Langsung ke konten utama

KINARA DI UJUNG SENJA PART 2



MALAM itu langkah kaki yang tidak menyisahkan suara, mencekik pernafasannya berulang kali. Sebuah nama yang terngiang jelas di benaknya. Sebuah nama yang tak ingin ia dengar, dan nama itu telah ia kubur dalam-dalam hingga tak membekas sedikitpun dalam memorinya.

“Amara dan Ronald bagaimana keadannya sekarang?” Kenny melirik Omanya, ada rasa sesak membuncahkan rasa sakit teramat dalam. Ia kemudian membuang pandang dengan mata yang mulai memerah dan berair.

“Oma jangan pernah sebut nama itu di depan saya. Rasanya mendengar namanya saja, membuat saya tak bisa bernafas.” Ucapnya menahan amarah, dengan gigi yang mengeram seakan ia merasakan darahnya berdesir.

“Baiklah Oma mengerti.”

Ke duanya terdiam. Hening, tak menimbulkan suara.

Eva melirik sekilas ke arah Kenny, setelah memastikan cucunya sudah sedikit tenang. Ia kemudian meminta Kenny, untuk memanggil Nara di Pavillion. Mengingat hari ini hari libur, tentunya gadis itu akan sangat bosan, setelah seharian sejak siang hingga sore menghabiskan waktu istirahatnya di kamar.

“Kenny bisakah kamu panggil Nara, Oma ingin ngobrol sebentar dengan Nara. Sejak beberapa hari kalian datang, Oma belum sempat ngobrol banyak dengan Kinara. Anak itu lucu, Oma senang akhirnya kamu bisa memiliki teman.” Ucapnya, membuyarkan kecangguan yang sempat terjadi beberapa menit tadi.

Kenny hanya diam tak merespon semua ucapan Omanya, ia berjalan ke arah dapur kemudian tembus ke Pavilion belakang rumah Omanya. Pria dingin itu mengetuk pintu Pavilion yang ditinggali oleh Nara, namun hingga ketukan ke lima tak ada suara reaksi apapun dari dalam sana.

Saat tubuhnya berbalik, sebuah suara menghentikan langkah kakinya.

“Ada apa Kenny?” Ucap Nara dengan suara sengaunya, dari balik kaca kamarnya.

“Keluarlah, Oma ingin berbicara denganmu.”

“Nara lelah, besok pagi aja ya. Bilang Oma.”

“Saya tak peduli. Apapun yang terjadi temui Oma. Kali ini saya berbaik hati, mengizinkanmu menampakkan wajahmu di malam hari.” Ucapnya melangkahkan kaki.

“Maaf Kenny, Nara benar-bener tetap tidak bisa.” Ucapnya kemudian mematikan lampu kamarnya.

Kenny menoleh sekian detik, dengan tatapan jengkel. Dua alisnya yang renggang kemudian mendekat dengan reaksi tak percaya. Hingga Kenny melengus kesal “Anak kecil yang tidak tau diri, tidak memiliki sopan santun kepada yang lebih tua. Seharusnya dia menemui Oma sebentar, setelah itu terserah dia mau melakukan apa!” Ucapnya, hingga kekesalan tampak jelas di matanya.

Pagi itu Nara masuk ke dalam kediaman Eva, dengan wajah polosnya ia menebar senyum kepada semua pekerja yang ada di rumah itu. Kemudian memeluk Eva dari belakang yang sedang duduk di bangku meja makan. Berulang kali dia mengecup pipi kriput Eva dan bertingkah seolah-olah tidak terjadi apapun.

Kenny yang berada di ruang makan, mendesis ketika melihat sikap dan tingkah Nara yang membuatnya semakin memuak kan. Sayup-sayup Kenny menceletuk.

“Tadi malam bertingkah seperti orang yang tidak perduli, dan hari ini bertingkah seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Dasar bermuka dua.” Ucapnya menghentikan makannya, kemudian mengambil tas dan melengus pergi.

“Kenny sebentar, tunggu Nara!” Ucapnya mengejar Kenny.

“Nara, sebentar kamu belum sarapan.” Ucap Eva.

“Tidak apa-apa Oma, Nara makan di kantin aja.” Ucapnya Nara, mengejar sepeda motor Kenny.

