Langsung ke konten utama


cerpen inspirasi (perjuangan)

SECARIK KERTAS


Tik…tik….tik…..
Bunyi suara hujan terdengar jelas dari atas atap yang hanya terbuat dari triplek, Bagaimana tidak rumah yang berukuran 25 Meter yang terdiri 3 ruangan yang disekap dengan triplek, tampak jelas terdengar ditelinganya. Begitupun dengan suara kilat yang begitu kencang, seketika membuat tubuhnya gemetar dan ketakutan.

Malam hari ini tampaknya awan tidak bersahabat dengannya, Aswan yang tadi terlihat tidur sangat pulas tiba-tiba berlari mendekap tubuh pak Joko yang kurus, bahkan jika dilihat tubuh itu yang terlihat hanya tulang. Aswan berusaha menyembunyikan kepalanya kedalam ketiak pak Joko yang sedang tertidur pulas, hujan hari ini benar-benar membuat Aswan ketakutan.

Beberapa jam kemudian hujan berhenti, menyisakan kedinginan yang menyelimuti tubuhnya, dekapan yang tadi kuat berlahan terlepas dari tubuh pak Joko. bagaimana bisa dekapan yang begitu kuat dan lama tidak membuat pak Joko terbangun dari tidurnya, setidaknya ia tersentak dengan dekapan yang kuat itu. Mungkin karena ia terlalu lelah, lelah akan kehidupan yang berusaha membelenggu dirinya. Berjuang sebagai seorang kuli bangunan dengan harapan bisa menyekolahkan Aswan ketingkat yang lebih tinggi. Ya Bapak tua itu memiliki impian yang mustahil untuk kebanyakan orang yang memiliki pikiran picik.

Aswan adalah salah satu kebanyakan anak yang terlahir dari keluarga miskin tanpa Ibu. Ibu nya meninggal 10 tahun yang lalu ketika berusaha melahirkannya, namun Tuhan berkata lain buah cinta yang bertahun-tahun ia dambakan kini telah lahir kedunia. namun harapan untuk hidup bersama layaknya keluarga yang utuh hanya tinggal kenangan dan harapan yang tak pasti. kini yang ada dipikiran pak Joko bagaimana Aswan bisa hidup dengan baik, berperan sebagai Ibu sekaligus ayah untuknya.

Terkadang hatinya menangis, ia juga berusaha tersenyum. pak Joko bekerja keras membanting tulang dengan harapan Aswan mendapatkan sekolah yang terbaik, dan menjadi harapannya dimasa depan. Menjadi seorang kuli bangunan membuatnya ceria, setiap kali mengingat wajah Aswan yang begitu semangat menuntut ilmu. bagaimana tidak sejak kelas 1 sampai dengan kelas 5 Aswan mendapat juara 1 dikelas dengan siswa berprestasi, Perjuangan yang tidak sia-sia baginya.

Hari sudah pagi, tampaknya sang surya bersinar terang menembus kesela-sela jendela kamar Aswan yang terbuat dari bambu. Terlihat pak Joko sedang menyiapkan nasi goreng untuk sarapan pagi Aswan.

“Aswan, bangun nak udah pagi! Hari ini kamu sekolah kan, ada ujian?” panggil pak Joko dengan bahasa jawa yang masih kental.

“jam berapa ini pak? Aku masih ngatuk. Oh yo aku lupa hari ini ada ujian yo. Yo wes aku mandi dulu, pak’e biarkan aku saja yang buat sarapan, pak’e berangkat kerja saja?”

“sudah pak’e masak, sana cepat mandi terus sarapan, nanti nasinya keburu dingin?”

“yo weslah.”

