MALAM
itu langkah kaki yang tidak menyisahkan suara, mencekik pernafasannya berulang
kali. Sebuah nama yang terngiang jelas di benaknya. Sebuah nama yang tak ingin
ia dengar, dan nama itu telah ia kubur dalam-dalam hingga tak membekas
sedikitpun dalam memorinya.
“Amara
dan Ronald bagaimana keadannya sekarang?” Kenny melirik Omanya, ada rasa sesak
membuncahkan rasa sakit teramat dalam. Ia kemudian membuang pandang dengan mata
yang mulai memerah dan berair.
“Oma
jangan pernah sebut nama itu di depan saya. Rasanya mendengar namanya saja,
membuat saya tak bisa bernafas.” Ucapnya menahan amarah, dengan gigi yang
mengeram seakan ia merasakan darahnya berdesir.
“Baiklah
Oma mengerti.”
Ke
duanya terdiam. Hening, tak menimbulkan suara.
Eva melirik sekilas ke arah Kenny, setelah
memastikan cucunya sudah sedikit tenang. Ia kemudian meminta Kenny, untuk
memanggil Nara di Pavillion. Mengingat hari ini hari libur, tentunya gadis itu
akan sangat bosan, setelah seharian sejak siang hingga sore menghabiskan waktu
istirahatnya di kamar.
“Kenny bisakah kamu panggil Nara, Oma ingin
ngobrol sebentar dengan Nara. Sejak beberapa hari kalian datang, Oma belum
sempat ngobrol banyak dengan Kinara. Anak itu lucu, Oma senang akhirnya kamu
bisa memiliki teman.” Ucapnya, membuyarkan kecangguan yang sempat terjadi
beberapa menit tadi.
Kenny
hanya diam tak merespon semua ucapan Omanya, ia berjalan ke arah dapur kemudian
tembus ke Pavilion belakang rumah Omanya. Pria dingin itu mengetuk pintu
Pavilion yang ditinggali oleh Nara, namun hingga ketukan ke lima tak ada suara
reaksi apapun dari dalam sana.
Saat
tubuhnya berbalik, sebuah suara menghentikan langkah kakinya.
“Ada
apa Kenny?” Ucap Nara dengan suara sengaunya, dari balik kaca kamarnya.
“Keluarlah,
Oma ingin berbicara denganmu.”
“Nara
lelah, besok pagi aja ya. Bilang Oma.”
“Saya
tak peduli. Apapun yang terjadi temui Oma. Kali ini saya berbaik hati,
mengizinkanmu menampakkan wajahmu di malam hari.” Ucapnya melangkahkan kaki.
“Maaf
Kenny, Nara benar-bener tetap tidak bisa.” Ucapnya kemudian mematikan lampu
kamarnya.
Kenny
menoleh sekian detik, dengan tatapan jengkel. Dua alisnya yang renggang
kemudian mendekat dengan reaksi tak percaya. Hingga Kenny melengus kesal “Anak
kecil yang tidak tau diri, tidak memiliki sopan santun kepada yang lebih tua.
Seharusnya dia menemui Oma sebentar, setelah itu terserah dia mau melakukan
apa!” Ucapnya, hingga kekesalan tampak jelas di matanya.
Pagi
itu Nara masuk ke dalam kediaman Eva, dengan wajah polosnya ia menebar senyum
kepada semua pekerja yang ada di rumah itu. Kemudian memeluk Eva dari belakang
yang sedang duduk di bangku meja makan. Berulang kali dia mengecup pipi kriput
Eva dan bertingkah seolah-olah tidak terjadi apapun.
Kenny
yang berada di ruang makan, mendesis ketika melihat sikap dan tingkah Nara yang
membuatnya semakin memuak kan. Sayup-sayup Kenny menceletuk.
“Tadi
malam bertingkah seperti orang yang tidak perduli, dan hari ini bertingkah
seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Dasar bermuka dua.” Ucapnya menghentikan
makannya, kemudian mengambil tas dan melengus pergi.
