Cinta,
Adalah
sebuah ekspresi yang sangat sulit untuk diungkapkan, ketika hati berperang
melawan diri sendiri cinta justru menghempaskan harapan kedalam jurang. Yang
ada hanya diam, diam seribu bahasa menahan perih ketika cinta kembali menyerbu
puing-puing harapan yang masih membekas, sebab cinta menghilangkan akal sehat
bermain-main dengan hati dan pikiran.
Banyak
orang mengekspresikan cinta dengan cara yang berbeda. Seperti bunga yang layu
kemudian menjadi mekar, angin yang tak terlihat dapat dirasakan, sayatan pisau
hingga darah bercucuran tak terasa perihnya. Sebab cinta bukan sebuah permainan
dan hanya sekedar ucapan. Namun cinta sebuah pembuktian, lantang diucapkan,
tegas dinyatakan dengan jiwa dan raga menariknya menuju pelaminan. Begitulah
cinta yang Fitrah.
SEBUAH
buku jurnal kedokteran tergeletak di sudut meja kerjanya. Zein berjalan menghampirinya. Kedua bola mata bulat nan indah itu berputar-putar
seperti ada rasa penasaran yang berkecambuk didalam hatinya, bukan karena isinya
sebab isi dari buku itu sudah khatam diluar kepala, namun apa yang membuat
lelaki berkulit putih, bertubuh tinggi itu dibuat penasaran?
Zein
kembali berjalan menuju ranjang, dan mengurungkan niatnya untuk melihat isi
didalam buku jurnal kedokterannya. Laptop yang tergeletak diatas kasur segera
diraihnya. Ia pun segera membuka blog milik Yuliepelangi.blogspot.com blog yang
berisi kumpulan cerita islami, entah apa yang membuat lelaki kelahiran tahun 89
itu terus-terusan update menunggu postingan dari blog itu. Apa yang membuat ia
tertarik setiap kali membaca tulisan pada blog tersebut, yang pasti tulisan didalam blog itu membuat ia sedikit lebih tenang, akibat seharian
bekerja ditambah jika ia harus bertugas malam. Menurutnya penulis dalam blog
tersebut seperti memiliki ikatan batin dengannya, entah apa yang ia pikirkan? pastinya ia amat senang menikmati setiap tulisan yang ada pada blog itu.
Tidak beberapa lama tiba-tiba sebuah panggilan masuk dari
ponselnya, diceknya ternyata berasal dari Maya kekasihnya. Diterimalah telepon
itu.
“Asalamuallaikum, sayang kamu kemana aja
gak ada kabarnya?”
“Wa’allaikumsalam, maaf May akhir-akhir
ini aku sedang sibuk,
dengan pekerjaan. Sekarang ini aku
harus lebih Fokus dengan
pasien-pasienku, karena mereka lebih membutuhkan aku dibandingkan kamu. Sekali
lagi aku minta maaf.”
Namun tiba-tiba Zein mematikan ponselnya. Dan menimbulkan tanda tanya
besar, apa yang membuat Zein semakin berubah terutama terhadap Maya kekasih
yang selama ini ia cintai. Pastinya hanya Zeinlah yang tau apa yang
membuat ia menjadi berubah 180°.
Setelah mematikan ponselnya, ia kembali Fokus pada laptop
yang ada didepan matanya, tiba-tiba ia segera mengambil posisi duduk sempurna,
dan matanya setengah keluar menatap sebuah tulisan terbaru yang ia tunggu dari
sebuah blog. “Dia tau aja kalau gue, lagi
nungguin cerita terbarunya.” Gumamnya dalam hati. Usai ia membaca tulisan
itu, tiba-tiba ia terdiam, lelaki berlesung pipi itu tampak lesu kemudian
segera mematikan laptopnya, seperti ada sebuah bom yang mendarat dihatinya lalu
meledakkan seluruh tubuhnya hingga terguncang sangat dahsyat, bahkan lebih
dahsyat dari gempa bumi ataupun nuklir.
