“Perkenalkan
nama saya Kenny Maurer! Kalian bisa panggil saya Kenny. Saya pindahan dari
Bandung.” Ucapnya singkat dan dingin.
Seisi
kelas dua SMA Putra Bangsa pecah, terutama para wanita. Mereka semua
berbisik-bisik, seakan memenangkan undian berhadiah. Ketampanan Kenny mampu membius,
semua wanita yang ada di kelas. Terutama Mayang gadis yang cukup popular di
sekolah itu.
“Jangan
Berisik, jika ada yang bersuara kalian saya hukum, tidak mengikuti pelajaran
saya sampai selesai. Mengerti!!” Ucap Pak anto, memukul penggaris ke papan
tulis.
“Baik
Pak.” Ucap mereka serentak.
“Sekarang
giliran kamu, silahkan perkenalkan namamu?”
Panggil
Pak Anto mempersilahkan wanita aneh dengan penampilan yang tidak mengenakkan.
Untuk memperkenalkan dirinya.
“Hai…teman-teman!
Perkenalkan nama saya Kinara Embun, Kalian bisa panggil saya Kinar atau Nara.
Kata Ibu saya Kinara itu artinya Titik Pertemuan, berharap perkenalan kita hari
ini menjadi awal titik pertemuan kita untuk hari esok yang lebih indah. Saya
pindahan dari Bandung Juga sama seperti Kenny. Hobbi saya selalu ada didekat
Kenny dan ke mana-mana selalu bersama Kenny,” Seisi kelas tertawa
terpingkal-pingkal, saat Nara memperkenalkan dirinya.
Nara
adalah gadis unik dengan sejuta keindahan. Ia memiliki sisi yang berbeda dengan
teman-teman seusiannya. Sikapnya yang selalu cenderung bertingkah seperti anak
kecil, membuat seluruh teman-teman di kelasnya mendapatkan angin segar.
Sikap
Nara yang cuek dengan kehidupan Zaman Now, menjadi daya tarik tersendiri bagi
teman-temannya di kelas. Ia mampu membuat teman-teman di dekatnya selalu
tertawa. Nara seakan memberikan kedamaian, Ketenangan, serta penawar dari
bentuk masalah, akan sikap lucu dan konyolnya. Namun ada rahasia besar yang
tidak satupun orang tau, termasuk Kenny.
Kenny
berbeda 180° dengan Nara. Pria berbada atletis itu memiliki tubuh yang
sempurna, kaki panjang dan kulit putih. Hobinya bermain bola, tampak jelas dari
bentuk tubuhnya itu. Namun anehnya, cowok perfect itu tidak risih jika selalu
di ikuti bahkan dibayang-bayangi oleh gadis yang sebagian orang menganggap Nara
itu adalah gadis paling aneh tapi menyenangkan.
Bagaimana
tidak aneh, ia selalu berpakaian layaknya anak SMP dengan baju yang di masukan
ke dalam rok, seperti pelawak Jojon. Belum lagi dengan rambut di kuncir dua,
kaos kaki yang tingginya hingga ke paha, dan kaca mata bulatnya yang tidak
pernah lepas dari bola mata hitamnya.
Nara
mengambil posisi duduk di samping Kenny, dengan cara berjalannya seperti anak
kecil. Sontak membuat mereka semua tertawa, namun tidak bagi Kenny. Ia sudah biasa
melihat tingkah aneh dan ke kanak-kanakan Nara, bahkan Nara seperti bayangan
yang tidak pernah dianggap ada oleh Kenny. Meski Nara selalu berjalan di
belakang Kenny, namun kehadirannya nyata ada dikehidupannya.
Nara
dan Kenny dua sisi yang berbeda. Jika Kenny Tampan, pintar dan selalu menjadi
yang terbaik. Berbeda dengan Nara ia gadis yang aneh tidak begitu jelek dan
juga cantik, Bodoh, tapi selalu bisa menciptakan suasana bahagia di
tengah-tengah kesemberautan otak menghadapai PR, ulangan serta Ujian.
“Nara!”
Panggil Lisa yang duduknya berada tepat di belakangnya.
“Ya!”
Ucapnya menyenderkan punggungnya pada bangku, agar suara gadis yang ada di
belakangnya terdengar.
“Aku
Lisa, nanti ke kantin bareng yuk?” Bisiknya
Lisa.