“Kenny
sebentar, tunggu Nara!” Ucapnya mengejar Kenny.
“Nara,
sebentar kamu belum sarapan.” Ucap Eva.
“Tidak
apa-apa Oma, Nara makan di kantin aja.” Ucapnya Nara, mengejar sepeda motor
Kenny.
Mungkin
jika kalian pernah menemukan makhluk seperti Kenny, Kenny adalah makhluk yang
sangat menyebalkan. Dia memang tampan dan pintar bahkan Kenny adalah sosok
sempurna, namun jika kalian melihat kelakuan dan sopan santunnya nyaris, Kenny
tidak memiliki nilai. Entah apa yang membuat lelaki itu begitu dingin dan
kejam.
Ia
membiarkan Nara berlari dan mengejar sepeda motornya, namun bodohnya gadis itu
tidak pernah menghentikan Ojek ataupun angkot untuk bisa tiba di sekolah lebih
awal. Itu membuat gambaran jelas, bahwa malam dan siang tidak akan pernah
beriringan. Ia akan muncul di waktu yang berbeda. Jika Kenny sianganya, maka
Nara adalah malamnya. Maka sampai kapanpun Nara tak akan pernah bisa
menaklukkan Kenny yang keras dan berhati dingin itu.
Pagi
itu, kedua kalinya Nara terlambat ke sekolah. Pak Jamal Guru Fisika menatap
Nara dengan kaca mata di bawah hidungnya. Ia yang selalu pandai mengemas hati
orang, membuat Pak Jamal tidak bisa berkata apa-apa.
“Anak
baru, tapi sudah terlambat!”
“Bapak
tadi Nara ke sekolah jalan kaki. Dan tempat tinggal Nara amatlah jauh!
“Tidak
ada alasan, dengan segala bentuk gambaran Jakarta yang terlalu sering di
jadikan alasan.”
“Nara
jalan kaki sementara Bapak naik motor. Tentunya itu sudah merupakan satu hal
yang berbeda. Di mana kecepatan motor lebih cepat di bandingkan seseorang yang
berjalan kaki. Jadi wajar jika Bapak datang lebih tepat waktu. Jika Nara
memiliki kendaraan pastinya akan melakukan hal yang sama. Memang sih
alasan-alasan kuno dan nggak jaman tidak boleh dipertahankan, dan seharusnya
Bapak juga melakukan hal yang sama dengan tidak beralasan telat, akibat jalanan
yang macet. Bapak kan tau kemacetan di Ibu Kota Jakarta ini memang sudah tidak
bisa ditolerin. Seharusnya kemarin Bapak tidak memberikan alasan yang sama.
Lalu apakah Nara tidak boleh jika Nara mengatakan hal yang sama. Jangan jadikan
kesalahan yang dilakukan siswa dan Guru itu berbeda. Namanya kesalahan tetap
kesalahan, dan kemarin Bapak tiba di sekolah jam delapan, lewat tiga puluh lima
menit, delapan detik. Dengan alasan
macet. Apakah…” Belum sempat Nara selesai, Pak Jamal lebih dulu menyurunya
segera duduk.
“Stop,
sekarang kamu duduk.”
“Siap
Pak.”
Seluruh Siswa di kelas membulatkan matanya dengan apa yang terjadi di hadapan mereka
barusan. Murid-murid yang tadi mengantuk, Nyaris terlelap. Tiba-tiba terjaga
dan membulatkan matanya, saat suara Nara seakan menghipnotis mereka. Sikap
kekanak-kanakan, polos dan lugunya membuat mereka hanya menggelengkan kepala.
Namun seperti biasa Kenny hanya sibuk dengan buku-buku yang ada di tangannya,
hingga ia tak peduli apa yang terjadi di sekitarnya.
Dinnar
menepuk pundak Kenny dari belakang yang tidak mendapat respon apapun dari
Kenny.
“Kenny.