Tanpa memperdulikan tulisan dalam blog itu, ia segera
mengambil posisi tidur. Dan mengaggap tulisan yang terdapat dalam blog tersebut
sama sekali tak pernah ada. Usai shalat Isya, ia merebahkan tubuhnya melemaskan semua oto-otot sarafnya. karena Besok pagi ia
harus kembali ke Rumah sakit untuk menjalankan tugasnya menjadi seorang dokter.
Mengingat akan banyak tanggung jawab yang harus ia jalanin.
Waktu menunjukkan pukul 05.10 WIB, Zein segera berlari ke kamar mandi. Usai shalat
subuh ia segera bergegas menuju Rumah sakit. Sesampainya disana ia mengecek
pasiennya yang kemari mengalami kecelakaan tabrak lari, untung saja Bapak tersebut bisa diselamatkan, jika terlambat
sedikit saja mungkin akan berakibat fatal. Ia segera mengecek infuse dan
oksigen yang terpasang pada kait tiang. Dan memastikan cedera yang dialami
oleh pasien tersebut akan segera pulih karena tungkai tangan kirinya fraktur
(patah) dan pagi ini pasien tersebut akan segera di rontgen dulu untuk bisa
menegakkan hipotesis itu. Usai mengecek beberapa pasien ia segera menuju
ruangannya membaca buku operasi sekaligus mengobservasi pasiennya, namun
tiba-tiba bola mata hitam nan bulat itu
tertuju pada map berwarna biru yang bertuliskan nama seseorang Shafira Azahra
seperti sebuah nama yang ia kenal.
“Ah mana mungkin,
yang namanya Shafira Azahra kan banyak.” Ucapnya dalam hati, kemudian ia
segera pergi menuju ke ruangan A untuk melakukan observasi tekanan darah, nadi,
suhu, respira pada pasien yang baru saja datang akibat lagi-lagi kecelakaan
lalu lintas. Ia segera menangani pasiennya, dengan penuh hati-hati dan percaya
diri, al hasih semuannya berjalan lancar.
Tidak beberapa lama kemudian, seorang wanita berbalut
hijab berwarna merah jambu menjuntai panjang menutupi tubuhnya sedang menunggu
dokter Zein diruang tunggu. Gadis cantik itu tampak tenang, senyumnya terus mengembang bahkan tak pernah padam, matanya yang cantik
terus melirik kesegala arah. Namun tiba-tiba gadis itu berdiri setelah melihat
Dokter Zein berjalan lurus kearahnya.
“Asalamuallaikum.
Ini Dokter Zein ya?” ucap gadis itu, sambil mengatupkan kedua telapak
tangannya.
“Wa’allaikum sallam.
Benar, dengan Mba Shafira?”
“Iya benar Dok.”
“Oh, kalau begitu mari keruangan saya.” Ucapnya
Merekapun berjalan memasuki ruang kerja Dokter Zein
dan kemudian mengambil posisi
duduk. Namun tidak beberapa lama gadis itu seperti mengingat-ingat sesuatu.
Tapi entah apa yang ia pikirkan yang pasti lelaki yang ada didepannya seperti
seseorang yang ia kenal. Ia terus berusaha memikirkan satu buah nama. Dan
sontak menunjuk kearah Zein dan membuatnya sedikit kaget.
“Ah... sekarang saya ingat, nama Dokter. Muhammad Zein
Akbar kan? Lulusan SMPN 1 pernah menjuarai olimpiade IPA termasuk siswa
berprestasi di sekolah, dan mendapat predikat sijenius. Apa saya benar?”
Tiba-tiba Zein merasa kaget, dengan gadis yang berada
dihadapannya. Mengapa ia tau semua tentang dirinya.
