Langsung ke konten utama

Gesekan Biola Milik Bas



Kontributor Penulis Pilihan yang diadakan oleh FPC

Judul : Gesekan Biola Milik Bas
Penulis: Yuli Yanti (Yuliee Pelangi)
Penyelenggara: FPC dengan Tema Sisi Lain

Aku terbangun tepat jam 02.00 malam. Mimpi itu terus terjadi disetiap harinya, namun tak ada satupun mereka yang percaya pada mimpiku. Sesaat aku terdiam ketika terdengar gesekan suara biola yang tak asing di telingaku. Memoriku berkelana, seakan menikmati suara biola yang entah dari mana asalnya. Hatiku seketika berdebar hebat, mataku mulai berkunang-kunang enggan menerjemahkan sesuatu yang hadir dalam hatiku.

“Tak mungkin… ini tak mungkin!” Ucapku menutup telinga.

Toookkkkk….toookkkk
Terdengar ketukkan suara pintu dari luar kamarku. Suara mamah panik, saat mendengar jeritan dari mulutku. Tanpa aba-aba dariku untuk mempersilahkannya masuk, mamah dengan cepat langsung membuka gagang pintu kamarku. Kemudian memelukku dengan erat.

“Ada apa Tan! Kamu mimpi buruk lagi?” Tanya mamah khawatir.

Hanya mamah yang mengerti dan percaya tentang semua mimpi-mimpi yang kualami setiap malamnya. Terkadang mamah tertidur di sampingku untuk menemaniku, jika aku sudah terlelap mamah baru masuk ke dalam kamarnya.

“Mamah dengar suara itu?”
“Tidak, mamah tak mendengar suara apapun. Sekarang kamu tidur lagi ya!” Ucap mamah sambil mengelus puncak kepalaku.

Waktu berlalu. Setiap malam aku sering mengalami hal yang serupa, terbangun tengah malam dan mendengar suara gesekan biola yang sudah tak asing lagi di telingaku. Namun anehnya semakin lama, aku semakin menyukai suara biola itu. Aku hanya menangis di sudut kamarku, sambil memeluk boneka beruang yang diberikan Bas untukku disaat ulang tahunku ke 21.

Malam berlalu, matahari pagi memancarkan sinarnya. Aku masih tertidur di sudut kamar dengan tubuh masih meringkuh. Dinda yang baru saja kembali dari Solo, berjalan ke kamarku. Sesaat ia panik saat melihat tubuhku, terkulai lemas disudut kamar.

Gadis cantik itu mengguncang tubuhku, kemudian dengan berlahan mengendongku ke atas kasur. Mamah yang sejak kemarin pergi belum kembali, membuatku tak bisa tidur. Sejak kepergian papah tiga tahun silam membuatku harus hidup berdua bersama mamah. Demi sesuap nasi terkadang mamah harus bekerja lembur. Namun terkadang membuat mamah dilema dengan kondisi yang sering kualami. Antara memilih untuk tetap bekerja demi sesuap nasi, atau berhenti untuk menjagaku. Untung saja Dinda teman kuliahku di Jogja, mau tinggal bersama denganku. Setidaknya membuat hati mamah menjadi lega.

Aku terbangun. Samar-samar terngiang suara biola yang terdengar dari arah belakang rumahku. Dinda yang duduk di depanku sambil memijat-mijat kakiku, tampak terkejut dengan perubahan wajah yang kualami.

“Ada apa dengan wajahmu Tania! Tadi tak kulihat lebam pada kening sebelah kananmu, tapi mengapa ini ada?”
“Entahlah.” Ucapku datar.
“Kamu masih mimpi aneh lagi?” Tanyanya penasaran.
“Hmmmm. Tapi….” Ucapnya terputus.
“Tapi apa Tan?”

Aku terdiam kemudian berjalan pelan menyeret kakiku ke arah kamar mandi. Dinda yang masih terduduk di atas kasur, segera beranjak mengikutiku dengan penuh penasaran.

“Tapi apa Tan?” Ucapnya penuh penasara.”
Aku tetap diam, tak mempedulikan pertanyaan Dinda. Ia masih berdiri di depan pintu kamar mandi, sesekali mengetuk pintu berharap aku mau melanjutkan cerita tadi yang belum usai. Dengan reflek ku buka pintu kamar mandi, dan kuarahkan kepalaku tepat diwajahnya, seketika ia berteriak kencang.

Dinda berlari ke atas kasur, dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Beberapa menit setelah ia tenang, ia marah padaku karena membuatnya terkejut. Aku hanya tertawa melihat sikapnya.