Itu anak ajaib ya! kaya orang kesurupan. Kadang dia seperti anak kecil yang bertingkah
lucu dan menggemaskan, namun hari ini dia jenius bisa menghentikan hukuman Pak
Jamal yang terkenal galak di sekolah ini. Itu anak ajaib banget Ken!” Ucapnya
tanpa jeda.
“Jangan
berisik.” Ucapnya membungkam mulut Dinnar.
“Dasar
manusia spesies aneh.” Ucap Dinnar menggelengkan kepalanya.
Hari
itu jam pelajaran Pak Jamal dipercepat, karena ia hanya memberikan sedikit
materi kemudian di tutup dengan ulangan. Seperti biasa jika hanya Mayang yang
biasanya mendapatkan nilai sempurna, sejak Kenny masuk ke kelas itu Kenny bisa
mengambil posisi Mayang. Namun tidak untuk Nara, ia mendapat nilai paling jelek
dan ada di posisi tiga puluh dari tiga puluh siswa yang ada di kelas.
“Tadi
pagi dia terlihat jenius, tapi mengapa nilainya begitu jelek.” Ucap Dinnar seakan
tidak mengerti.
“Entahlah
mungkin dia sedang sakit!” Celetuk Lisa, kemudian berjalan ke arah Nara dan
tangannya mengayun memeriksa kening gadis itu.
Nara
hanya diam, saat tangan mulus Lisa mendarat di keningnya Sementara mata hitam
gadis itu menatap cahaya matahari yang saling berpapasan dengan pantulan sinar
melalui kaca.
“Nara
kamu tidak sakitkan?” Ucap Lisa memegang keningnya.
“Tidak.
Nara sehat, tubuh Nara baik-baik saja. Detak jantung Nara normal, tidak ada
yang perlu Lisa khawatirkan. Yang kini Lisa khawatirkan adalah Dinnar dia sejak
tadi terlalu banyak melamun, mungkin saja belum sarapan sehingga tidak memiliki
tenaga dan daya pikirnya menjadi lemah atau…”
“Stop
Nara!” Selanya.
Lisa
pergi ke kantin meninggalkan Nara, dengan banyak pertanyaan yang berputar-putar
di otaknya. Sehingga desas-desus keanehan yang di tunjukkan oleh Nara,
terdengar hingga ke ruang guru. Banyak Guru yang berdebat bahwa Nara memiliki
keanehan yang tidak biasa, ada juga Guru yang berpendapat bahwa Nara anak
ajaib, bahkan ada yang bilang pertumbuhan yang terjadi dengan Nara, tidak
seperti anak remaja pada umumnya.
Membuat
semua orang merasakan keanehan yang terjadi pada gadis berusia tujuh belas
tahun itu. Secara logis ia terlihat pandai dan jenius, meski tingkah dan
sikapnya seperti anak-anak SMP yang belum mengerti apa-apa. Namun ketika ia
mengikuti pelajaran ia selalu lemah dan nilainya sangat buruk. Apa sebenarnya
yang terjadi dengan daya otak Nara yang terkadang jenius dan tiba-tiba menjadi
Bodoh.
Hingga
keanehan Nara terdengarlah ke kelas IPS. Siswa yang terkenal badung. Saking
penasarannya mereka menyusun siasat untuk mengerjai Nara. Hari-hari gadis itu
berubah, seperti pori-pori pada terumbu karang. Ada bercak hitam, tak lagi
membentang jarak dalam hitungan sekian detik terkikis oleh air laut. Namun
gadis itu tak peduli, ia tetap menjadi Nara yang sama saat-saat ia
memperkenalkan dirinya sebagai murid baru.
Nara
ibarat Banteng akan terus berjalan ke depan, tanpa melihat kiri, kanan, dan
belakang. Tak peduli, seseorang membentangkan tangan di perlintasan seolah-olah
menyuruhnya menepi. Ini hidupnya, ia yang memiliki hak dalam meksekusi.