Mungkin jika kalian pernah menemukan makhluk seperti Kenny, Kenny adalah makhluk yang sangat menyebalkan. Dia memang tampan dan pintar bahkan Kenny adalah sosok sempurna, namun jika kalian melihat kelakuan dan sopan santunnya nyaris, Kenny tidak memiliki nilai. Entah apa yang membuat lelaki itu begitu dingin dan kejam.

Ia membiarkan Nara berlari dan mengejar sepeda motornya, namun bodohnya gadis itu tidak pernah menghentikan Ojek ataupun angkot untuk bisa tiba di sekolah lebih awal. Itu membuat gambaran jelas, bahwa malam dan siang tidak akan pernah beriringan. Ia akan muncul di waktu yang berbeda. Jika Kenny sianganya, maka Nara adalah malamnya. Maka sampai kapanpun Nara tak akan pernah bisa menaklukkan Kenny yang keras dan berhati dingin itu.

Pagi itu, kedua kalinya Nara terlambat ke sekolah. Pak Jamal Guru Fisika menatap Nara dengan kaca mata di bawah hidungnya. Ia yang selalu pandai mengemas hati orang, membuat Pak Jamal tidak bisa berkata apa-apa.

“Anak baru, tapi sudah terlambat!”

“Bapak tadi Nara ke sekolah jalan kaki. Dan tempat tinggal Nara amatlah jauh!

“Tidak ada alasan, dengan segala bentuk gambaran Jakarta yang terlalu sering di jadikan alasan.”

“Nara jalan kaki sementara Bapak naik motor. Tentunya itu sudah merupakan satu hal yang berbeda. Di mana kecepatan motor lebih cepat di bandingkan seseorang yang berjalan kaki. Jadi wajar jika Bapak datang lebih tepat waktu. Jika Nara memiliki kendaraan pastinya akan melakukan hal yang sama. Memang sih alasan-alasan kuno dan nggak jaman tidak boleh dipertahankan, dan seharusnya Bapak juga melakukan hal yang sama dengan tidak beralasan telat, akibat jalanan yang macet. Bapak kan tau kemacetan di Ibu Kota Jakarta ini memang sudah tidak bisa ditolerin. Seharusnya kemarin Bapak tidak memberikan alasan yang sama. Lalu apakah Nara tidak boleh jika Nara mengatakan hal yang sama. Jangan jadikan kesalahan yang dilakukan siswa dan Guru itu berbeda. Namanya kesalahan tetap kesalahan, dan kemarin Bapak tiba di sekolah jam delapan, lewat tiga puluh lima menit, delapan detik.  Dengan alasan macet. Apakah…” Belum sempat Nara selesai, Pak Jamal lebih dulu menyurunya segera duduk.

“Stop, sekarang kamu duduk.”

“Siap Pak.”

Seluruh Siswa di kelas membulatkan matanya dengan apa yang terjadi di hadapan mereka barusan. Murid-murid yang tadi mengantuk, Nyaris terlelap. Tiba-tiba terjaga dan membulatkan matanya, saat suara Nara seakan menghipnotis mereka. Sikap kekanak-kanakan, polos dan lugunya membuat mereka hanya menggelengkan kepala. Namun seperti biasa Kenny hanya sibuk dengan buku-buku yang ada di tangannya, hingga ia tak peduli apa yang terjadi di sekitarnya.

Dinnar menepuk pundak Kenny dari belakang yang tidak mendapat respon apapun dari Kenny.

“Kenny. Itu anak ajaib ya! kaya orang kesurupan. Kadang dia seperti anak kecil yang bertingkah lucu dan menggemaskan, namun hari ini dia jenius bisa menghentikan hukuman Pak Jamal yang terkenal galak di sekolah ini. Itu anak ajaib banget Ken!” Ucapnya tanpa jeda.

“Jangan berisik.” Ucapnya membungkam mulut Dinnar.

“Dasar manusia spesies aneh.” Ucap Dinnar menggelengkan kepalanya.

Hari itu jam pelajaran Pak Jamal dipercepat, karena ia hanya memberikan sedikit materi kemudian di tutup dengan ulangan. Seperti biasa jika hanya Mayang yang biasanya mendapatkan nilai sempurna, sejak Kenny masuk ke kelas itu Kenny bisa mengambil posisi Mayang. Namun tidak untuk Nara, ia mendapat nilai paling jelek dan ada di posisi tiga puluh dari tiga puluh siswa yang ada di kelas.

“Tadi pagi dia terlihat jenius, tapi mengapa nilainya begitu jelek.” Ucap Dinnar seakan tidak mengerti.