“Hmm
aku tidak bisa jauh-jauh dari Kenny. Kamu aja yang ikut denganku?” Ucap Nara
dengan nada bicaranya yang begitu polos.
“Benarkah,
Hmmm baiklah. Tapi nanti kenali sama yang ada disbelah kamu ya,” Ucap Lisa
antusias, dengan menyipitkan de dua belah matanya.
“Oke!”
Nara membalikkan badannya, dan memberikan du jempolnya ke arah Lisa.
Percakapan
Antara Nara dan Lisa singgah di telinga Kenny. Namun seperti biasanya pria itu
tidak pernah peduli dengan apa yang dilakukan Nara, baginya Nara itu tidak
pernah ada. Pria itu memasang headset dan sibuk membaca buku-buku, hingga
otaknya penuh dengan rumus-rumus, analisis dan berbagai macam ilmu di
kepalanya. Tak heran jika Kenny selalu menjadi juara kelas dan bahkan selalu
memenangkan Olimpiade di sekolahnya.
Anehnya
setiap kedekatan Nara dengan Kenny, tidak pernah memancing keributan
gadis-gadis cantik dengan gayanya yang selangit. Tidak seperti cerita anak
sekolah yang identik dengan Bully, ketika pria yang menjadi incarannya lebih
dekat dengan wanita lain, apa lagi wanita aneh.
Mayang
gadis popular dan juga pintar di kelas, diam-diam melirik Kenny. Sesekali
matanya membuang pandang, Nara yang sadar dengan sikap aneh Mayang. Berdiri
kemudian mendekati Mayang di saat jam kosongnya pelajaran.
Nara
meminta Mayang untuk berdiri, kemudian ia duduk dan mengambil buku Mayang dan
mempraktekkan bagaimana Mayang mengintip Dirinya dan Kenny dari balik buku itu.
“Aghhh…tidak
ada yang aneh. Memangnya kalau liat dari buku ini, lebih menarik ya Teh?” Tanya
Nara polos.
Seluruh
kelas yang melihat tingkah Nara tertawa terpingkal-pingkal, dengan tingkah
konyolnya. Namun tidak untuk Mayang, yang terlanjur malu dengan apa yang telah
ia lakukan.
“Teteh...teteh
Panggil aja Gue Mayang. Kitakan seumuran. Tadi Gue ngintip di buku itu, ngeliat
guru. Gue ngantuk! takutnya kalau Gue tidur, terus ada guru masuk, Gue bakalan
kena hukum.”
“Owhhh
gitu, tapi kenapa ngeliatnya ke Nara?”
“Udah
sana duduk. Ke PD an Loe.” Ucapnya melengus kesal.
Nara
kembali ke tempat duduknya, sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Sementara Kenny masih sibuk dengan buku-buku yang ada di tangannya. Meski
suasana kelas sudah heboh dan pecah, namun tetap tidak bisa mengalih perhatian
Kenny dari buku-buku kesayangannya.
Jam
bergerak menunjukkan waktu istirahat, seluruh siswa berhamburan ke kantin.
Namun tidak untuk Kenny, ia memilih berjalan ke taman menamatkan buku-buku
misteri kesukaannya. Sementara Nara selalu melakukan hal yang sama berjalan di
belakang Kenny, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, agar tidak mengganggu
konsentrasi Kenny dalam membaca.
Lisa
yang ada di samping Nara, bingung dengan apa yang Nara lakukan. Sikap Nara
persis seperti pengawal yang siap menjaga majikannya dari sisi manapun.
“Nara,
kita mau ke mana? Sejak tadi hanya mengikuti Kenny yang tidak jelas ini. aku
lapar mau ke kantin.” Bisik Lisa, yang sudah kehabisan kesabaran.
“Oke,
kamu makan saja. Selamat makan.” Ucapnya manis, melambaikan tangan.
Lisa
melengus kesal, sementara Nara berdiri di belakang Kenny. Pria itu berhasil
menamatkan Buku misterinya dengan tebal halaman 360 dalam waktu dua hari. Saat
pria itu menutup bukunya, Nara memberanikan diri bertanya pada Kenny.
“Kenny
tidak lapar? Perut Nara lapar dari tadi.” Rengeknya pada Kenny.