Namun ada satu hal yang menggetarkan hatinya, sebuah mata bulat coklat itu
membuat jantungnya berdebar kencang. Ia seperti melihat syurga, melihat
keindahan yang ia sendiri tidak mengerti.
“Ya benar. Dari mana anda tau?”
“Karena saya juga dari lulusan sana. Untuk orang
sepopuler Dokter waktu SMP sangat mudah dikenali, jadi bagiku itu sangatlah
mudah.”
“Oh ya! Kamu bisa saja. karena kita dulu pernah satu
sekolahan dan seumuran, kamu bisa memanggil saya dengan nama Zein saja. oh ya
jika saya boleh tau ada apa kamu kemari?”
“Baiklah Zein. saya kira kamu sudah membaca riwayat saya,
pada map biru yang ada dimeja kamu itu.” Sambil menunjuk sebuah map yang
bertuliskan Shafira Azahra.
“Oh iya. Maaf tadi saya belum sempat membacanya.”
“Ya sudah karena saya sudah disini, saya akan
menjelaskannya. Saya sudah memeriksa penyakit saya kebeberapa rumah sakit
hasilnya selalu saja sama. Kini saya melakukan hal yang sama berharap hasil
yang saya terima berbeda dengan hasil rumah sakit yang lain. Aku dengar kamu
dokter yang ahli dibidang penyakit apapun. Menguasai sekali bentuk penyakit
bahkan berhasil menemukan obat penawar rasa sakit kanker, aku berharap dengan
aku bertemu denganmu, kamu bisa membantuku Zein. Aku bergantung pada Allah namun
melalui tangan Dokter semoga Allah menurunkan mukjizatnya kepadamu.”
Tiba-tiba Zein menghela nafas, kemudian mengajak gadis tersebut ke
ruang pemeriksaan. Namun tiba-tiba wanita tersebut
menghentikan langkahnya. Dengan wajah bimbang. Dan membuat Zein kebingungan.
“Kamu kenapa berhenti?”
“Zein, bisakah aku dipindahkan kedokter lain?”
“Maksud kamu?”
“Aku lupa, walau kamu seorang Dokter. Aku tetap tidak
bisa bersentuhan atau disentuh oleh laki-laki. Jadi berikan aku kepada dokter
wanita.”
Tiba-tiba Zein tercengang dan tidak bisa berkata-kata,
karena ini pertama kalinya seorang pasien meminta padanya untuk digantikan
dokter, padahal dari banyak pasien mereka ingin ditangani oleh dokter yang ahli
sepertinya. Zein hanya mengangguk kemudian meminta bantuan kepada dokter Zoya.
***
Waktu menunjukkan pukul 22.15 WIB. Rumah sakit tampak
terasa sunyi segala aktifitas mulai berkurang, hanya ada beberapa suster yang
bolak balik memasuki ruangan pasien. Sementara Zein mengobservasi pasien dan
kemudian kembali keruangnya tiba-tiba ia teringat pada sebuah buku jurnal
kedokterannya yang ia selipkan ditasnya. Rasa penasaran tadi malam kembali
mendorong hasratnya untuk mengetahui isi dari dalam buku itu. Lalu tiba-tiba
diraihnya kemudian dibukanya secara berlahan, tepat ditengah buku terselip sebuah surat. Surat pertamanya
yang ia dapat dari seorang wanita sejak 11 tahun yang lalu bertepatan dengan
hari perisahan sekolah. Yang ia sendiri tidak tau dari mana surat itu berasal,
yang terdapat pada surat itu hanya nama email wanita tersebut. Sejak
saat itu ia terus berusaha mencari
tau siapa wanita itu. melalui email, setelah beberapa tahun mereka berhubungan melalui email, gadis itu kemudian memberikan alamat blognya, sejak saat
itu Zein lebih suka menghabiskan waktunya membaca artikel pada blog tersebut.