Pagi hari ini tampaknya suasana hati Aswan gembira, ia terlihat bersemangat berjalan menuju sekolah, langkah kakinya begitu cepat senyum diwajahnya mengembang dengan harapan hari ini bisa menyelesaikan ujian dengan lancar.
ketika disekolah terlihat Reza, Ciko, dan Hari berlari kearahnya sambil membawa coklat. Tetapi bukan untuk diberikan kepada Aswan, justru Ciko memoleskan Coklat itu kebaju Aswan. Baju yang semulanya bersih kini menjadi kotor berwarna Coklat.

“Ciko??? Teriak Aswan.”

“kenapa! loe marah, bajunya sekarang kotor? Itu balasan karena kemarin loe ngadu sama bu Guru kalau kita bolos sekolah. Karena loe kita kena hukum.”

“makanya jadi orang jangan suka ngadu.” Ucap Reza

“itu kan salah kalian, siapa suruh kalian bolos? Kalian  kira bayar sekolah murah?” ucap Aswan dan kemudian lari kebelakang sekolah, Ciko yang tidak bisa menerima kemudian mengejar Aswan, namun mereka tidak menemukannya.

Belakang sekolah tampak sepi, ia ingin kembali kekelas namun Ciko tampaknya sedang berdiri didepan kelas menunggunya. Aswan sejak tadi hanya mondar mandir dibelakang sekolah sambil mengintip keberadaan Ciko, beberapa jam kemudian sekolah tampaknya sudah mulai sepi. Namun ia belum berani keluar. sayup-sayup terdengar suara orang sedang menangis, semula kakinya yang tadi kuat kokoh kini menjadi lemas, dengan rasa penasaran ia menghampiri siapa pemilik suara itu.

“Bayu! Sedang apa kamu disitu?” ucap Aswan mengagetkan Bayu.

“Aswan! Sedang apa kamu disini?”

“loh, aku yang bertanya sedang apa kamu disini? Kenapa tadi tidak ikut ujian?”

“tidak….tidak ada apa-apa.” Ayo kita pulang ucap Bayu

Saat Bayu berjalan pergi meninggalkan Aswan, tiba-tiba tangan Aswan menarik pergelangan Bayu. Seketika langkah kaki Bayu terhenti tepat didepannya.

“Bayu, kata ayahku anak cowok itu gak boleh cengeng. Anak cowok itu harus kuat, aku tau kenapa kamu nangis? Kamu belum bayarankan, jadi tidak bisa ikut ujian?”

“tidak, aku tidak menangis. Hei dari mana kamu tau?”

“aku hanya menebak, kamu tidak usah sedih. Bagaimana kalau kita bicara saja sama ibu guru? Siapa tau saja dia mengerti dan kamu boleh ikut ujian.”

“apa mungkin?”

“percayalah, katakan yang sejujurnya. Aku yakin bu Guru pasti paham ko. Jadi jangan murung lagi, mending kita pulang? sekolah sudah sepi juga.”

Akhirnya Aswan dan Bayupun pulang. sampai diperapatan jalan tiba-tiba 2 anak kurcaci Reza dan Ciko menghandang mereka berdua. Namun Bayu dan Aswan tidak berani membalas perlakuan Ciko yang telah berani membuang tas Aswan keperairan sawah sehingga terkena lumpur.

“hei Ciko! kasar sekali tanganmu, ambil tas itu atau tidak aku hajar muka mu ?” ucap Bayu

“kenapa! Berani, oh mau juga gue lempar tas loe? Eh Aswan ingat ya loe jangan berani-berani sama gue, ibu loe meninggal gara-gara loe. Loe tuh anak pembawa sial tau.”  ucap Ciko

“hai Ciko jaga ucapanmu. aku tidak takut dengan kalian, sini maju?” dengan mengeluarkan ketapel

Seketika wajah Aswan tampak sedih dan berusaha menahan rasa sakit mendengar ucapan Ciko, sebagai anak laki-laki ia tidak boleh lemah, namun hatinya menangis, ucapan Ciko tadi seperti tusukan belatik.

 “sudah, sudah Bayu tidak apa-apa, ini hanya kotor nanti bisa aku bersihkan.”