“Nanti malam kita ke sekolah yang ada di belakang rumah yuk?” Ucapku membuyarkan keheningan.
“Apa! Kau gila. Tidak mau.”
“Ayolah sekali ini saja?” Ucapku memohon pada Dinda.
“Tapi mengapa harus malam, kenapa tak siang saja?”
“Aku hanya ingin memastikan, jika itu suara gesekan biola milik Bas.”

Seketika mata Dinda terbelalak. Pandangannya kosong, bibirnya tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya terdiam, sesaat pergi meninggalkanku yang masih terduduk di atas kasur sambil memeluk boneka pemberian Bas.

Tiba-tiba terdengar suara kunci dari luar pintu kamarku. Saat kudekati dan kuraih gagang pintu, rupanya Dinda mengurungku di dalam kamar. Membuatku marah dan berteriak kencang. Entah apa yang terjadi dengan gadis itu, namun sikapnya berubah seketika saat kusebutkan nama Bas.

Mamah dan Dinda masuk ke dalam kamarku. Seketika mamah duduk dan memelukku dengan erat, entah apa yang terjadi tapi sungguh aku tak mengerti.

“Ada apa sebenarnya mah, Din. Apakah ada yang kalian sembunyikan dariku?”
Mamah terdiam. Matanya tajam berporos pada boneka beruang yang kupeluk sejak tadi. Tanpa intruksi ia mengambil boneka dan semua hal yang berhubungan dengan Bas. Dengan wajah panik mamah mengacak-acak isi lemari dan laci meja belajarku. Dinda yang terdiam di depan pintu, langsung mendekat ke arah mamah, dan membantunya mencari barang-barang pemberian Bas untukku.

“Apa yang mamah lakukan! Dan kamu Dinda mengapa kamu ikut-ikutan mamah?”
“Diam kamu di sana, duduk.” Ucap mamah dengan ekspresi marah sambil menunjuk ke arah kasur.
“Berhenti! Aku memang membenci Bas atas perlakuannya terhadapku. Tapi aku yakin kalau Bas tidak sengaja saat itu mendorongku. Lagian Bas sudah minta maafkan mah? Di awal aku memang berteriak dan tidak mau mendengar semua tentangnya, apa lagi suara biolanya, tapi kini aku merindukannya. Aku ingin bertemu dengannya, dan aku ingin mengatakannya padanya jika aku sudah memaafkannya.”

Aku menangis di kaki mamah. Namun segera mamah meraihku dan memelukku.
“Kamu sayang sama mamah?” Pertanyaan mamah membuatku terpaku, ucapan yang tak biasa terlontar dari mulut mamah.

Aku masih terdiam dan tak menghiraukan ucapan mamah. Sekali lagi mamah menanyakan hal yang sama, kali ini lebih keras membuatku terkejut. Dinda yang melihatnya memberikan aba-aba padaku untuk menganggukkan kepala. Ku ikuti saran Dinda seketika membuat mamah tersenyum. Mamah memberesi semua barang-barang yang berhubungan dengan Bas, tanpa tersisah satu barangpun.

“Dinda kamu tau mengapa mamah begitu membenci Bas? Bukankah mamah sudah memaafkan Bas, aku sekarang memang lumpuh, tapi bukankah Bas tak sengaja saat itu!”
“Ada sesuatu yang tak bisa kau mengerti. Jadi lebih baik kau lupakan Bas, Tan.”
“Aku memang membencinya Din. Namun sejak malam itu, dimana Bas datang menemuiku dalam mimpi, selama seminggu berturut-turut, saat itu hatiku mulai luluh. Bahwa aku memaafkannya, dan mulai merindukannya. Kau tau Din, setiap malam Bas selalu memainkan lagu dengan biola kesayangannya. Lagu yang kusuka, lagu yang setiap hari ia bawakan untukku. Namun demi menghindari mamah, ia terpaksa memainkan biolanya setiap malam untukku. Makanya aku mengajakmu untuk menemaniku bertemu Bas nanti malam. Aku rindu padanya.”

Dinda seakan tak percaya. Matanya tajam menatap manik-manik mataku, tangannya dingin sambil mengelus pipiku. Tiba-tiba air matanya menetes membentuk sungai di pipinya.

“Tania, lupakan Bas. Bas sudah melupakanmu, jadi musik yang selama ini kau dengar hanya halusinasimu saja.”
“Tidak Din. Mengapa kau menjadi seperti ini? Bukankah kau yang selama ini mendukungku untuk memaafkan Bas, tapi sekarang kau menyuruhku untuk melupakannya, kenapa Din…kenapa?” Ucapku emosi.

Dinda terdiam. Ia keluar dari kamarku, sementara aku hanya menatap punggungnya yang berlalu pergi meninggalkanku. Aku masih berfikir tentang perubahan sikap mamah dan Dinda yang membuatku tak mengerti.