Artikel yang menggugah jiwanya. kali ini bukan karena gadis yang 11 tahun lalu yang
mengirimkan surat padanya, tapi karena cerita yang terdapat dari blognya. Gadis
pada blog itu mampu mengaduk-aduk perasaanya. Terutama dengan judul artikel pacaran no, Ta’aruf Yes, Bolehkah saya menyentuhmu dan banyak lagi artikel yang
menggugah jiwanya. itulah yang membuat Zein kini lebih cuek terhadap Maya kekasihnya. Kini ia baru
menyadari jika dalam agama islam sebenarnya Pacaran itu tidak ada, yang benar adalah ta’aruf. jika ia sudah berusaha mengajak Maya untuk serius, namun
Maya terus-terusan saja menolak. Maka salah satu cara untuk menghindari dosa,
Ia memikirkan niat untuk mengakhiri hubungan yang tidak jelas itu.
Secara berlahan ia segera membuka kembali
surat 11 tahun yang lalu, dan dibacanya
Kepada: Muhammad Zein Akbar
Asalamu’allaikum.
Semoga
Allah mencurahkan Rahmatnya kepadamu, surat ini aku tulis dari lubuk hatiku
paling dalam. Untuk satu buah nama yaitu Muhammad zein akbar. Yang namanya
tersohor disekolah ini. Apalah diriku ini seorang gadis malang, yang diam-diam
menyukai seorang pria sepertimu. Bahkan dirimu saja tidak mengenal diriku yang
entah dari mana asalnya, berbeda dengan gadis lain.
Hari
ini adalah hari perpisahan sekolah, aku berharap setelah lulus dari sini kamu
mendapatkan sekolahan terbaik, dan semoga Allah selalu menjaga dan
melindungimu. Kelak jika kau menjadi seorang ternama, teruslah rendah hati.
Terutama jauhilah dirimu dari rasa sombong, sebab kesombongan kelak yang akan
menghancurkanmu. Jangan ingat surat ini jika kau merasa terganggu, tapi
setidaknya kau ingat sedikit pesanku yang tak berguna itu.
Terima
kasih Zein kau telah menerangi setiap langkahku, setidaknya untuk sebuah nama
yang membangkitkan semangatku. Kupantrikan namamu sebagai sebuah anugerah
dimana aku mulai jatuh cinta kepada anak adam. Anggap saja cinta ini cinta
monyet, kelak jika kita dipertemukan dengan cara tak sengaja, mungkin saja aku
sudah melupakan ini begitu juga dengan dirimu.
Salam
dari pengemar rahasiamu…
Setelah
membaca surat itu, ia teringat akan blog dari gadis tersebut. Ia kemudian
membuka laptopnya, dan mencari tau profil gadis tersebut. Ya sebuah nama yang
sangat ia kenal nama itu Shafira Azahra penulis dalam blog tersebut, namun
sejak blog itu ada, penulisnya tidak pernah memposting fotonya. membuat Zein
semakin hari semakin penasaran. “Ah, mana
mungkin penulis dalam blog ini dan seseorang yang mengirimkan ku surat 11 tahun
yang lalu adalah Shafira Azahra temanku. Tapi dia satu sekolah denganku dan
nama Shafira hanya satu. Ah sudahlah. Jika kami berjodoh mungkin Allah akan
mempertemukan.” Ucapnya dalam hati.
***
Jam menunjukkan pukul 12.00 WIB
waktunya istirahat, sebelum makan siang, ia bergegas menemui Shafira teman
semasa SMP nya, diruang inap kamar 402. Entah apa yang membawa kakinya
melangkah untuk menemui Shafira, namun seperti ada tarikan magnet yang membuat
lelaki tampan itu berjalan menuju ruangan Shafira.
Saat
hendak menuju ruangan 402 tiba-tiba seorang wanita memanggil namanya dari arah
belakang. Suara yang sudah tidak asing lagi berasal dari Maya kekasihnya.
“Zein?”
“Maya,
sedang apa kamu disini?”