“tapi Wan mulutnya keterlaluan, kamu jangan hanya diam. Bisa-bisa dia tambah kelewatan, biar aku slepet agar mulutnya tidak sembarangan mencela orang. Sekali-sekali orang seperti mereka harus dihajar.”

Belum sempat Bayu mengambil batu dan menyelepet mereka dengan ketapel, Ciko dan Rezapun lari ketakutan.

                                                ***

“sudah malam Wan, nanti matamu sakit sejak tadi baca buku. Tapi mukamu ko murung apa yang dibaca dengan raut wajah seperti itu?” sambil mengusap kepala Aswan

Tiba-tiba iya menutup bukunya dan memutar badannya kearah pak Joko yang sedang duduk disampingnya, mukanya tadi tertunduk kemudian tegap menatap tajam mata sang ayah.

“Pak’e memang betul aku yang menyebabkan mak’e meninggal?”

“kamu kata sopo nak? Tidak ada yang membuat mak’emu meninggal, semua itu sudah takdir yang telah Tuhan tulis dilauhul mahfudz. Kita bisa berencana, tapi takdir tidak bisa kita ubah.”

“tapi kenapa mak’e meninggal saat melahirkan aku pak?”

“sekali lagi  Bapak katakan mak’emu meninggal bukan karenamu. Sudah jangan berpikir yang macam-macam, kamu sudah sholat ?”

“belum pak?”

“yowes sholat dulu sana, terus langsung tidur.”

Ketika dia berjalan kedalam bilik untuk tidur, tiba-tiba kakinya berhenti tepat dibelakang Bapaknya yang sedang asik menulis, begitulah setiap malam kebiasaan pak Joko sebelum tidur iya menyempatkan untuk menulis disecarik kertas.

“Bapak kenapa belum tidur ?” sapa Aswan

“iyo, nanti Bapak nyusul, sana kamu tidur duluan.”

Bukannya berjalan kekamar. Aswan malah duduk disamping pak Joko sambil memperhatikan Bapaknya sedang menulis.

“aku tunggu Bapak sajalah.”

“loh kamu besok sekolah, nanti ngantuk.”

“tidak Pak. Aku perhatikan Bapak suka sekali menulis disecarik kertas itu? Kenapa tidak dibuku saja Pak?”

“ini kebiasaan Bapak Wan. Kamu tau tidak, kita ini hidup selalu penuh dengan masalah. Bahkan saat kita lahir kedunia sudah penuh dengan masalah. Nah Menulis adalah cara yang baik untuk meringankan masalah, kamu bisa menulis semua masalahmu diatas kertas ini. Tujuannya untuk meringankan beban yang ada dibenakmu. lalu setelah kamu tulis, kamu bakar kertas itu.”

“loh kenapa harus dibakar pak? Kan sudah capek kita tulis.”

“agar semua masalah itu ikut terbakar dan lenyap. Tapi jika kamu memiliki mimpi dan harapan tulis semuanya dikertas ini juga, lalu simpan disaku ataw dikantong celanamu. Agar setiap kali kamu mengalami kegagalan, ataw putus asa buka kembali kertas impianmu itu. Maka kamu akan kembali bersemangat.”

“oh begitu Pak, oke mulai sekarang aku akan menulis semua impianku dikertas.”

“yowes, sekarang kita tidur dulu.”

Menit demi menit mata merekapun terpejam bersama gelapnya malam dengan iringan suara jangkrik yang menemani tidur ayah dan anak itu, berharap esok pagi melihat sang surya dan Terbangun dengan harapan pasti untuk manjalani hidup lebih baik esok dan seterusnya.