Berpura-pura tak peduli adalah gaya nyentriknya.
Seperti
biasa ia mengikuti Kenny yang berjalan ke kantin. Pria itu mendekatkan tubuhnya
dengan menarik kursi berada di seberang Mayang duduk. Nara yang mengikutinya
mengambil posisi duduk berada di sebelah Mayang. Saat Nara ingin melayangkan
pinggulnya di kursi, ia menarik kembali tubuhnya hingga kini posisinya berdiri.
Dinnar
dan Lisa tau apa yang sedang direncanakan oleh Sonia dan teman-temannya, ia
memasang jebakan dengan meletakkan lem pada tempat duduk yang ada di samping
Mayang. Mayang yang tidak tega, tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan di kantin
itu tidak ada satupun mereka yang berani menghadapi Sonia dan teman-temannya.
Mereka
yang tau bahwa Nara pasti akan duduk tidak jauh dari Kenny, menyiapkan dua
bangku kosong yang sudah mereka prediksikan sebelumnya. Namun bukan Nara
namanya jika tidak bisa menciptaka suasana menyenangkan dengan semua tingkah
aneh dan lucunya.
“Nara
tidak mau duduk di bangku ini!” Ucapnya merengek.
Sementara
Kenny tidak peduli, ia sibuk menyantap makanannya. Dan seperti biasa headset
selalu tidak pernah lepas dari telingannya.
“Gue
udah selesai makannya, Loe duduk aja di bangku Gue!” Ucap Mayang berdiri, dan
kemudian berjalan keluar kantin.
“Eh,
siapa yang nyuruh Loe berdiri!” Ucap Sonia menghentikan langkah kaki Mayang.
“Kalau
begitu, Mayang duduk ditempat Mayang. Dan Teteh yang di sana duduk di kursi
ini!” Ucap Nara menunjukkan ke arah Sonia.
“Ngapain
Loe nyuruh-nyuruh Gue!” Ucapnya kesal.
“Oke
kalau Teteh nggak mau. Pokoknya Nara nggak mau duduk di kursi ini, kursi ini
baunya tidak enak seperti ada bau lemnya. Penciuman Nara bisa mencium dari
jarak tiga meter. Dan di posisi Nara sekarang berdiri, Nara bisa mencium bau
lem yang ada di saku kalian. Dan bau itu sekarang ada di saku roknya Teteh yang
di sana, dengan tinggi badan 150 cm, berat badan 45 kg, hobinya gigitin kuku
dan sikap joroknya suka ngentut sembarangan, dan lebih jahatnya lagi dia selalu
menuduh temannya yang ngentut, padahal yang melakukan adalah dia. Teteh itu
cantik, tapi dia jorok, dan Nara tidak suka itu.” Ucapnya pergi kemudian memesan
semangkok mie ayam.
Dan
semua orang yang ada di kantin tidak bisa menahan gelak tawanya. Semua pecah,
termasuk ke tiga teman-teman Sonia. Gadis itu merasa malu dan kemudian pergi
dari kantin dengan wajah merah padam.
Mayang
yang ada di hadapan Kenny, tertawa melihat tingkah dan keluguan Nara. Diam-diam
pria yang ada dihadapannya menurunkan bukunya, hingga ia dapat mengintip dan
menikmati setiap ukiran indah dari untaian senyum yang tergambar jelas dari
wajah ayu Mayang. Ini adalah pertama kalinya, desiran darah serta detak jantung
Kenny berdetak tak semestinya. Senyum Mayang mampu menyihir pria keras kepala
dan berhati dingin itu.
Mayang
membuang muka ke arah Kenny, cepat-cepat pria itu menaikan bukunya hingga
menutupi wajahnya. Mayang hanya tersenyum dan geleng-geleng dengan sikap Kenny
yang tidak peka dengan situasi yang terjadi saat itu. Sementara Lisa dan Dinnar
memberikan tepuk tangan untuk Nara yang telah berhasil membuat Sonia tidak bisa
berkutik sama sekali.