Pria
itu berdiri kemudian berjalan ke kantin, tanpa menanggapi ucapan Nara. Namun gadis
itu tersenyum saat kaki Kenny melangkah ke kantin. Mayang dan yang lainnya asik
menikmati makanannya seketika berhenti, saat melihat Kenny melangkah mencari
meja yang kosong. Tak berapa lama beberapa siswa wanita mengangkat tangannya,
untuk mempersilahkan Kenny duduk di tempat duduknya.
Tiba-tiba
kaki pria dengan rahang tegap berjalan ke arah Mayang, sontak membuat seluruh
mata mengarah padanya. Nara yang tidak kedapatan bangku, merengek seperti anak
kecil meminta Mayang bergeser dari posisinya agar ia bisa duduk.
“Mayang,
Nara duduk di mana? Bangkunya penuh semua.”
“Loe
cari tempat lain lah!"
“Nara
kan nggak bisa jauh dari Kenny, Mayang aja yang pindah ya?”
“Loe
resek banget sih,” Ucap Mayang, kemudian berdiri. Ia memilih mengalah dari pada
harus bertengkar dengan Nara yang dianggapnya anak kecil, hanya karena masalah
sepele.
Kenny
asik menikmati makanannya, sambil mendengarkan lagu yang ada di headsetnya.
Seakan Kenny memiliki dunia sendiri, dunia yang tidak boleh siapapun
memasukinya termasuk Nara.
Nara
sudah enam bulan mengikuti Kenny, sejak dia duduk di kelas dua SMA di Bandung.
Nara adalah gadis sebatang kara, ke dua orangtuanya meninggal karena
kecelakaan. Ia tidak memiliki siapa-siapa lagi, termasuk kerabat. Sejak orang
tuanya meninggal Nara sudah berhenti sekolah, karena biaya sekolah yang begitu
mahal dan akan sulit baginya untuk membayarnya.
Suatu
hari, Nara bertemu dengan Kenny pria yang berhasil menyelamatkannya dari tabrakan
maut sekitar enam bulan yang lalu di Bandung, saat truk ingin menghantam
tubuhnya, tangan sigap Kenny lebih dulu menyelamatkannya.
Saat
itu Kenny adalah penyelamat baginya dan Nara mengikrarkan kepada dirinya bahwa
ia akan selalu menjadi bayangan Kenny. Hingga akhirnya Kenny menjadi risih, berulang
kali pria itu memberikan pengertian untuk tidak bersikap seperti itu padanya.
Kenny
hilang kesabaran. Gadis yang membuatnya pusing, ditambah masalah keluarga yang
tidak kunjung usai. Menyeret pria itu angkat kaki dari Bandung menuju Jakarta.
Hingga akhirnya ia memutuskan untuk tinggal bersama Eva, Omanya. Nara merengek
minta ikut, karena ia tidak memiliki siapa-siapa. Dengan berat hati Kenny
membawa gadis itu ikut dengannya. Namun anehnya, setelah Kenny memperkenalkan
Nara kepada Eva justru Eva sangat bahagia seperti anugerah diberikan cucu
perempuan, yang selama ini ia damba-dambakan. Kedatangan Nara baginya seperti
obat, setelah setahun ia kehilangan cucu perempuannya, akibat tabrakan maut.
Dengan adanya Nara mampu memberikan hari-harinya lebih berwarna, dan pelipur
lara untuknya.
Nara
tinggal di Pavillion milik Eva. Sepulang sekolah ia selalu berada di kediaman
Eva, untuk menemaninya bercerita bahkan melakukan kegiatan yang menyenangkan.
Berbeda dengan Kenny ia menghabiskan waktunya di kamar dengan segudang buku dan
mainan-mainan kesayangannya.
Namun
saat malam menyapa, Nara memilih untuk tidak keluar dari Pavillion. Sama hal
nya saat dulu berada di gudang Villa milik Kenny. Gadis itu selalu mengurung
diri, sehingga tidak ada satupun orang yang tau, bahwa ia bermeditasi dari
hirup pikuk keramaian di siang hari, hingga butuh angin segar dan ketenangan di
malam hari. Kebiasan yang menurut Kenny sangatlah aneh. Namun dengan begitu,
setidaknya waktu malam adalah waktu-waktu terindah untuk Kenny terbebas dari
bayangan-bayangan menakutkan.
Kenny
menghirup udara malam, sambil menyeruput secangkir kopi yang ada di tangannya.
Ia menyender di balkon depan kamarnya yang berada di lantai dua, dengan headset
di telinga diiring lagu Bosson- One In A Million. Ia menikmati setiap bait lagu
itu, hingga beberapa kali matanya terpejam, mendengar alunan musik yang membuat
hatinya begitu tenang.
