Langsung ke konten utama

Bintang Di Hati Langit




Antologi Kumpulan dalam Buku dengan Judul Bintang

Judul : Bintang Di Hati Langit
Penulis: Yuli Yanti (Yuliee Pelangi)
Penerbit: Lasaripi



Sebab tak selamanya rindu akan terucap, jika keegoisan bertahta di hati.

Sosok berkaca mata dengan postur tubuh yang atletis. Asik membidik setiap sisi keindahan Pantai Kata, yang terletak di Pariaman. Kota yang indah akan tanaman hijau yang menjulang disetiap sudut kota maupun perkampungan. Daerah yang jauh dari kata polusi, serta terjaga kelestariannya. Daerah yang kaya akan rempah-rempah, dan masyarakatnya yang masih menjunjung tinggi adat istiadat.

Berulang kali pemuda berpostur atletis itu menyanjung nama Allah. Matanya tak lepas dari kamera yang ada di tangannya, bibirnya terus bertasbih seakan ada rasa tak percaya, ia bisa memijakkan kakinya di Tanah Minang itu.

Dari sekian gadis Minang yang sudah terjamak oleh pergaulan dan cara berpakaian kota, namun ada satu gadis minang yang membuat mata pria itu tak lepas menatapnya dari kejauhan. Cantik parasnya meneduhkan hati lelaki berkaca mata itu. Gadis itu berjalan anggun, tak peduli dengan busana yang ia kenakan. Berbusana adat minang, gadis itu menjalankan kewajibannya berhijab panjang, berjalan di pesisir pantai. Teringat akan filosofil orang Minang “Adat bersandi syarak, syarak bersandi kitabullah.”

Keindahan alam sangat mempesona, namun baginya pemandangan gadih minang yang kini berada di hadapannya jauh lebih indah. Pria itu berusaha mengambil gambar gadis minang yang masih belum bergeser dari tempatnya. Lelaki bermata sipit itu menghembuskan napas panjang dan tersenyum tipis, seakan ia memiliki pikiran picik. Diambilnya foto gadis itu disetiap sisi, tanpa diketahui oleh wanita itu. Namun tiba-tiba wanita berhijab dengan hidung mancung, berjalan menghampirinya. Pria itu panas dingin seakan takut dengan apa yang telah ia lakukan, diam-diam mencuri foto gadis itu tanpa sepengetahuannya.

“Permisi, kau seorang fotographer?” Ucap gadis itu.
“Iya.”
“Bisa tolong ambilkan foto saya menghadap ke laut?
“Oh tentu.”
“Tapi tidak dengan wajahku. Ambilkan gambar saat aku menghadap belakang saja.”
“Baiklah.”

Pria itu hanya mengangguk mengikuti perintahnya. Gadis cantik itu langsung berdiri anggun, menghadap hamparan air laut. Sementara pria berkaca mata itu sangat bersemangat, ada guratan bahagia di bibirnya. Entah ini yang pertama atau yang kedua kalinya, ia merasakan ada sebuah getaran yang diam-diam masuk menyelinap ke dalam hatinya. Setelah kepergian gadis bernama Bintang dalam hidupnya, yang diam-diam menghilang di hari seminggu pernikahannya. Pria itu merasakan seperti jatuh cinta yang kedua kalinya.

Akankah cinta kali ini berpihak padanya, setelah sakit menguji hatinya. Atau hanya bayangan masa lalu, yang mencoba membuka luka baru?

Usai mengambil foto, gadis itu kemudian menawarkan diri untuk mengambil foto pria itu.
“Mau aku ambilkan juga fotomu? Ucap gadis itu menawarkan bantuan.
“Tak usah. Aku tak suka di Foto, aku lebih suka memotret keindahan alam. Oh ya kau asli orang sini?” Tanyanya pada gadis itu.
Benar. Ada yang bisa ku bantu? Oh ya perkenalkan namaku Khairani Salsabilah Azzahra. Panggil saja Billa, dan kau?” Ucap gadis itu sambil mengatubkan kedua tangannya ke dadanya.
“Aku dari Jakarta. Namaku Muhammad Langit Al Zikri panggil saja Langit.” Jawab pria berkaca mata itu.
“Wah jadi kau dari ibu kota Jakarta! Sedang apa ke sini?”
“Berlibur. Oh ya, bisakah kau membantuku berkeliling. Sebab aku tak paham dengan daerah sini. Aku ingin belajar banyak tentang budaya dan adat istiadat daerah Minang.”
Baiklah. karena kau telah membantuku. Aku bersedia menjadi Guidemu.”