Waktu
bergerak menunjukkan jam pelajaran telah selesai. Kenny mengambil sepeda
motornya, kemudian berhenti tepat di depan Mayang.
“Kamu
mau pulang!” Ucapnya dengan ekspresi datar.
“Ya.”
Ucap Mayang tersenyum.
“Naiklah,
saya akan antar kamu pulang?”
“Tapi?”
“Naiklah,
saya tidak punya banyak waktu.” Ucap Kenny sedikit memaksa.
Sebelum
Mayang naik ke sepeda motor milik Kenny, Nara menarik tangan Mayang dan
mengambil alih tempat duduk di belakang Kenny.
“Kenny
ayo pulang, kaki Nara sudah lemas.” Ucapnya manja.
“Turun!”
“Kenny,
kaki Nara letih.” Ucapnya merengek.
“Turun!”
gertaknya dengan nada meninggi.
“Ken,
nggak apa-apa Gue bisa pulang bareng Dinnar dan Lisa. Loe sama Nara aja.”
Ucapnya kemudian menghampiri Lisa dan Dinnar.
Kenny
yang saat itu marah besar, mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Ia tak
peduli jika saat itu Nara sudah sangat ketakutan dan merengek untuk turun.
Sesampainya di rumah, Kenny masuk dengan wajah jengkel meninggalkan Nara yang
masih berada di atas motor. Ia kemudian turun dengan tubuh yang lemas, hingga
kedua kakinya sulit berpijak, jalannya sempoyongan hingga tak sengaja menabrak
lukisan yang terpajang di ruang tengah. Seketika suara kaca pecah menghentikan
semua aktifitas orang-orang yang ada di rumah itu, untuk berlari menuju titik
suara tersebut.
Bi
Ela pembantu yang ada di rumah itu memasang wajah cemas, begitupun Pak Ogah
supir Eva, menggeleng-geleng dengan tangan yang ada di keningnya. Semuannya
menjadi tegang, saat Kenny turun dari kamarnya. Bi Ela dan Pak Ogah menarik
ludahnya ke krongkongan setelah beberapa saat bidikan mata Kenny tajam menatap
Nara, dengan penuh amarah dan benci.
“Ya Tuhan apa yang akan terjadi? Ini seperti
membangunkan singa tidur, saya harus mencari Bu Eva.” Ucap Bi Ela dalam
hatinya, sambil menghembuskan napas panjang.
akhirnya udah keluar juga part 2. Hahaha ternyata selain aneh Nara itu lucu banget ya, tapi kok dia bisa tau sih sedetail itu? jangan-jangan sebenarnya dia itu alien ya Kak hahahaha. Kayanya Kenny mulai suka deh sama Mayang. aku penasaran apa yang bakal Kenny lakuin ke Nara... Lanjut part 3 dong kak, updatenya jangan lama-lama. sejauh ini sesuai dengan ekpetasiku :)
BalasHapuspart 2 nya udah keluar aja. Tah kan part 2 nya udah mulai menggigit. Mulai ada konflik, dan saya mulai membenci Kenny. Tapi saya mulai penasaran dengan apa yang terjadi dengan Nara, Lalu saya ingin tau siapa Amara dan Ronald, terus ngapain si Kenny ngajak Mayang pulang bareng, ets kenapa Nara gak mau keluar kamar ya? ahhh terlalu banyak rahasia, sehingga membuat saya membenci menunggu part 3 segera dikeluarkan hahahahaha,,,,
BalasHapusDari tadi mau komen gx bisa"terus. Baca tulisan kk itu kaya makan permen nano tau gax. Ada manis dan asemnya. Ada sedih dan lucunya �� itu si Nara tau aja kalau si Sonia suka kentut dan gigitin kuku ������ jangan-jangan dia deektif lagi.. kalau ada novelnya aku bakalan beli kak ��
BalasHapusTerima ksih sudah berkunjung
BalasHapusditunggu part 3 nya ya