanan darah, nadi, suhu, respira pada pasien yang baru saja datang akibat lagi-lagi kecelakaan lalu lintas. Ia segera menangani pasiennya, dengan penuh hati-hati dan percaya diri, al hasih semuannya berjalan lancar.

Tidak beberapa lama kemudian, seorang wanita berbalut hijab berwarna merah jambu menjuntai panjang menutupi tubuhnya sedang menunggu dokter Zein diruang tunggu. Gadis cantik itu tampak tenang, senyumnya terus mengembang bahkan tak pernah padam, matanya yang cantik terus melirik kesegala arah. Namun tiba-tiba gadis itu berdiri setelah melihat Dokter Zein berjalan lurus kearahnya.
Asalamuallaikum. Ini Dokter Zein ya?” ucap gadis itu, sambil mengatupkan kedua telapak tangannya.
Wa’allaikum sallam. Benar, dengan Mba Shafira?”
“Iya benar Dok.”
“Oh, kalau begitu mari keruangan saya.” Ucapnya

Merekapun berjalan memasuki ruang kerja Dokter Zein dan kemudian mengambil posisi duduk. Namun tidak beberapa lama gadis itu seperti mengingat-ingat sesuatu. Tapi entah apa yang ia pikirkan yang pasti lelaki yang ada didepannya seperti seseorang yang ia kenal. Ia terus berusaha memikirkan satu buah nama. Dan sontak menunjuk kearah Zein dan membuatnya sedikit kaget.
“Ah... sekarang saya ingat, nama Dokter. Muhammad Zein Akbar kan? Lulusan SMPN 1 pernah menjuarai olimpiade IPA termasuk siswa berprestasi di sekolah, dan mendapat predikat sijenius. Apa saya benar?”

Tiba-tiba Zein merasa kaget, dengan gadis yang berada dihadapannya. Mengapa ia tau semua tentang dirinya. Namun ada satu hal yang menggetarkan hatinya, sebuah mata bulat coklat itu membuat jantungnya berdebar kencang. Ia seperti melihat syurga, melihat keindahan yang ia sendiri tidak mengerti.
“Ya benar. Dari mana anda tau?”
“Karena saya juga dari lulusan sana. Untuk orang sepopuler Dokter waktu SMP sangat mudah dikenali, jadi bagiku itu sangatlah mudah.”
“Oh ya! Kamu bisa saja. karena kita dulu pernah satu sekolahan dan seumuran, kamu bisa memanggil saya dengan nama Zein saja. oh ya jika saya boleh tau ada apa kamu kemari?”
“Baiklah Zein. saya kira kamu sudah membaca riwayat saya, pada map biru yang ada dimeja kamu itu.” Sambil menunjuk sebuah map yang bertuliskan Shafira Azahra.
“Oh iya. Maaf tadi saya belum sempat membacanya.”
“Ya sudah karena saya sudah disini, saya akan menjelaskannya. Saya sudah memeriksa penyakit saya kebeberapa rumah sakit hasilnya selalu saja sama. Kini saya melakukan hal yang sama berharap hasil yang saya terima berbeda dengan hasil rumah sakit yang lain. Aku dengar kamu dokter yang ahli dibidang penyakit apapun. Menguasai sekali bentuk penyakit bahkan berhasil menemukan obat penawar rasa sakit kanker, aku berharap dengan aku bertemu denganmu, kamu bisa membantuku Zein. Aku bergantung pada Allah namun melalui tangan Dokter semoga Allah menurunkan mukjizatnya kepadamu.”

Tiba-tiba Zein menghela nafas, kemudian mengajak gadis tersebut ke ruang pemeriksaan. Namun tiba-tiba wanita tersebut menghentikan langkahnya. Dengan wajah bimbang. Dan membuat Zein kebingungan.
“Kamu kenapa berhenti?”
“Zein, bisakah aku dipindahkan kedokter lain?”
“Maksud kamu?”
“Aku lupa, walau kamu seorang Dokter. Aku tetap tidak bisa bersentuhan atau disentuh oleh laki-laki. Jadi berikan aku kepada dokter wanita.”