Gadis itu berjalan lurus sambil memegang kamera yang ada di tangannya. Sementara Langit berjalan tepat di belakang gadis itu. Sesekali ditundukkan kepalanya, agar terjaga pandangannya dari hal yang tak diinginkan.

Langit menatap Billa sekilas sambil menoleh ke belakang. Seolah memastikan jika pria itu berada di belakangnya. Sesekali berjaga-jaga agar tak terlalu dekat, karena ia tau batasan-batasan apa yang tak boleh dan dibolehkan dalam Islam antara laki-laki dan perempuan. Sebisa mungkin gadis itu tetap menjaga pandangannya.

Sambil berjalan sesekali Langit mengambil gambar pemandangan. Pria itu terus berdecak kagum. Dilafadzkanya berulang kali nama Allah “Subhanallah, Terima kasih ya rabb karenamu aku diberi kesempatan menginjakkan kakiku di tempat ini. Yang katanya tanah minang, kental akan adat istiadat dan berlandaskan Al Qur’an”  Gumamnya dalam hati.

“Kemana kita akan Pergi Bil?”
“Kita akan ke Jembatan Siti Nurbaya, pernahkah kau mendengarkan kisah yang fenomenal itu?
Ya. Legenda cerita rakyat yang mengisahkan tentang perjodohan antara Siti Nurbaya dan Datuk Maringgih kan?” Ucapnya.
“Memang Siti Nurbaya di jodohkan dengan Datuk Maringgih, karena Sulaiman ayahnya tidak bisa melunasi hutangnya. Namun legenda ini lebih menceritakan tentang jalinan kasih yang tak sampai antara sepasang insan yang berujung pada kawin paksa.”

Billa terus menceritakan legenda-legenda yang ada di Sumatera Barat. Sementara Langit hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis. Matanya fokus mengikuti langkah kaki Billa. Wanita itu tampak semangat saat mengajak Langit berkeliling, menikmati keindahan dan pemandangan di kotanya itu. Ia memperkenalkan berbagai tempat dan sejarah dari daerahnya. Entah mengapa perasaan Langit sangat terasa damai dan tenang. Sehingga ia lupa rasanya sakit, ditinggal dan dihianati oleh gadis bernama Bintang.

Saat sedang asik bercerita, tiba-tiba seorang gadis dengan balutan hijab berwarna biru, berlahan mendekat kearah Langit dan Billa. Gadis itu sesekali mengedipkan kedua matanya, berharap ia tak salah orang. Setiba dihadapan Langit, merekapun sama-sama terkejut.

Yasmin yang tampak bahagia bisa bersua dengan Langit, terus mengembangkan senyumnya. Ia tak pernah menduga bahwa di daerah yang besar ini dengan jutaan manusia, ia bisa bertemu dengan Langit. Tapi pria itu justru tampak tak bahagia saat pertemuannya dengan Yasmin. Ia tersenyum namun dengan terpaksa.

“Benarkah ini kamu Langit?”
“Iya benar.”
“Masya Allah, aku tak percaya kita bisa bersua di sini. Bagaimana kabarmu! Kau tau aku susah payah mencarimu saat di Jakarta, tapi kini aku merasa lega setidaknya bisa bercerita banyak padamu. Kau dengan siapa?”
“Alhamdulillah baik. Benarkah! Ini Billa. Maaf Yas aku tak bisa lama-lama, ada hal penting yang harus ku lakukan dengan Billa. Permisi.”

Ada guratan kekecewaan yang diperlihatkan Yasmin, ketika Langit menolaknya untuk berbicara. Pria itu seakan mengisyaratkan bahwa ia tak bahagia bersua dengan Yasmin.

“Tak adakah yang ingin kau tanyakan tentang Bintang! Begitu cepatkah kau melupakannya?” Teriak Yasmin.
Langit terus berjalan, tanpa menghiraukan perkataan Yasmin. Billa yang merasa tak enak dengan Yasmin, memilih untuk berhenti kemudian meminta Langit untuk kembali menemui Yasmin.
“Langit kau tau apa yang paling rapuh di dunia ini?” Tanya Billa.
“Kayu yang sudah lapuk.” Ucapnya tersenyum.
“Bukan. Tapi hati seorang wanita, hatinya begitu lembut sehingga ia mudah menangis. Aku tak tau ada hubungan apa kau dengan wanita tadi. Tapi temuilah dia, sepertinya gadis itu ingin berbicara denganmu. Tugasku sudah selesai menemanimu berkeliling. Jadi minta bantuanlah pada temanmu itu.”
“Tapi Bil. Tak bisakah kita bertemu kembali dilain waktu?”
“Biarkan takdir kelak yang mempertemukan kita. Wasalamuallaikum.” Ucapnya tersenyum dan berlalu pergi.