Malam ini lebih mencekam dari malam-malam sebelumnya, namun entah mengapa hari ini mataku enggan terpejam. Aku hanya takut jika mimpi malam ini lebih menakutkan dari biasanya. Dinda memelukku erat, membisikan padaku. “Aku ada bersamamu, tidurlah.” Ucapnya pelan, kemudian yang terdengar hanya deru nafas Dinda.

Benar tepat pukul 01.00 aku kembali terbangun. Mimpi itu lebih menakutkan, mimpi yang tak pernah ingin kubayangkan, datang menghampiriku. Tubuhku panas dingin, keringat terus bercucuran membasahi tubuhku. Dinda yang terbangun, segera berteriak memanggil mamah. Sontak mamah kaget dan berlari ke dalam kamarku.

“Ada apa dengan Tania?” Ucap mamah memelukku.
Dinda berlari mengambil batu es dan sapu tangan. Mamah segera mengompresi keningku. Berharap panasku mulai turun.
“Kali ini Bas datang dalam mimpiku dengan baju penuh darah. Dia memelukku dengan tubuh bercucuran darah. Ia membisikan padaku bahwa ia merindukanku.” Ucapku sesak.
“Itu hanya mimpi Tan. Bas baik-baik saja.”

Ucapan mamah seperti tak biasanya, saat menyebutkan nama Bas, mamah tak menatap mataku. Sementara Dinda terdiam, dengan wajah menunduk haru. Tak berapa lama, suara yang kurindukan mulai terdengar dari belakang rumahku, sepertinya berasal dari sekolah SD yang sudah tak terpakai lagi.

“Itu pasi Bas. Aku ingin bertemu dengannya mah. Aku ingin memastika jika dia baik-baik saja.” Ucapku mengguncang pundak mamah.
“Mamah tak mendengar suara apapun Tan.”
“Mamah bohong. Itu suara biola milik Bas. Dinda bawa aku ke sana?”
“Tidak Tania. Kamu berhalusinasi, aku tak mendengar suara biola atau apapun.”
“Kalian kenapa sih? Mengapa kalian begitu membenci Bas, apa karena ia telah membuatku lumpuh? Bukankah sudah kukatakan ini semua bukan karena Bas, mengapa kalian juga tak mengerti. Ku mohon mah, izinkanku bertemu Bas.”
“Tania apa yang dikatakan Dinda benar. Kau hanya berhalusinasi. Bas sudah pergi sejak enam bulan lalu, sejak kecelakaan itu.”
“Maksud mamah apa! Aku tak mengerti?”
“Bas meninggal tertabrak mobil. Saat itu ia ingin menolongmu waktu mobil melaju dari belakang, Bas yang melihatnya langsung mendorong tubuhmu pada sisi jalan, namun naasnya justru ada motor dari arah berlawanan menabrakmu. Kau tertabrak tak sadarkan diri, saat terbangun yang kau tau bahwa Bas yang membuatmu lumpuh, karena ia mendorong tubuhmu ke sisi jalan yang menyebabkan kau tertabrak motor. Namun disaat yang sama bas juga tertabrak mobil menggantikan posisimu. Saat dibawa kerumah sakit, nyawa Bas tidak bisa diselamatkan.”

Aku terdiam, bibirku terkunci, tubuhku semakin lemas. Sesaat aku tak sadarkan diri. Saat terbangun aku berteriak, entah setan apa yang hinggap di tubuhku. Namun sungguh aku terguncang dan tak menerima kenyataan yang ada.

mamah kembali memelukku dengan erat, namun tanganku reflek mendorong tubuh mamah. Seketika terlihat wajah keterkejutan mamah atas sikapku.

“Mamah dan Dinda jahat. Mengapa kalian sembunyikan semua itu dariku. Seakan aku seperti orang jahat yang terus saja membenci Bas.”
“Maksud mamah menyembunyikan semuanya agar kau segera melupakan Bas. Mamah tak ingin kamu tau dan tertekan karena Bas pergi karena menyelamatkanmu. Mamah hanya tak ingin kamu merasa bersalah Tan. Namun Dinda berusaha agar kau mau memaafkan Bas melupakannya, dengan cara tidak membencinya.”
“Bagaimana bisa aku melupakannya tapi tidak membencinya mah?”
“Buktinya kau bisa memaafkan Bas. Dan berlahan melupakannya.”
“Masalahnya bukan karena memaafkannya. Tapi karena aku yang menyebabkan Bas meninggal. Seharusnya aku yang pergi, bukan Bas. Tapi kalian tega menyembunyikannya, hanya ingin aku segera melupakannya. Wajar saja sejak saat itu, aku selalu saja memimpikan hal yang aneh, ini semua karena kalian.” Ucapku marah.