                                                ***

Pagi ini tampaknya Aswan sangat bersemangat pergi kesekolah, terlihat setelah selesai sarapan ia berpamitan dan berlari keluar. Ia tampak menari sambil berputar-putar ditengah rimbunnya pepohonan, udara pagi yang masih segar. tetesan embun yang masih terasa dingin membelai kulitnya dengan lembut, Membuat bulu tangannya merinding. Bayu berjalan tepat dibelakang dan memperhatikan Aswan yang sedang berjalan didepannya, dalam tatapan yang tajam mata itu terus memperhatikan setiap langkah kaki Aswan.
Sesampai dikelas, Bayu mengambil posisi duduk tepat dibelakang Aswan. Kebetulan nomor ujiannya memang disitu, Tidak jauh dari pintu kelas. Aswan berjalan menghampiri bayu yang sedang berusaha menghapal pelajaran untuk ujian pagi ini.

“Bay kamu ikut ujian?”

“iya, kemarin aku sudah minta kelonggaran kepada bu Mega untuk diizinkan ikut ujian.”

“syukurlah.”

Kelas tampak sepi dan hening seperti digedung tua yang tidak ada penghuninya, yang terdengar hanya suara angin sepoi mengibas setiap rambut anak perempuan yang teruai panjang, ujian hari ini berjalan lancar. Tampaknya Aswan dan Bayu puas dengan jawaban soal ujian hari ini, sangat terlihat jelas senyuman yang mengembang dikedua bibir Bayu dan Aswan.

“Wan kamu tampaknya buru-buru, mau kemana?” ucap Bayu

“tidak tau Bay, sepertinya aku ingin pulang cepat-cepat. Aku duluan ya?”

Belum sempat Bayu menjawab, namun langkah Aswan sudah jauh hingga tidak tampak lagi bayangannya dalam pandangan Bayu. Wajah Aswan tampak panik, hatinya berdebar kencang tapi ia tidak tau apa yang sedang terjadi.

Sesampai dirumah ia langsung lari kekamar pak Joko, terlihat wanita setengah baya duduk disamping tempat tidur pak Joko sambil terisak-isak, wanita itu adik kesayangan pak Joko bu’de aswan. Mata Aswan terbelalak, tiba-tiba badannya lemas dan gemetaran melihat tubuh pak Joko yang terbaring tak berdaya, sambil memangil-manggil namanya.

“Bapak kenapa pak, Bapak sakit? ayo kita kerumah sakit pak.”

“tidak. Aswan sekarang kamu sudah besar, kamu harus menjadi anak mandiri yo nak. Maaf kalo selama ini Bapak belum bisa membuat kamu bahagia, Bapak tidak punya apa-apa yang bisa Bapak wariskan kepadamu. Hanya secarik kertas ini yang hanya bisa Bapak berikan, berjanji kepada Bapak kalau kamu akan hidup menjadi anak soleh, sukses dan hiduplah dengan bahagia.”

“Lasmin aku titipkan Aswan kepadamu? Sayangi dia layaknya seperti anakmu, buat ia bahagia.”

Tiba-tiba suara pak Joko semakin lama semakin mengecil, dan terputus. Suara pekik tangisan Aswan seperti petir disiang bolong, hatinya sangat terguncang badannya menjadi dingin, seakan ia tidak merelakan kepergian sang ayah. Namun tuhan berkehendak lain ia lebih dulu dipanggil oleh sang khalik.

“Bapak….Bapak bangun…bangun Pak? Aku tidak butuh kertas ini, yang aku butuhkan itu Bapak. Aku karo sopo pak, Bapak bilang mau lihat aku menjadi Sarjanah, Bapak juga bilang mau lihat aku menjadi anak sukses. Pak aku mohon bangun!”

“sudah Aswan, biarkan Bapakmu tenang, jangan biarkan satu tetes air matamu jatuh kewajahnya nanti Bapakmu akan sedih. Ingat Aswan, setiap yang bernyawa pasti akan meninggal begitu juga dengan kamu dan bu’de namun kita tidak akan pernah tau kapan kita akan dipanggil.”