“Aku
ingin bicara sebentar denganmu, bisa!”
“Baiklah
kita bicara di Taman saja. Ucapnya, lalu mereka berjalan menuju Taman.
“Ada
apa May? Tapi sebelum kamu menjawab pertanyaanku. Izinkan aku menanyakan satu
hal padamu?”
“Silahkan.”
“Sampai
kapan kita akan seperti ini? Lebih baik kita akhiri saja hubungan ini, jika tak
ada niat dihatimu untuk menghalalkan hubungan kita. Ini tidak akan ada gunanya
May. Aku doakan semoga kau bahagia dengan pilihan hatimu.”
“Zein
maafkan aku jika aku masih meragukanmu, benar katamu untuk apa kita pertahankan
jika kita tidak memiliki komitmen. Maaf Zein bukannya aku tidak menyukaimu,
namun aku ragu akan dirimu, apa lagi dengan segala pekerjaanmu. sebab jika
sekarang saja kamu sangat sibuk, maka tidak menutup kemungkinan kelak jika kita
menikah kamu akan lebih sibuk dengan pekerjaanmu. Jadi mari kita akhiri
hubungan ini dengan baik-baik. Semoga kamu juga mendapatkan calon istri yang
lebih baik dariku.”
Kemudian
wanita itu pergi meninggalkan rumah sakit, sementara Zein masih terduduk dibangku
Taman sambil memandang ke langit. Ada sebuah bongkahan besar yang bersarang
didadanya namun tiba-tiba menghilang berlahan bersama angin. Rasanya ia
terlepas dari jeratan yang sangat kuat, kemudian ia menghela nafas lalu
mengucapkan Alhamdulillah berulang kali.
Saat
hendak menuju ruangannya, di Taman yang menghadap ruangan inap 402 ia melihat
Shafira dengan kursi rodanya sambil memegang laptop. Zein segera menghampiri
gadis itu dan mendekat padanya, namun tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah
laman yang sedang ditulisnya pada blog itu. ya dia tampak kaget, bahwa penulis
dalam blog itu benar Shafira temannya. Seketika ia langsung mengajukan banyak
pertanyaan pada gadis itu.
“Jadi
selama ini blog dengan alamat Yuliepelangi.blogspot.com itu milikmu? Jadi
alamat email dengan Melati_mi@yahoo.com
itu juga milikmu? Dan gadis yang mengirimkanku
surat 11 tahun yang lalu saat perpisahan adalah dirimu Shafira? Kenapa kamu
tidak jujur padaku sejak awal, kamu sudah membuat aku seperti orang kebingungan
dan penasaran bahwa sejak itu kamu adalah gadis pertama yang mengirimkan aku
surat. Kenapa kamu rahasiakan dirimu dariku Shafira?”
“Benar Zein itu blogku, dan dari
mana kamu tau jika orang dalam blog itu adalah orang yang pernah mengirimkan
surat padamu 11 tahun yang lalu? Bukankan sudah aku katakan jangan pernah
mengingat diriku. Jadi sudahlah. Aku sudah melupakannya, bukankan kejadian itu
sudah 11 tahun yang lalu, bersama waktu perasaankupun juga menghilang. Itu
hanya cinta monyet Zein.”
“Sejak aku menerima suratmu, aku
dibuat penasaran oleh surat itu, aku mencari tau dirimu dengan menggunakan nama
samaran melalui emailmu. Radit itu nama emailku, dua tahun lalu kamu memberikan
alamat blogmu sejak saat itu aku terus berusaha mendapatkan berita tentangmu.
Namun hasilnya nihil hanya sebuah artikel yang aku dapatkan, nama serta fotomu
tidak aku temukan. Namun tiba-tiba minggu lalu kau akhirnya menuliskan nama
aslimu Shafira Azahra, itu membuatku merasa aneh. Tapi justru aku tidak
menggubrisnya. Tapi bagiku 11 tahun yang lalu adalah sebuah kisah yang sulit
bagiku untuk dilupakan, bahwa kau gadis pertama yang mengirimkanku surat.”