Tiba-tiba Zein tercengang dan tidak bisa berkata-kata, karena ini pertama kalinya seorang pasien meminta padanya untuk digantikan dokter, padahal dari banyak pasien mereka ingin ditangani oleh dokter yang ahli sepertinya. Zein hanya mengangguk kemudian meminta bantuan kepada dokter Zoya.
***

Waktu menunjukkan pukul 22.15 WIB. Rumah sakit tampak terasa sunyi segala aktifitas mulai berkurang, hanya ada beberapa suster yang bolak balik memasuki ruangan pasien. Sementara Zein mengobservasi pasien dan kemudian kembali keruangnya tiba-tiba ia teringat pada sebuah buku jurnal kedokterannya yang ia selipkan ditasnya. Rasa penasaran tadi malam kembali mendorong hasratnya untuk mengetahui isi dari dalam buku itu. Lalu tiba-tiba diraihnya kemudian dibukanya secara berlahan, tepat ditengah buku terselip sebuah surat. Surat pertamanya yang ia dapat dari seorang wanita sejak 11 tahun yang lalu bertepatan dengan hari perisahan sekolah. Yang ia sendiri tidak tau dari mana surat itu berasal, yang terdapat pada surat itu hanya nama email wanita tersebut. Sejak saat itu ia terus berusaha mencari tau siapa wanita itu. melalui email, setelah beberapa tahun mereka berhubungan melalui email, gadis itu kemudian memberikan alamat blognya, sejak saat itu Zein lebih suka menghabiskan waktunya membaca artikel pada blog tersebut.

Artikel yang menggugah jiwanya. kali ini bukan karena gadis yang 11 tahun lalu yang mengirimkan surat padanya, tapi karena cerita yang terdapat dari blognya. Gadis pada blog itu mampu mengaduk-aduk perasaanya. Terutama dengan judul artikel pacaran no, Ta’aruf Yes, Bolehkah saya menyentuhmu dan banyak lagi artikel yang menggugah jiwanya. itulah yang membuat Zein kini lebih cuek terhadap Maya kekasihnya. Kini ia baru menyadari jika dalam agama islam sebenarnya Pacaran itu tidak ada, yang benar adalah ta’aruf. jika ia sudah berusaha mengajak Maya untuk serius, namun Maya terus-terusan saja menolak. Maka salah satu cara untuk menghindari dosa, Ia memikirkan niat untuk mengakhiri hubungan yang tidak jelas itu.
Secara berlahan ia segera membuka kembali surat 11 tahun yang lalu, dan dibacanya

Kepada: Muhammad Zein Akbar

Asalamu’allaikum.

Semoga Allah mencurahkan Rahmatnya kepadamu, surat ini aku tulis dari lubuk hatiku paling dalam. Untuk satu buah nama yaitu Muhammad zein akbar. Yang namanya tersohor disekolah ini. Apalah diriku ini seorang gadis malang, yang diam-diam menyukai seorang pria sepertimu. Bahkan dirimu saja tidak mengenal diriku yang entah dari mana asalnya, berbeda dengan gadis lain.

Hari ini adalah hari perpisahan sekolah, aku berharap setelah lulus dari sini kamu mendapatkan sekolahan terbaik, dan semoga Allah selalu menjaga dan melindungimu. Kelak jika kau menjadi seorang ternama, teruslah rendah hati. Terutama jauhilah dirimu dari rasa sombong, sebab kesombongan kelak yang akan menghancurkanmu. Jangan ingat surat ini jika kau merasa terganggu, tapi setidaknya kau ingat sedikit pesanku yang tak berguna itu.

Terima kasih Zein kau telah menerangi setiap langkahku, setidaknya untuk sebuah nama yang membangkitkan semangatku. Kupantrikan namamu sebagai sebuah anugerah dimana aku mulai jatuh cinta kepada anak adam. Anggap saja cinta ini cinta monyet, kelak jika kita dipertemukan dengan cara tak sengaja, mungkin saja aku sudah melupakan ini begitu juga dengan dirimu.
Salam dari pengemar rahasiamu…