“Entahlah mungkin dia sedang sakit!” Celetuk Lisa, kemudian berjalan ke arah Nara dan tangannya mengayun memeriksa kening gadis itu.

Nara hanya diam, saat tangan mulus Lisa mendarat di keningnya Sementara mata hitam gadis itu menatap cahaya matahari yang saling berpapasan dengan pantulan sinar melalui kaca.

“Nara kamu tidak sakitkan?” Ucap Lisa memegang keningnya.

“Tidak. Nara sehat, tubuh Nara baik-baik saja. Detak jantung Nara normal, tidak ada yang perlu Lisa khawatirkan. Yang kini Lisa khawatirkan adalah Dinnar dia sejak tadi terlalu banyak melamun, mungkin saja belum sarapan sehingga tidak memiliki tenaga dan daya pikirnya menjadi lemah atau…”

“Stop Nara!” Selanya.

Lisa pergi ke kantin meninggalkan Nara, dengan banyak pertanyaan yang berputar-putar di otaknya. Sehingga desas-desus keanehan yang di tunjukkan oleh Nara, terdengar hingga ke ruang guru. Banyak Guru yang berdebat bahwa Nara memiliki keanehan yang tidak biasa, ada juga Guru yang berpendapat bahwa Nara anak ajaib, bahkan ada yang bilang pertumbuhan yang terjadi dengan Nara, tidak seperti anak remaja pada umumnya.

Membuat semua orang merasakan keanehan yang terjadi pada gadis berusia tujuh belas tahun itu. Secara logis ia terlihat pandai dan jenius, meski tingkah dan sikapnya seperti anak-anak SMP yang belum mengerti apa-apa. Namun ketika ia mengikuti pelajaran ia selalu lemah dan nilainya sangat buruk. Apa sebenarnya yang terjadi dengan daya otak Nara yang terkadang jenius dan tiba-tiba menjadi Bodoh.

Hingga keanehan Nara terdengarlah ke kelas IPS. Siswa yang terkenal badung. Saking penasarannya mereka menyusun siasat untuk mengerjai Nara. Hari-hari gadis itu berubah, seperti pori-pori pada terumbu karang. Ada bercak hitam, tak lagi membentang jarak dalam hitungan sekian detik terkikis oleh air laut. Namun gadis itu tak peduli, ia tetap menjadi Nara yang sama saat-saat ia memperkenalkan dirinya sebagai murid baru.

Nara ibarat Banteng akan terus berjalan ke depan, tanpa melihat kiri, kanan, dan belakang. Tak peduli, seseorang membentangkan tangan di perlintasan seolah-olah menyuruhnya menepi. Ini hidupnya, ia yang memiliki hak dalam meksekusi. Berpura-pura tak peduli adalah gaya nyentriknya.

Seperti biasa ia mengikuti Kenny yang berjalan ke kantin. Pria itu mendekatkan tubuhnya dengan menarik kursi berada di seberang Mayang duduk. Nara yang mengikutinya mengambil posisi duduk berada di sebelah Mayang. Saat Nara ingin melayangkan pinggulnya di kursi, ia menarik kembali tubuhnya hingga kini posisinya berdiri.

Dinnar dan Lisa tau apa yang sedang direncanakan oleh Sonia dan teman-temannya, ia memasang jebakan dengan meletakkan lem pada tempat duduk yang ada di samping Mayang. Mayang yang tidak tega, tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan di kantin itu tidak ada satupun mereka yang berani menghadapi Sonia dan teman-temannya.

Mereka yang tau bahwa Nara pasti akan duduk tidak jauh dari Kenny, menyiapkan dua bangku kosong yang sudah mereka prediksikan sebelumnya. Namun bukan Nara namanya jika tidak bisa menciptaka suasana menyenangkan dengan semua tingkah aneh dan lucunya.

“Nara tidak mau duduk di bangku ini!” Ucapnya merengek.

Sementara Kenny tidak peduli, ia sibuk menyantap makanannya. Dan seperti biasa headset selalu tidak pernah lepas dari telingannya.

“Gue udah selesai makannya, Loe duduk aja di bangku Gue!” Ucap Mayang berdiri, dan kemudian berjalan keluar kantin.

“Eh, siapa yang nyuruh Loe berdiri!” Ucap Sonia menghentikan langkah kaki Mayang.