Langit hanya menatap kepergian Billa. Ia begitu kehilangan ketika Billa menolaknya untuk kembali bertemu. Hatinya merasakan sakit seperti hati yang pernah terluka. Rasa yang pernah ada menghempaskannya ke jurang, seakan memberikan kekecewaan yang tiada obatnya. Seperti membuka lembaran lama, dengan sebuah kisah penuh kekecewaan.

Langit kembali berjalan ke arah Yasmin, dengan langkah berat dan hati terpaksa. Ada ribuan pertanyaan yang ingin ia utarakan pada Yasmin, namun keegoisan membuatnya seakan-akan tak peduli. Rindunya terkalahkan oleh kegoisan hatinya.

“Kau bilang ada hal yang ingin kau ceritakan padaku. Katakan sekarang, aku tak banyak waktu.”
“Apakah gadis itu pengganti Bintang di hatimu?”
“Iya. Gadis itu lebih baik dari Bintang. Ia tak pernah memberikan harapan palsu padaku.”
“Secepat itukah kau melupakan Bintang?”
“Iya secepat Bintang melupakanku. Oh ya katakan pada sepupumu itu, terima kasih untuk rasa sakit yang ia goreskan di hatiku. Kepergiannya menghindari pernikahan, dengan alasan dijodohkan, aku tak peduli. Dia pikir kisahnya seperti Siti Nurbaya yang dicintai oleh Samsul. Tidak, aku bukan seperti Samsul yang akan tetap mencintainya, setelah ia mencampakkanku.”
“Bintang tak pernah mencampakkanmu. Bintang selalu ada di dekatmu.”

Langit tak peduli, ia meninggalkan Yasmin di pinggir pantai. Hatinya sakit setiap kali pria itu mendengarkan nama Bintang. Ada rasa rindu, namun ia memilih untuk mengingat rasa sakit dibandingkan harus mengingat rasa bahagia.

“Bintang akan selalu ada di hati Langit. Itu yang selalu diucapkan Bintang padaku, bahwa kata-kata itu yang selalu kau ucapkan kepada Bintang.”

Langit berhenti ketika Yasmin mengingatkan sebuat kata-kata yang selalu ia ucapkan pada Bintang. Pria itu selalu menjaga Bintang disetiap saat, walau mereka tak pernah bersua Bintang dan Langit saling percaya bahwa mereka tak pernah berkhianat. Namun seminggu sebelum acara pernikahan, Bintang memilih untuk pergi dari kehidupan Langit dengan alasan ayahnya tak menyetujui pernikahan mereka, sebab ayahnya telah menjodohkannya dengan lelaki lain.

“Langit. Bintang tak pernah mengkhianatimu. Jika kau tak percaya, akan ku ajak kau bertemu dengannya.”
“Aku tak sudi bersua dengannya.”
“Anggap ini untuk yang terakhir kalinya kau menemuinnya.”
“Baiklah.”

Langit mengikuti saran Yasmin untuk menemui Bintang. Walau ada rasa sakit di hatinya, namun ia mencoba untuk mengendalikan keegoisan. Tak berapa lama, tibalah mereka di sebuah tempat yang menurutnya sangat mencurigakan. Tempat itu penuh dengan tanaman-tanaman yang tak asing, bau wangi melati tercium di hidungnya, sehingga menimbulkan tanda tanya besar.

“Bukankah ini pemakaman Yas?”
“Benar. Bintang kini tinggal di sini.”
“Maksudmu?” Ucapnya tak percaya.
“Seminggu sebelum pernikahan kalian, Bintang dilarikan ke rumah sakit, karena harus menjalani opersai gagal ginjal. Ia sengaja tak memberitaumu, karena ia yakin sebelum hari pernikahan ia bisa sembuh. Ia tak ingin merepotkanmu dan keluargamu. Tapi na’asnya Allah berkehendak lain, Bintang menyuruh Karla memberitahu padamu bahwa ia dijodohkan dengan lelaki lain, berharap kau segera melupakannya. Namun aku yang tak tega menyimpan rahasia ini darimu, berusaha mencari keberadaanmu. Tapi sayang seminggu beredar kabar tentang Bintang, disaat itu kau langsung melupakannya.

