Langsung ke konten utama

HATI YANG TIDAK AKAN KEMBALI



Ia berjalan tanpa henti menuju Taman Suropati. Wajahnya yang terlihat pucat itu menyimpan seribu pertanyaan yang menyakitkan. Menyimpan kisah yang terlalu pahit untuk dikenang. Hari ini adalah hari bahagianya dengan lelaki yang ia cintai, lelaki yang pernah menghiasi hidupnya dengan keceriaan, canda, dan tawa. Lelaki yang membuat hidupnya berwarna bak pelangi yang menghiasi Langit. Namun apa yang membuatnya bersedih dihari bahagianya itu??
***
            Tepat disini di Artifak Taman Suropati “Peace-Harmony And One” tempat yang menyimpan banyak kenangan, dimana Dilan selalu memberikan banyak kejutan kepadanya. Mulai dari untaian Bunga Mawar yang terbungkus rapi, Kado yang dibungkus dengan kertas berwarna pink dililit cantik dengan pita, dan kejutan- kejutan yang sangat teramat manis untuk dilupakan. Ya, Dilan selalu membuat hidupnya sangat berwarna, bahkan tak pernah setetes air matanya jatuh menyentuh pipi mulusnya. Namun kini hanya kesedihan yang terlihat diwajahnya, wajahnya yang dulu cantik tampak layu bak bunga yang sudah lama tidak disirami air, wajahnya berubah pucat, badannya yang berisi kini semakin kurus tampak tak terurus.

            Dilan cowok yang diimpikan oleh banyak wanita, namun Kanzalah wanita beruntung yang berhasil memikat hati Dilan. Dilan tidak hanya tampan, baik, pintar dan penyayang tapi Dilan adalah Pria yang penuh dengan kelembutan. Malam itu tepat dihari jadian mereka yang ke 5 Tahun Dilan mengajak Kanza bertemu di Taman Suropati, Taman yang menjadi tempat terindah sekaligus tempat yang menyakitkan untuknya. Tepat dimalam itu Dilan dengan lembut membelai rambutnya, karna selama ini Dilan tidak pernah berani menyentuh Kanza kecuali Rambutnya, karna menurut Dilan Kanza adalah wanita yang baik yang harus dijaga, dan dilindungi. Belaian itu terasa beda ada sesuatu yang Kanza tidak mengerti. Namun Ia merasa Dilan tidak seperti biasanya, membelai rambutnya begitu lama sambil memejamkan matanya. Namun tiba-tiba ia membuka sweeter hitamnya dan memakaikannya pada Kanza agar ia tidak masuk angin. Malam saat itu sangat dingin suasananya serasa mencekam. Ditambah dengan sikap Dilan yang tampak tak bersuara sedikitpun. Kanzapun berusaha untuk mencairkan suasana.

“Hai, kamu kepana Lan?”
“Hmmm. Tidak. Hari ini kamu mau aku belikan apa?”

Wajahnya penuh kelembutan dengan senyum terindah, namun terlihat menyedihkan, rasanya ia ingin memeluk Kanza namun ia tau, ia tidak boleh menyentuh wanitanya kecuali membelai rambutnya.

“Aku tidak butuh apa-apa, bersamamu saja sudah cukup bagiku.”
Iapun tersenyum, namun tiba-tiba ada sesuatu yang ingin ia ucapkan tapi terasa sulit untuk diungkapkan.
“Khanza…………” Tiba-tiba ia tidak melanjutkan ucapannya.
“Lan, kamu kenapa? Sejak tadi aku lihat, kamu tidak seperti biasanya.”
“Hmmm nanti kalo kita tidak bersama lagi, kamu mau janjikan sama aku?”
“Kamu ngomong apa sih? Maksudnya apa? Kamu udah gak mau sama aku lagi?”

Sederetan pertanyaan menyerbu Dilan, dan tidak memberikan Dilan kesempatan untuk menjawab pertanyaan Kanza, namun seketika air matanya jatuh membentuk sungai kecil dipipinya, dilihat sekali lagi wajah pacarnya itu. namun terasa kepedihan dihatinya.