Setelah membaca surat itu, ia teringat akan blog dari gadis tersebut. Ia kemudian membuka laptopnya, dan mencari tau profil gadis tersebut. Ya sebuah nama yang sangat ia kenal nama itu Shafira Azahra penulis dalam blog tersebut, namun sejak blog itu ada, penulisnya tidak pernah memposting fotonya. membuat Zein semakin hari semakin penasaran. “Ah, mana mungkin penulis dalam blog ini dan seseorang yang mengirimkan ku surat 11 tahun yang lalu adalah Shafira Azahra temanku. Tapi dia satu sekolah denganku dan nama Shafira hanya satu. Ah sudahlah. Jika kami berjodoh mungkin Allah akan mempertemukan.” Ucapnya dalam hati.
***

Jam menunjukkan pukul 12.00 WIB waktunya istirahat, sebelum makan siang, ia bergegas menemui Shafira teman semasa SMP nya, diruang inap kamar 402. Entah apa yang membawa kakinya melangkah untuk menemui Shafira, namun seperti ada tarikan magnet yang membuat lelaki tampan itu berjalan menuju ruangan Shafira.

Saat hendak menuju ruangan 402 tiba-tiba seorang wanita memanggil namanya dari arah belakang. Suara yang sudah tidak asing lagi berasal dari Maya kekasihnya.
“Zein?”
“Maya, sedang apa kamu disini?”
“Aku ingin bicara sebentar denganmu, bisa!”
“Baiklah kita bicara di Taman saja. Ucapnya, lalu mereka berjalan menuju Taman.
“Ada apa May? Tapi sebelum kamu menjawab pertanyaanku. Izinkan aku menanyakan satu hal padamu?”
“Silahkan.”
“Sampai kapan kita akan seperti ini? Lebih baik kita akhiri saja hubungan ini, jika tak ada niat dihatimu untuk menghalalkan hubungan kita. Ini tidak akan ada gunanya May. Aku doakan semoga kau bahagia dengan pilihan hatimu.”
“Zein maafkan aku jika aku masih meragukanmu, benar katamu untuk apa kita pertahankan jika kita tidak memiliki komitmen. Maaf Zein bukannya aku tidak menyukaimu, namun aku ragu akan dirimu, apa lagi dengan segala pekerjaanmu. sebab jika sekarang saja kamu sangat sibuk, maka tidak menutup kemungkinan kelak jika kita menikah kamu akan lebih sibuk dengan pekerjaanmu. Jadi mari kita akhiri hubungan ini dengan baik-baik. Semoga kamu juga mendapatkan calon istri yang lebih baik dariku.”

Kemudian wanita itu pergi meninggalkan rumah sakit, sementara Zein masih terduduk dibangku Taman sambil memandang ke langit. Ada sebuah bongkahan besar yang bersarang didadanya namun tiba-tiba menghilang berlahan bersama angin. Rasanya ia terlepas dari jeratan yang sangat kuat, kemudian ia menghela nafas lalu mengucapkan Alhamdulillah  berulang kali.

Saat hendak menuju ruangannya, di Taman yang menghadap ruangan inap 402 ia melihat Shafira dengan kursi rodanya sambil memegang laptop. Zein segera menghampiri gadis itu dan mendekat padanya, namun tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah laman yang sedang ditulisnya pada blog itu. ya dia tampak kaget, bahwa penulis dalam blog itu benar Shafira temannya. Seketika ia langsung mengajukan banyak pertanyaan pada gadis itu.
“Jadi selama ini blog dengan alamat Yuliepelangi.blogspot.com itu milikmu? Jadi alamat email dengan Melati_mi@yahoo.com  itu juga milikmu? Dan gadis yang mengirimkanku surat 11 tahun yang lalu saat perpisahan adalah dirimu Shafira? Kenapa kamu tidak jujur padaku sejak awal, kamu sudah membuat aku seperti orang kebingungan dan penasaran bahwa sejak itu kamu adalah gadis pertama yang mengirimkan aku surat. Kenapa kamu rahasiakan dirimu dariku Shafira?”

“Benar Zein itu blogku, dan dari mana kamu tau jika orang dalam blog itu adalah orang yang pernah mengirimkan surat padamu 11 tahun yang lalu? Bukankan sudah aku katakan jangan pernah mengingat diriku. Jadi sudahlah. Aku sudah melupakannya, bukankan kejadian itu sudah 11 tahun yang lalu, bersama waktu perasaankupun juga menghilang. Itu hanya cinta monyet Zein.”