Saat
ia membuka matanya, tanpa sengaja bola matanya mengarah ke Pavillion tepat di
depan kaca kamar yang ditempati Nara. Bayangan gadis itu berjalan menuju jendela,
sambil menguncir rambutnya. Sehingga membuat mata Kenny enggan beralih.
Bayangan Nara semakin mendekat, hingga berada di tirai jendela. Seketika Kenny
tersedat saat menyeruput kopinya, tiba-tiba ia terbatuk-batuk. Saat Nara
menyimbahkan tirai. Kenny langsung berlari ke dalam, dan segera menutup pintu kaca
kamarnya. Setelah beberapa menit ia berdiri di depan pintu, Kenny mengintip
dari jendela dan lampu kamar Nara sudah padam. Kenny menyandar di pintu,
kemudian terbayang malam itu saat di Bandung, kata-kata yang tidak sengaja
terlontar dari mulutnya.
“Semenjak kamu masuk di
kehidupan saya, hidup saya semakin hancur. Seharusnya kamu tidak berada di
sini, karena kita ibarat magnet yang memiliki kutub yang sama, sehingga tolak
menolak.”
“Kalau begitu Nara akan
rubah magnetnya menjadi tarik menarik!”
“Sampai kapanpun itu
tak akan bisa!”
“Tidak ada yang tidak
mungkin, jika Nara berusaha!”
“Baiklah sampai
kapanpun kamu tidak pernah saya anggap ada dikehidupan saya. hari ini, esok dan
selamanya.”
Nara
hanya terdiam, kemudian berjalan ke dalam kamarnya, yang berada di belakang
gudang Villa milik Kenny.
Kenny
memejamkan mata dan mengusap wajahnya, kemudian berjalan ke ranjang. Pria
itu mengambil gitarnya kemudian mulai memetik senar, sehingga membentuk nada-nada
dan simponi indah. Angin malam yang tercium dari sela-sela ventilasi kamarnya,
membuatnya sangat menikmati malam itu.

menurut saya Judulnya sangat bagus, ada menyiratkan keindahan, dan mengundang rasa penasaran ingin membacanya. Namun setelah dibaca, ceritanya terasa datar, dan seakan2 boleh dikatakan 'hambar'.... Saran mungkin yaa, ini merupakan cerbung yang mestinya ada konflik menggigit disetiap part-nya, sehingga cerita sangat dinanti kehadirannya. Misalnya begini, Kinara itu bersikap aneh karena dia sering diperlakukan aneh jg, mgkn karena tindak kekerasan fisik or mental, hal ini mengakibatkan dia kehilangan panutan, dan menjadikan Kenny sbg sosok itu. Atau mungkin ini yg akan diungkapkan di part berikutnya...mungkin saja ada kejutan, mudah2n. I'll be waiting your story.
BalasHapusTerima Kasih atas masukannya. Ini masih part awal dan masih perkenalan 😊
HapusKalau saya justru suka banget sama jalan ceritanya, seperti hidup Kak. tidak terlalu terburu-buru tapi pasti. namanya perkenalan tentulah masih belum ada konflik, karena masih meraba. aku sih berharap ceritanya sesuai sama ekspetasiku. dan udah gak sabar nunggu part 2 nya. Lagian saya Percaya penulisnya juga pasti punya kejutan tersendiri, jadi jangan terlalu dikendaliin sama penbaca kak. Kalau sama sesuai yang diinginkan pembaca, udah gampang ketebak dong ceritanya. Mending ngikutin kata hati Kakak aja jadi gak gampang nebak jalan ceritanya. Pokoknya Kinara the bestlah, dan Kenny No hahahha
Hapusentah mengapa aku suka sama judul dan ceritanya. awal perkenalan yang cukup menarik, sehingga membuat saya pengen baca lanjutannya. Jadi penasaran Bagaimana kehidupan Nara dan Kenny. kalau saran saya sama dengan Eka, jangan terlalu ngikutin pengennya pembaca pada ujung-ujungnya gampang ditebak. berkreasilah dengan ide-idemu. emang sih kita juga harus memperhitungkan maunya pembaca, tapi tidak semuanya harus diikutin. jadinya kaya dikendaliin, so far aku suka banget, simple tapi ngena. ditunggu ya part 3 nya.
BalasHapus