“Bukan begitu Sayang, ada saatnya kita tidak selalu bersama. Kedua orangtuaku menjodohkan aku dengan Rena dan aku tidak bisa membantah Ayah dan Ibuku, mereka adalah syurgaku. Kamu adalah orang yang aku cintai, tapi orangtuaku malaikat yang tidak akan pernah bisa aku sakiti, bahkan tak tega rasanya jika melihat mereka terluka. Aku harap kamu mengerti Kanza dengan keputusanku.”

Berita itu seperti menusuk jantung Kanza sampai hati terdalam. Tangisannya semakin kencang, ia kemudian bersimpuh dikaki Dilan. Namun Dilan tidak bisa menahan air matanya. Berlahan iapun ikut menangis dan berusaha untuk menegakkan Kanza.

“kamu udah janji sama aku untuk selalu bersama, terus selama ini apa yang kamu berikan ke aku Lan? Kebohongan, kepalsuan apakah selama 5 Tahun itu tidak ada artinya dimata kamu?”
“tidak Za, kamu sangat berarti dimata aku. Tapi ada kalanya kita hidup tidak selalu bersama. Berjanjilah padaku jika aku tidak ada lagi disampingmu hiduplah dengan baik, dan carilah lelaki yang lebih baik dari aku. Dan pesanku jangan biarkan lelaki itu menyentuh tubuhmu sebelum Ia halal untukmu."

Ia menarik pergelangan tangan Kanza dan mendirikan tubuh Kanza, lalu mendudukkan nya di Bangku Taman. Air mata Kanza belum berenti, sepatah kata belum sempat ia ucapkan, namun Dilan berjalan meninggalkannya dengan berurai air mata, banyanganya semakin jauh samar-samar kemudian menghilang.

Seminggu setelah, ditinggalkan Dilan hidup Kanza berubah total ia hidup tapi seperti mati. Ia lebih sering menghabiskan hari-harinya dikamar, bahkan tubuhnya saja sudah tidak terurus lagi. Senyumnya yang manis seakan menghilang ditelan waktu. Kepergiaan Dilan membuat luka terdalam dihidup Kanza.

2 minggu kemudian terdengar kabar yang sangat tidak mengenakan, kabar yang membuat hatinya semakin tercabik-cabik, membuat hidupnya semakin hancur. Ya kenyataan bahwa Dilan lelaki yang teramat dicintainya itu akan menikahi wanita lain yaitu Rena wanita yang menjadi pilihan kedua orang tuanya. Kepedihan seperti apa lagi yang harus ia tahan. Rasanya dunia seakan tidak ingin berbaik hati kepadanya. Diputuskan Dilan saja sudah membuat ia sakit ditambah kenyataan jika Dilan akan menikahi wanita lain.

Kedua orangtua Kanza dengan sabar memberi pencerahan kepadanya. Semakin hari keadaan Kanzapun membaik. Berlahan semua tentang Dilan membuat ia semakin kuat, bukan lagi tentang kenangan indah, namun hanya kepahitan yang ada dihati Kanza. Sudah 2 tahun semua tentang Dilan menghilang dari hidupnya. Kini ia lebih sering menyibukkan diri dengan kegiatan yang lebih positif.

Sore hari ia berjalan-jalan mencari udara segar, tidak terasa kakinya terus berjalan tanpa henti. Angin sepoi-sepoi mengibarkan rambutnya yang hitam panjang, Semilir angin menerbangkan dedaunan yang kering dari tangkainya. Tiba-tiba kakinya berhenti disebuah Taman yang tak asing lagi untuknya, tepat di Artifak “Peace-Harmony And One” tempat yang menjadi favoritnya. Namun rasa itu sudah terasa hambar ia tidak merasakan apa-apa lagi pada tempat itu. tidak berapa lama ia berdiri disana seorang wanita dari arah samping memastikan sekali lagi, ia memiringkan badannya melihat Kanza. Wanita itu sangat cantik, dengan rambut pendek sebahu senyumnya mengembang. Tampak ia sedang menggendong seorang bayi lucu dengan kulit putih, bayi itu tampak bahagia sambil memainkan kakinya didalam gendongan wanita itu.

“Mba Kanza… benarkan mba Kanza?” sambil menunjuk kearah Kanza
“Iya benar, maaf siapa ya?”
“Aku Rena Mba. Mas Dilan sering liatin foto mba ke aku.”