“Sejak aku menerima suratmu, aku dibuat penasaran oleh surat itu, aku mencari tau dirimu dengan menggunakan nama samaran melalui emailmu. Radit itu nama emailku, dua tahun lalu kamu memberikan alamat blogmu sejak saat itu aku terus berusaha mendapatkan berita tentangmu. Namun hasilnya nihil hanya sebuah artikel yang aku dapatkan, nama serta fotomu tidak aku temukan. Namun tiba-tiba minggu lalu kau akhirnya menuliskan nama aslimu Shafira Azahra, itu membuatku merasa aneh. Tapi justru aku tidak menggubrisnya. Tapi bagiku 11 tahun yang lalu adalah sebuah kisah yang sulit bagiku untuk dilupakan, bahwa kau gadis pertama yang mengirimkanku surat.”

“Jadi Radit itu blog milikmu? Sudahlah Zein akupun sudah melupakannya.”
“Benar. Shafira aku masih menyimpan surat itu, hingga kini berharap Allah mempertemukan kita.”
“Untuk apa Zein! Semua tidak ada gunanya.”
“Untuk membuktikan padamu jika aku masih menunggu gadis pengirim surat ini sejak 11 tahun yang lalu, bahwa aku ingin mengatakan padanya. Bahwa aku mengagumi semua artikel yang ia tulis, bahwa aku selalu merasa bahagia dengan artikel pada blog itu. aku ingin seperti Fatih lelaki yang terdapat dalam tulisanmu. Jadi izinkan aku mengenalmu lebih dekat.”

Namun gadis itu terus saja mengelak. Agar Zein mengurungkan niatnya untuk tidak memperdulikannya.
“Dalam agamaku dan agamamu tidak mengenal pacaran kau tau itu? aku rasa kau sudah tau karena kamu sudah membaca semua artikelku. Jadi pantang bagiku untuk merubah keputusanku. Kuakui kesalahanku saat SMP itu adalah kekanak-kanakkan karena saat itu kita belum mengenal cinta dan usiaku belum cukup matang untung berfikir jernih. Jadi aku meminta maaf kepadamu.”

“Tidak Shafira, itu adalah Takdir yang telah Allah siapkan untuk kita. Aku tau siapa dirimu, seorang wanita Sholeha yang menjaga dirinya dengan sangat hati-hati. Semua artikelmu menunjukkan itu. aku ingin menjadikanmu istriku, jadi kumohon terimalah pinanganku.”
“Bagaimana dengan penyakitku ini, aku mengalami penyakit leukemia namun menurut dokter Zoya ini baru stadium awal, menurut beberapa buku yang aku baca. Penyakit ini bisa mematikan.”

Zein kemudian terdiam, ia seperti terguncang. Namun sebisa mungkin ia mengendalikan hatinya. Bukan karena penyakit yang menyerang tubuh gadis itu. tapi ada rasa ingin melindungi gadis yang ia cintai dalam hati selama 11 tahun.
“Percayalah Shafira, Allah tidak akan pernah tidur. Aku percaya Allah akan memberikan kesembuhan untuk gadis soleha sepertimu. Berikan aku alamat rumahmu besok malam aku akan segera melamarmu dan membawa kedua orangtuaku menemui ayah dan ibumu.” Ucapnya dengan lantang

Gadis itu menangis bahagia. Berulang kali ia menyebut nama Allah. Ada kebahagian yang tak pernah ia bayangkan dalam hidupnya, seribu masalah Allah berikan kepadanya. Maka disaat itu pula Allah menurunkan hidayah dan bantuan bagi hambanya yang bersabar. Allah mengirim Dokter Zein untuk membantunya melewati hidupnya yang kelam, Menjadi berwarna. Kini Zein mengerti bahwa takdir itu Indah. Maya yang ia pastikan berjodoh dengannya, ternyata justru gadis 11 tahun yang lalu menghilang kemudian muncul menawarkan kebahagian abadi, kebahagian yang sesungguhnya. wanita sholeha yang akan membawanya kelak menuju syurga. Dan tampak jelas dimata itu seperti ada syurga. Sangat tenang dan teduh.