Dan saat itu ia tersadar, gerimis menyirami acara pemakaman seolah-olah langit ikut berduka dan menangis. seakan-akan langit tau bahwa duka yang sangat dalam yang tidak mampu untuk menerima takdir dari sang ilahi. Takdir yang tidak diinginkan oleh kebanyakan orang, namun tidak bisa juga ditolak.

Semangat yang tadinya mengebu-ngebu kini hanya berupa harapan dan bayangan, raganya hidup, tetapi hatinya terasa mati. Mana mungkin seorang bocah yang berumur 10 tahun ini bisa menjalani hidup tanpa adanya seorang Ayah dan Ibu, orangtua tempat ia mengadu dikala masalah datang menimpa, kala malam mencekam dan menakutkan, kebahagia yang kelak ingin ia ceritakan dengan penuh bangga, kepada siapa ia mampu berbagi duka?

Dunia serasa tidak adil dengannya, terlahir dari keluarga miskin ia tidak pernah protes, hidup bertahun-tahun dengan sang Ayah tanpa Ibu, ia bahkan tidak mengeluh. ia mencoba belajar kuat. Namun seolah Bumi tidak ingin menerimannya terlahir kedunia ini.

                                                        ***

kini bocah ingusan yang hidup sebatang kara itu, bukan lagi anak kecil yang pernah merengek minta mainan saat dulu sang ayah tidak memiliki uang untuk membelinya, bukan lagi bocah yang selalu terlihat murung sejak kepergian sang ayah yang tiba-tiba meninggal tanpa penyakit yang dideritanya. bahkan sampai saat ini ia tidak tau apa penyebab sang Ayah meninggal, yang ia tau ayahnya pergi karna Tuhan sayang kepadanya.

 kehidupan ditahun silam membawakan duka dan kepedihan yang tiada henti, bahkan keceriannya hampir saja lenyap termakan oleh waktu. Namun kini anak itu sudah tumbuh menjadi Dewasa, dengan memakai kemeja berwarna Biru, berbalut jas hitam dipadu dengan celana bahan hitam ia tampak gagah dan tampan berjalan memasuki sebuah Rumah yang begitu megah, dengan pagar yang menculang keatas, terlihat wanita setengan baya berdiri menyambutnya dengan penuh Cita. Ya itu adalah bu’de nya wanita yang merawatnya sejak sang Ayah pergi meninggalknannya untuk kehidupan yang abadi disana.

Kini ia sudah menjelma sebagai pria dewasa yang mampan dan berkharisma, pemilik sebuah perusahaan property ternama. aswan berjalan memasuki kamarnya, Kakinya melangkah kearah pojok kamar dan tiba-tiba terhenti didepan sebuah meja yang tertata rapi penuh dengan buku-buku tebal, namun tiba-tiba matanya mengarah pada sebuah kotak tua yang tebuat dari kaleng, Aswanpun membukanya dan seperti bisa ia selalu rutin untuk membaca secarik kertas yang tersimpan rapi didalam kotak kaleng.

“Aswan anakku
Jika nanti kamu membuka dan membaca surat ini mungkin Bapak sudah tidak lagi bersamamu. ingat raga Bapak boleh saja tidak ada, tapi percaya dihati ini akan selalu tertanam cinta Bapak dan Ibumu.
Aswan Bapak punya satu permintaan, jika nanti Bapak sudah tidak lagi bersama dengamu tolong wujudkan impian Bapak dan Ibu, untuk terus tetap rajin belajar. buktikan pada Bapak kalau kelak engkau menjadi Sarjanah, hiduplah dengan baik dan bahagia. Maaf jika dihari terakhirku ini tidak bisa kuberikan apa-apa untukmu, hanya secarik kertas ini yang bisa Bapak berikan dengan harapan kamu menjadi seseorang yang berguna terutama untuk dirimu.
Lakukan dengan doa dan pejamkan matamu setiap kali kamu takut dan putus asa, maka semua ketakutan itu akan menghilang.

Salam dari Ayah dan Ibu yang akan selalu mencintaimu.