Saat itu rasanya ia seperti disambar petir, kenyataan yang telah lama ia lupakan dengan susah payah, namun dalam sekejap mengembalikan ingatan itu kembali, ingatan yang teramat menyakitkan. Wanita itu datang dengan seorang bayi lucu dalam dekapannya, senyum wanita itu tampak bahagia. Apa sebenarnya yang ingin ia tunjukkan pada Kanza? Apakah kebahagiannya bersama Dilan atau ingin menunjukkan bahwa ia telah berhasil merebut Dilan darinya? atau mungkin ia ingin menunjukkan kalau ia telah memiliki buah hati bersama Dilan?

Kanza langsung berjalan meninggalkan wanita itu, karna ia tau jika ia terus berlama disitu yang ada hanya kepedihan yang tiada ujung. Namun wanita itu terus saja menghalangi jalan Kanza. Dan menghentikan langkah kaki Kanza.

“Mba Kanza, sebentar Mba aku mau bicara sama mba?”
“Kamu mau bicara apa! aku gak ada waktu untuk mendengar semua tentang kamu bersama Dilan.”
“Sebentar mba ada yang ingin aku sampaikan kepada mba Kanza?”
“Apa Ren! Tentang kebahagian kamu bersama Dilan, atau ingin menunjukkan anak kamu bersama Dilan?”

Amarah Kanza menggebu-gebu dan berusaha melepaskan gengaman Rena dipergelangan tangannya. Namun seorang pria asing menghampiri mereka kemudian berusaha mengambil bayi itu dari gendongan Rena, dan mencoba menghentikan perdebatan Kanza dan Rena.

“Mba please aku mohon, denger aku dulu?” sambil memohon
Ada satu hal yang tidak Kanza mengerti. Siapa lelaki itu? lelaki yang tiba-tiba muncul mengambil bayi dari gendongan Rena, bukankah ayah dari anak itu Dilan? Banyak pertanyaan yang bergelayut dipikirannya.
“Oke, aku gak ada banyak waktu. Coba jelaskan apa yang ingin kamu katakana?”
“Ternyata benar apa kata mas Dilan, mba Kanza cantik.”
“Sudah jangan bertele-tele, langsung saja pada intinya.”
“Mba Kanza maaf kalau selama ini aku udah jahat sama Mba Kanza. Lelaki tadi adalah suami aku mba, kami baru menikah 1 tahun yang lalu. Mas Dilan sekarang ada disini mba (menunjuk Hati) ia akan selalu ada untuk mba Kanza.”
“Maksud kamu apa? Aku gak ngerti, bukannya dia menikah dengan kamu?”

“belum mba, seminggu sebelum hari pernikahan aku dan mas Dilan. Penyakitku semakin parah, ditubuhku ada penyakit tumor, penyakit itu sudah lama. Semakin hari penyakit itu terus menggerogoti hatik. dokter memvonis bahwa sisa hidupku tinggal 3 hari. Dalam waktu 3 hari dari pihak Rumah sakit belum juga mendapatkan donor transplantasi hati. Aku semakin syok dan tidak punya harapan, karna orang tuaku tau kalau aku memiliki impian suatu saat bisa menikah. Dalam fikiranku mana ada lelaki normal yang mau menikahi wanita penyakitan seperti aku, namun ayahku meminta tolong kepada keluarga mas Dilan untuk menjodohkan aku dengannya, Karna orang tua mas Dilan berhutang budi kepada orangtuaku ia menjodohkan aku dengan mas Dilan. Mas Dilan menolak tidak bisa menikah denganku Karna dia hanya mencintai mba Kanza, namun ia juga tidak ingin mengecewakan orangtuanya dan orangtuaku. saat ia hendak pulang dari kantor sebuah mobil menabraknya dari belakang keadaannya kritis. Jika ia mau dokter bisa menyelamatkannya, namun mas Dilan menolak untuk dioperasi dan memberikan hatinya kepadaku, dan ia juga meminta untuk tidak memberitahukannya kepada mba Kanza karena takut mba Kanza akan sedih.”

Saat itu Kanza tidak bisa lagi berkata-kata, lututnya semakin lemas dan seketika dia terduduk. air matanya terus mengalir, bagaimana bisa lelaki sebaik Dilan mengkhianatinya, karna yang ia tau Dilan bukan tipe lelaki seperti itu. namun prasangkanya terhadap Dilan berhasil menguasainya dan membuat ia benar-benar kehilangan Dilan untuk selamanya.