NB: Terima kasih sudah mau mampir....semoga kita selalu dalam lindungan Allah (Amin)

Komentar

Posting Komentar

Dilarang mengcopy, karena Blog ini dilengkapi dengan pendeteksi pengaman

terima kasih telah berkunjung pada situs Blog ini.

Postingan populer dari blog ini

Minuman sehat Untuk Kita yang Syar’i

Berhijab syar’i bukan menjadi suatu hambatan bagi kita untuk menjalankan suatu aktifitas. Hanya karena kita tidak PD (Percaya Diri) dengan apa yang kita kenakan. Karena merasa kita berbeda dengan yang lainnya. Jangan jadikan syar’imu menghambat karir dan dirimu untuk berkarya. Banyak perusahan yang mau menerima karya dan ilmumu, tak sedikit wanita berhijab syar’i bisa sukses dan jaya bahkan bisa menembus dunia luar. Semua tergantung cara pandang dan berfikirmu. Lakukan yang terbaik, kepakkan sayapmu dan katakan pada dunia bahwa kamu juga bisa seperti mereka. Dulu saya menghabisi banyak waktu untuk kegiatan dengan bekerja di salah satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang otomotif, malam harinya saya harus kuliah, di tambah sabtu minggu saya harus latihan teater, bergabung bersama komunitas Film pendek, pengajian di YISC Al Azhar ditambah harus menyelesaikan naskah, itu semua tidak menghambat saya untuk tetap syar’i. Kalau sudah begitu, sangat penting bagi kita ...

CUKUP MENGAGUMIMU DALAM DO’A

CUKUP MENGAGUMIMU DALAM DO’A (jika dalam raga tak mampu memilikimu, maka dengan do’a aku merasa memilikimu) senja menyapa malam, sisa hujan tadi sore membuatku menelusuri lorong waktu. Detak jam tak seirama dengan suara rintikan hujan, namun dapat memadukan irama yang indah jika didengar dengan penuh cinta. Kenyataan tadi siang telah jauh menghantamku ketebing jurang tertinggi, senyum yang dulu aku harapkan, kini seakan menjadi neraka yang tak ingin aku lihat. jika kuingat kembali kejadian itu, aku hanya ingin meminta kepada tuhan, kenapa harus dirimu orang yang pertama aku cintai? Mengapa harus dirimu orang yang pertama mengisi hatiku? Ya seperti itulah kenyataannya. Kuingat kembali saat pertemuan kita digerbang sekolah, kau berjalan melewatiku dengan aroma wangi tubuhmu, senyumanmu yang memukau membuat seluruh wanita memandangmu. Namun sayangnya senyumanmu itu bukan untukku, tapi untuk wanita yang sedang berdiri anggun didepan taman sambil melambaikan tangann...

KINARA DI UJUNG SENJA PART 2

MALAM itu langkah kaki yang tidak menyisahkan suara, mencekik pernafasannya berulang kali. Sebuah nama yang terngiang jelas di benaknya. Sebuah nama yang tak ingin ia dengar, dan nama itu telah ia kubur dalam-dalam hingga tak membekas sedikitpun dalam memorinya. “Amara dan Ronald bagaimana keadannya sekarang?” Kenny melirik Omanya, ada rasa sesak membuncahkan rasa sakit teramat dalam. Ia kemudian membuang pandang dengan mata yang mulai memerah dan berair. “Oma jangan pernah sebut nama itu di depan saya. Rasanya mendengar namanya saja, membuat saya tak bisa bernafas.” Ucapnya menahan amarah, dengan gigi yang mengeram seakan ia merasakan darahnya berdesir. “Baiklah Oma mengerti.” Ke duanya terdiam. Hening, tak menimbulkan suara. Eva melirik sekilas ke arah Kenny, setelah memastikan cucunya sudah sedikit tenang. Ia kemudian meminta Kenny, untuk memanggil Nara di Pavillion. Mengingat hari ini hari libur, tentunya gadis itu akan sangat bosan, setelah seharian sejak ...