Apa bila ada kesalahan dan kurang berkenan silahkan tinggalkan komentar untuk bahan evaluasi saya terima kasih sudah berkunjung ke blog saya :D

BY: Yuli Yanti

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Minuman sehat Untuk Kita yang Syar’i

Berhijab syar’i bukan menjadi suatu hambatan bagi kita untuk menjalankan suatu aktifitas. Hanya karena kita tidak PD (Percaya Diri) dengan apa yang kita kenakan. Karena merasa kita berbeda dengan yang lainnya. Jangan jadikan syar’imu menghambat karir dan dirimu untuk berkarya. Banyak perusahan yang mau menerima karya dan ilmumu, tak sedikit wanita berhijab syar’i bisa sukses dan jaya bahkan bisa menembus dunia luar. Semua tergantung cara pandang dan berfikirmu. Lakukan yang terbaik, kepakkan sayapmu dan katakan pada dunia bahwa kamu juga bisa seperti mereka. Dulu saya menghabisi banyak waktu untuk kegiatan dengan bekerja di salah satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang otomotif, malam harinya saya harus kuliah, di tambah sabtu minggu saya harus latihan teater, bergabung bersama komunitas Film pendek, pengajian di YISC Al Azhar ditambah harus menyelesaikan naskah, itu semua tidak menghambat saya untuk tetap syar’i. Kalau sudah begitu, sangat penting bagi kita ...

CUKUP MENGAGUMIMU DALAM DO’A

CUKUP MENGAGUMIMU DALAM DO’A (jika dalam raga tak mampu memilikimu, maka dengan do’a aku merasa memilikimu) senja menyapa malam, sisa hujan tadi sore membuatku menelusuri lorong waktu. Detak jam tak seirama dengan suara rintikan hujan, namun dapat memadukan irama yang indah jika didengar dengan penuh cinta. Kenyataan tadi siang telah jauh menghantamku ketebing jurang tertinggi, senyum yang dulu aku harapkan, kini seakan menjadi neraka yang tak ingin aku lihat. jika kuingat kembali kejadian itu, aku hanya ingin meminta kepada tuhan, kenapa harus dirimu orang yang pertama aku cintai? Mengapa harus dirimu orang yang pertama mengisi hatiku? Ya seperti itulah kenyataannya. Kuingat kembali saat pertemuan kita digerbang sekolah, kau berjalan melewatiku dengan aroma wangi tubuhmu, senyumanmu yang memukau membuat seluruh wanita memandangmu. Namun sayangnya senyumanmu itu bukan untukku, tapi untuk wanita yang sedang berdiri anggun didepan taman sambil melambaikan tangann...

KINARA DI UJUNG SENJA PART 2

MALAM itu langkah kaki yang tidak menyisahkan suara, mencekik pernafasannya berulang kali. Sebuah nama yang terngiang jelas di benaknya. Sebuah nama yang tak ingin ia dengar, dan nama itu telah ia kubur dalam-dalam hingga tak membekas sedikitpun dalam memorinya. “Amara dan Ronald bagaimana keadannya sekarang?” Kenny melirik Omanya, ada rasa sesak membuncahkan rasa sakit teramat dalam. Ia kemudian membuang pandang dengan mata yang mulai memerah dan berair. “Oma jangan pernah sebut nama itu di depan saya. Rasanya mendengar namanya saja, membuat saya tak bisa bernafas.” Ucapnya menahan amarah, dengan gigi yang mengeram seakan ia merasakan darahnya berdesir. “Baiklah Oma mengerti.” Ke duanya terdiam. Hening, tak menimbulkan suara. Eva melirik sekilas ke arah Kenny, setelah memastikan cucunya sudah sedikit tenang. Ia kemudian meminta Kenny, untuk memanggil Nara di Pavillion. Mengingat hari ini hari libur, tentunya gadis itu akan sangat bosan, setelah seharian sejak ...