Langit terduduk pada pusaran Bintang. Kakinya lemas, air matanya mengalir tanpa intruksi, ia marah pada dirinya sendiri atas keegoisan yang memintanya untuk segera melupakan Bintang. Pria itu terus mengutuk dirinya, karena hampir menggantikan Bintang di hatinya dengan gadis bernama Billa.

“Percayalah Langit, Bintang akan terus bersinar di hatimu. Seperti Bintang yang selalu bersinar di Langit menerangi bumi. Karena Bintang ingin Langit selalu cerah, tanpa air mata.”

Kini kau akan merasakan luka yang abadi, dari pada sekedar luka di hati. Setelah takdir singgah mengabarkan kepedihan yang tak ada obat penawar apapun.


(Penulis Pilihan dalam buku antologi berjudul BINTANG yang diadakan oleh penerbit Lasaripi, pada 11 Februari-30 Maret 2017)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Minuman sehat Untuk Kita yang Syar’i

Berhijab syar’i bukan menjadi suatu hambatan bagi kita untuk menjalankan suatu aktifitas. Hanya karena kita tidak PD (Percaya Diri) dengan apa yang kita kenakan. Karena merasa kita berbeda dengan yang lainnya. Jangan jadikan syar’imu menghambat karir dan dirimu untuk berkarya. Banyak perusahan yang mau menerima karya dan ilmumu, tak sedikit wanita berhijab syar’i bisa sukses dan jaya bahkan bisa menembus dunia luar. Semua tergantung cara pandang dan berfikirmu. Lakukan yang terbaik, kepakkan sayapmu dan katakan pada dunia bahwa kamu juga bisa seperti mereka. Dulu saya menghabisi banyak waktu untuk kegiatan dengan bekerja di salah satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang otomotif, malam harinya saya harus kuliah, di tambah sabtu minggu saya harus latihan teater, bergabung bersama komunitas Film pendek, pengajian di YISC Al Azhar ditambah harus menyelesaikan naskah, itu semua tidak menghambat saya untuk tetap syar’i. Kalau sudah begitu, sangat penting bagi kita ...

CUKUP MENGAGUMIMU DALAM DO’A

CUKUP MENGAGUMIMU DALAM DO’A (jika dalam raga tak mampu memilikimu, maka dengan do’a aku merasa memilikimu) senja menyapa malam, sisa hujan tadi sore membuatku menelusuri lorong waktu. Detak jam tak seirama dengan suara rintikan hujan, namun dapat memadukan irama yang indah jika didengar dengan penuh cinta. Kenyataan tadi siang telah jauh menghantamku ketebing jurang tertinggi, senyum yang dulu aku harapkan, kini seakan menjadi neraka yang tak ingin aku lihat. jika kuingat kembali kejadian itu, aku hanya ingin meminta kepada tuhan, kenapa harus dirimu orang yang pertama aku cintai? Mengapa harus dirimu orang yang pertama mengisi hatiku? Ya seperti itulah kenyataannya. Kuingat kembali saat pertemuan kita digerbang sekolah, kau berjalan melewatiku dengan aroma wangi tubuhmu, senyumanmu yang memukau membuat seluruh wanita memandangmu. Namun sayangnya senyumanmu itu bukan untukku, tapi untuk wanita yang sedang berdiri anggun didepan taman sambil melambaikan tangann...

KINARA DI UJUNG SENJA PART 2

MALAM itu langkah kaki yang tidak menyisahkan suara, mencekik pernafasannya berulang kali. Sebuah nama yang terngiang jelas di benaknya. Sebuah nama yang tak ingin ia dengar, dan nama itu telah ia kubur dalam-dalam hingga tak membekas sedikitpun dalam memorinya. “Amara dan Ronald bagaimana keadannya sekarang?” Kenny melirik Omanya, ada rasa sesak membuncahkan rasa sakit teramat dalam. Ia kemudian membuang pandang dengan mata yang mulai memerah dan berair. “Oma jangan pernah sebut nama itu di depan saya. Rasanya mendengar namanya saja, membuat saya tak bisa bernafas.” Ucapnya menahan amarah, dengan gigi yang mengeram seakan ia merasakan darahnya berdesir. “Baiklah Oma mengerti.” Ke duanya terdiam. Hening, tak menimbulkan suara. Eva melirik sekilas ke arah Kenny, setelah memastikan cucunya sudah sedikit tenang. Ia kemudian meminta Kenny, untuk memanggil Nara di Pavillion. Mengingat hari ini hari libur, tentunya gadis itu akan sangat bosan, setelah seharian sejak ...