“Kalau begitu, Mayang duduk ditempat Mayang. Dan Teteh yang di sana duduk di kursi ini!” Ucap Nara menunjukkan ke arah Sonia.

“Ngapain Loe nyuruh-nyuruh Gue!” Ucapnya kesal.

“Oke kalau Teteh nggak mau. Pokoknya Nara nggak mau duduk di kursi ini, kursi ini baunya tidak enak seperti ada bau lemnya. Penciuman Nara bisa mencium dari jarak tiga meter. Dan di posisi Nara sekarang berdiri, Nara bisa mencium bau lem yang ada di saku kalian. Dan bau itu sekarang ada di saku roknya Teteh yang di sana, dengan tinggi badan 150 cm, berat badan 45 kg, hobinya gigitin kuku dan sikap joroknya suka ngentut sembarangan, dan lebih jahatnya lagi dia selalu menuduh temannya yang ngentut, padahal yang melakukan adalah dia. Teteh itu cantik, tapi dia jorok, dan Nara tidak suka itu.” Ucapnya pergi kemudian memesan semangkok mie ayam.

Dan semua orang yang ada di kantin tidak bisa menahan gelak tawanya. Semua pecah, termasuk ke tiga teman-teman Sonia. Gadis itu merasa malu dan kemudian pergi dari kantin dengan wajah merah padam.

Mayang yang ada di hadapan Kenny, tertawa melihat tingkah dan keluguan Nara. Diam-diam pria yang ada dihadapannya menurunkan bukunya, hingga ia dapat mengintip dan menikmati setiap ukiran indah dari untaian senyum yang tergambar jelas dari wajah ayu Mayang. Ini adalah pertama kalinya, desiran darah serta detak jantung Kenny berdetak tak semestinya. Senyum Mayang mampu menyihir pria keras kepala dan berhati dingin itu.

Mayang membuang muka ke arah Kenny, cepat-cepat pria itu menaikan bukunya hingga menutupi wajahnya. Mayang hanya tersenyum dan geleng-geleng dengan sikap Kenny yang tidak peka dengan situasi yang terjadi saat itu. Sementara Lisa dan Dinnar memberikan tepuk tangan untuk Nara yang telah berhasil membuat Sonia tidak bisa berkutik sama sekali.

Waktu bergerak menunjukkan jam pelajaran telah selesai. Kenny mengambil sepeda motornya, kemudian berhenti tepat di depan Mayang.

“Kamu mau pulang!” Ucapnya dengan ekspresi datar.

“Ya.” Ucap Mayang tersenyum.

“Naiklah, saya akan antar kamu pulang?”

“Tapi?”

“Naiklah, saya tidak punya banyak waktu.” Ucap Kenny sedikit memaksa.

Sebelum Mayang naik ke sepeda motor milik Kenny, Nara menarik tangan Mayang dan mengambil alih tempat duduk di belakang Kenny.

“Kenny ayo pulang, kaki Nara sudah lemas.” Ucapnya manja.

“Turun!”

“Kenny, kaki Nara letih.” Ucapnya merengek.

“Turun!” gertaknya dengan nada meninggi.

“Ken, nggak apa-apa Gue bisa pulang bareng Dinnar dan Lisa. Loe sama Nara aja.” Ucapnya kemudian menghampiri Lisa dan Dinnar.

Kenny yang saat itu marah besar, mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Ia tak peduli jika saat itu Nara sudah sangat ketakutan dan merengek untuk turun. Sesampainya di rumah, Kenny masuk dengan wajah jengkel meninggalkan Nara yang masih berada di atas motor. Ia kemudian turun dengan tubuh yang lemas, hingga kedua kakinya sulit berpijak, jalannya sempoyongan hingga tak sengaja menabrak lukisan yang terpajang di ruang tengah. Seketika suara kaca pecah menghentikan semua aktifitas orang-orang yang ada di rumah itu, untuk berlari menuju titik suara tersebut.

Bi Ela pembantu yang ada di rumah itu memasang wajah cemas, begitupun Pak Ogah supir Eva, menggeleng-geleng dengan tangan yang ada di keningnya. Semuannya menjadi tegang, saat Kenny turun dari kamarnya. Bi Ela dan Pak Ogah menarik ludahnya ke krongkongan setelah beberapa saat bidikan mata Kenny tajam menatap Nara, dengan penuh amarah dan benci.
Ya Tuhan apa yang akan terjadi? Ini seperti membangunkan singa tidur, saya harus mencari Bu Eva.” Ucap Bi Ela dalam hatinya, sambil menghembuskan napas panjang. 