***
Ini bukan lagi tentang kamu sayang…
Tapi tentang aku, aku yang tidak percaya kepadamu
Aku yang terlalu egois, aku yang tidak sepenuhnya mengerti kamu
Semua karna aku. Kisah kita terlalu menyedihkan untuk dikenang, namun tak ingin keindahan itu menghilang.
Kumohon maafkan aku Dilan, tunggu aku disana kita akan bersatu kembali dialam yang kekal

Untuk malaikat terindahku Dilan Akbar Aliansyah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Minuman sehat Untuk Kita yang Syar’i

Berhijab syar’i bukan menjadi suatu hambatan bagi kita untuk menjalankan suatu aktifitas. Hanya karena kita tidak PD (Percaya Diri) dengan apa yang kita kenakan. Karena merasa kita berbeda dengan yang lainnya. Jangan jadikan syar’imu menghambat karir dan dirimu untuk berkarya. Banyak perusahan yang mau menerima karya dan ilmumu, tak sedikit wanita berhijab syar’i bisa sukses dan jaya bahkan bisa menembus dunia luar. Semua tergantung cara pandang dan berfikirmu. Lakukan yang terbaik, kepakkan sayapmu dan katakan pada dunia bahwa kamu juga bisa seperti mereka. Dulu saya menghabisi banyak waktu untuk kegiatan dengan bekerja di salah satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang otomotif, malam harinya saya harus kuliah, di tambah sabtu minggu saya harus latihan teater, bergabung bersama komunitas Film pendek, pengajian di YISC Al Azhar ditambah harus menyelesaikan naskah, itu semua tidak menghambat saya untuk tetap syar’i. Kalau sudah begitu, sangat penting bagi kita ...

CUKUP MENGAGUMIMU DALAM DO’A

CUKUP MENGAGUMIMU DALAM DO’A (jika dalam raga tak mampu memilikimu, maka dengan do’a aku merasa memilikimu) senja menyapa malam, sisa hujan tadi sore membuatku menelusuri lorong waktu. Detak jam tak seirama dengan suara rintikan hujan, namun dapat memadukan irama yang indah jika didengar dengan penuh cinta. Kenyataan tadi siang telah jauh menghantamku ketebing jurang tertinggi, senyum yang dulu aku harapkan, kini seakan menjadi neraka yang tak ingin aku lihat. jika kuingat kembali kejadian itu, aku hanya ingin meminta kepada tuhan, kenapa harus dirimu orang yang pertama aku cintai? Mengapa harus dirimu orang yang pertama mengisi hatiku? Ya seperti itulah kenyataannya. Kuingat kembali saat pertemuan kita digerbang sekolah, kau berjalan melewatiku dengan aroma wangi tubuhmu, senyumanmu yang memukau membuat seluruh wanita memandangmu. Namun sayangnya senyumanmu itu bukan untukku, tapi untuk wanita yang sedang berdiri anggun didepan taman sambil melambaikan tangann...

KINARA DI UJUNG SENJA PART 2

MALAM itu langkah kaki yang tidak menyisahkan suara, mencekik pernafasannya berulang kali. Sebuah nama yang terngiang jelas di benaknya. Sebuah nama yang tak ingin ia dengar, dan nama itu telah ia kubur dalam-dalam hingga tak membekas sedikitpun dalam memorinya. “Amara dan Ronald bagaimana keadannya sekarang?” Kenny melirik Omanya, ada rasa sesak membuncahkan rasa sakit teramat dalam. Ia kemudian membuang pandang dengan mata yang mulai memerah dan berair. “Oma jangan pernah sebut nama itu di depan saya. Rasanya mendengar namanya saja, membuat saya tak bisa bernafas.” Ucapnya menahan amarah, dengan gigi yang mengeram seakan ia merasakan darahnya berdesir. “Baiklah Oma mengerti.” Ke duanya terdiam. Hening, tak menimbulkan suara. Eva melirik sekilas ke arah Kenny, setelah memastikan cucunya sudah sedikit tenang. Ia kemudian meminta Kenny, untuk memanggil Nara di Pavillion. Mengingat hari ini hari libur, tentunya gadis itu akan sangat bosan, setelah seharian sejak ...