Saat itu entah mengapa aku selalu mengurung diri di kamar, sesekali mamah dan Dinda bergantian membawakanku makan. Membuat mamah sedih dan merasa bersalah. Tapi aku tetap menikmati halusinasiku itu dengan adanya Bas disampingku, sambil memainkan biola untukku, walau ku tau dunia kami telah berbeda.


Mamah merawatku dengan sabar. Begitupun Dinda selalu menemaniku. Dokter memvonisku bahwa aku mengindap penyakit Skizofrenia, aku tak peduli itu. Bagiku menikmati biola milik Bas membuat hatiku menjadi tenang. Sesuatu berbisik padaku, bahwa ia yang dirindukan, menungguku di ujung jalan dalam dimensi yang berbeda.


(Penulis Pilihan yang diadakan oleh FPC Fiction Project Comunity, pada bulan Mei)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Minuman sehat Untuk Kita yang Syar’i

Berhijab syar’i bukan menjadi suatu hambatan bagi kita untuk menjalankan suatu aktifitas. Hanya karena kita tidak PD (Percaya Diri) dengan apa yang kita kenakan. Karena merasa kita berbeda dengan yang lainnya. Jangan jadikan syar’imu menghambat karir dan dirimu untuk berkarya. Banyak perusahan yang mau menerima karya dan ilmumu, tak sedikit wanita berhijab syar’i bisa sukses dan jaya bahkan bisa menembus dunia luar. Semua tergantung cara pandang dan berfikirmu. Lakukan yang terbaik, kepakkan sayapmu dan katakan pada dunia bahwa kamu juga bisa seperti mereka. Dulu saya menghabisi banyak waktu untuk kegiatan dengan bekerja di salah satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang otomotif, malam harinya saya harus kuliah, di tambah sabtu minggu saya harus latihan teater, bergabung bersama komunitas Film pendek, pengajian di YISC Al Azhar ditambah harus menyelesaikan naskah, itu semua tidak menghambat saya untuk tetap syar’i. Kalau sudah begitu, sangat penting bagi kita ...

CUKUP MENGAGUMIMU DALAM DO’A

CUKUP MENGAGUMIMU DALAM DO’A (jika dalam raga tak mampu memilikimu, maka dengan do’a aku merasa memilikimu) senja menyapa malam, sisa hujan tadi sore membuatku menelusuri lorong waktu. Detak jam tak seirama dengan suara rintikan hujan, namun dapat memadukan irama yang indah jika didengar dengan penuh cinta. Kenyataan tadi siang telah jauh menghantamku ketebing jurang tertinggi, senyum yang dulu aku harapkan, kini seakan menjadi neraka yang tak ingin aku lihat. jika kuingat kembali kejadian itu, aku hanya ingin meminta kepada tuhan, kenapa harus dirimu orang yang pertama aku cintai? Mengapa harus dirimu orang yang pertama mengisi hatiku? Ya seperti itulah kenyataannya. Kuingat kembali saat pertemuan kita digerbang sekolah, kau berjalan melewatiku dengan aroma wangi tubuhmu, senyumanmu yang memukau membuat seluruh wanita memandangmu. Namun sayangnya senyumanmu itu bukan untukku, tapi untuk wanita yang sedang berdiri anggun didepan taman sambil melambaikan tangann...

KINARA DI UJUNG SENJA PART 2

MALAM itu langkah kaki yang tidak menyisahkan suara, mencekik pernafasannya berulang kali. Sebuah nama yang terngiang jelas di benaknya. Sebuah nama yang tak ingin ia dengar, dan nama itu telah ia kubur dalam-dalam hingga tak membekas sedikitpun dalam memorinya. “Amara dan Ronald bagaimana keadannya sekarang?” Kenny melirik Omanya, ada rasa sesak membuncahkan rasa sakit teramat dalam. Ia kemudian membuang pandang dengan mata yang mulai memerah dan berair. “Oma jangan pernah sebut nama itu di depan saya. Rasanya mendengar namanya saja, membuat saya tak bisa bernafas.” Ucapnya menahan amarah, dengan gigi yang mengeram seakan ia merasakan darahnya berdesir. “Baiklah Oma mengerti.” Ke duanya terdiam. Hening, tak menimbulkan suara. Eva melirik sekilas ke arah Kenny, setelah memastikan cucunya sudah sedikit tenang. Ia kemudian meminta Kenny, untuk memanggil Nara di Pavillion. Mengingat hari ini hari libur, tentunya gadis itu akan sangat bosan, setelah seharian sejak ...