Komentar

  1. akhirnya udah keluar juga part 2. Hahaha ternyata selain aneh Nara itu lucu banget ya, tapi kok dia bisa tau sih sedetail itu? jangan-jangan sebenarnya dia itu alien ya Kak hahahaha. Kayanya Kenny mulai suka deh sama Mayang. aku penasaran apa yang bakal Kenny lakuin ke Nara... Lanjut part 3 dong kak, updatenya jangan lama-lama. sejauh ini sesuai dengan ekpetasiku :)

    BalasHapus
  2. part 2 nya udah keluar aja. Tah kan part 2 nya udah mulai menggigit. Mulai ada konflik, dan saya mulai membenci Kenny. Tapi saya mulai penasaran dengan apa yang terjadi dengan Nara, Lalu saya ingin tau siapa Amara dan Ronald, terus ngapain si Kenny ngajak Mayang pulang bareng, ets kenapa Nara gak mau keluar kamar ya? ahhh terlalu banyak rahasia, sehingga membuat saya membenci menunggu part 3 segera dikeluarkan hahahahaha,,,,

    BalasHapus
  3. Dari tadi mau komen gx bisa"terus. Baca tulisan kk itu kaya makan permen nano tau gax. Ada manis dan asemnya. Ada sedih dan lucunya �� itu si Nara tau aja kalau si Sonia suka kentut dan gigitin kuku ������ jangan-jangan dia deektif lagi.. kalau ada novelnya aku bakalan beli kak ��

    BalasHapus
  4. Terima ksih sudah berkunjung
    ditunggu part 3 nya ya

    BalasHapus

Posting Komentar

Dilarang mengcopy, karena Blog ini dilengkapi dengan pendeteksi pengaman

terima kasih telah berkunjung pada situs Blog ini.

Postingan populer dari blog ini

Minuman sehat Untuk Kita yang Syar’i

Berhijab syar’i bukan menjadi suatu hambatan bagi kita untuk menjalankan suatu aktifitas. Hanya karena kita tidak PD (Percaya Diri) dengan apa yang kita kenakan. Karena merasa kita berbeda dengan yang lainnya. Jangan jadikan syar’imu menghambat karir dan dirimu untuk berkarya. Banyak perusahan yang mau menerima karya dan ilmumu, tak sedikit wanita berhijab syar’i bisa sukses dan jaya bahkan bisa menembus dunia luar. Semua tergantung cara pandang dan berfikirmu. Lakukan yang terbaik, kepakkan sayapmu dan katakan pada dunia bahwa kamu juga bisa seperti mereka. Dulu saya menghabisi banyak waktu untuk kegiatan dengan bekerja di salah satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang otomotif, malam harinya saya harus kuliah, di tambah sabtu minggu saya harus latihan teater, bergabung bersama komunitas Film pendek, pengajian di YISC Al Azhar ditambah harus menyelesaikan naskah, itu semua tidak menghambat saya untuk tetap syar’i. Kalau sudah begitu, sangat penting bagi kita ...

CUKUP MENGAGUMIMU DALAM DO’A

CUKUP MENGAGUMIMU DALAM DO’A (jika dalam raga tak mampu memilikimu, maka dengan do’a aku merasa memilikimu) senja menyapa malam, sisa hujan tadi sore membuatku menelusuri lorong waktu. Detak jam tak seirama dengan suara rintikan hujan, namun dapat memadukan irama yang indah jika didengar dengan penuh cinta. Kenyataan tadi siang telah jauh menghantamku ketebing jurang tertinggi, senyum yang dulu aku harapkan, kini seakan menjadi neraka yang tak ingin aku lihat. jika kuingat kembali kejadian itu, aku hanya ingin meminta kepada tuhan, kenapa harus dirimu orang yang pertama aku cintai? Mengapa harus dirimu orang yang pertama mengisi hatiku? Ya seperti itulah kenyataannya. Kuingat kembali saat pertemuan kita digerbang sekolah, kau berjalan melewatiku dengan aroma wangi tubuhmu, senyumanmu yang memukau membuat seluruh wanita memandangmu. Namun sayangnya senyumanmu itu bukan untukku, tapi untuk wanita yang sedang berdiri anggun didepan taman sambil melambaikan tangann...