“Jadi Radit itu blog milikmu?
Sudahlah Zein akupun sudah melupakannya.”
“Benar. Shafira aku masih menyimpan
surat itu, hingga kini berharap Allah mempertemukan kita.”
“Untuk apa Zein! Semua tidak ada
gunanya.”
“Untuk membuktikan padamu jika aku
masih menunggu gadis pengirim surat ini sejak 11 tahun yang lalu, bahwa aku
ingin mengatakan padanya. Bahwa aku mengagumi semua artikel yang ia tulis,
bahwa aku selalu merasa bahagia dengan artikel pada blog itu. aku ingin seperti
Fatih lelaki yang terdapat dalam tulisanmu. Jadi izinkan aku mengenalmu lebih
dekat.”
Namun gadis itu terus saja mengelak.
Agar Zein mengurungkan niatnya untuk tidak memperdulikannya.
“Dalam agamaku dan agamamu tidak mengenal
pacaran kau tau itu? aku rasa kau sudah tau karena kamu sudah membaca semua
artikelku. Jadi pantang bagiku untuk merubah keputusanku. Kuakui kesalahanku
saat SMP itu adalah kekanak-kanakkan karena saat itu kita belum mengenal cinta
dan usiaku belum cukup matang untung berfikir jernih. Jadi aku meminta maaf
kepadamu.”
“Tidak Shafira, itu adalah Takdir
yang telah Allah siapkan untuk kita. Aku tau siapa dirimu, seorang wanita
Sholeha yang menjaga dirinya dengan sangat hati-hati. Semua artikelmu menunjukkan
itu. aku ingin menjadikanmu istriku, jadi kumohon terimalah pinanganku.”
“Bagaimana dengan penyakitku ini,
aku mengalami penyakit leukemia namun menurut dokter Zoya ini baru stadium
awal, menurut beberapa buku yang aku baca. Penyakit ini bisa mematikan.”
Zein kemudian terdiam, ia seperti
terguncang. Namun sebisa mungkin ia mengendalikan hatinya. Bukan karena
penyakit yang menyerang tubuh gadis itu. tapi ada rasa ingin melindungi gadis
yang ia cintai dalam hati selama 11 tahun.
“Percayalah Shafira, Allah tidak
akan pernah tidur. Aku percaya Allah akan memberikan kesembuhan untuk gadis
soleha sepertimu. Berikan aku alamat rumahmu besok malam aku akan segera
melamarmu dan membawa kedua orangtuaku menemui ayah dan ibumu.” Ucapnya dengan
lantang
Gadis itu menangis bahagia. Berulang
kali ia menyebut nama Allah. Ada kebahagian yang tak pernah ia bayangkan dalam
hidupnya, seribu masalah Allah berikan kepadanya. Maka disaat itu pula Allah
menurunkan hidayah dan bantuan bagi hambanya yang bersabar. Allah mengirim Dokter
Zein untuk membantunya melewati hidupnya yang kelam, Menjadi berwarna. Kini
Zein mengerti bahwa takdir itu Indah. Maya yang ia pastikan berjodoh dengannya,
ternyata justru gadis 11 tahun yang lalu menghilang kemudian muncul menawarkan
kebahagian abadi, kebahagian yang sesungguhnya. wanita sholeha yang akan
membawanya kelak menuju syurga. Dan tampak jelas dimata itu seperti ada syurga.
Sangat tenang dan teduh.
NB: Terima kasih sudah mau mampir....semoga kita selalu dalam lindungan Allah (Amin)
NB: Terima kasih sudah mau mampir....semoga kita selalu dalam lindungan Allah (Amin)

Uni,,, ^_^
BalasHapusso cute,,,,
makasih irma Chan...tik :)
BalasHapus