Zahira adalah sosok gadis cantik, bermata Coklat. senyumnya menawan mampu membius. setiap mata yang melirik kearahnya. tidak hanya cantik parasnya, namun sifat dan Budi pekertinya. gadis dengan sejuta keindahan itu berjalan melaluli koridor Lab Komputer. dengan Jilbab berwarna merahnya ia tersenyum menyapa setiap mahasiswa lain, yang menegurnya.
Gadis itu berjalan menelusuri ruang Perpustakaan dengan Laptop dan sebuku yang mengapit didadanya. ketika masuk, seorang pria dengan tubuh tinggi semampai menabraknya dari arah belakang, sehingga membuat Zahira terhempas ketembok. untung saja Laptop yang dipegangnya tidak terjatuh.
"Mba maaf, tadi saya dikejar oleh Dia." sambil menunjuk ke arah belakang.
Namun temannya yang mengejar tadi, tiba-tiba menghilang. dan membuat pria itu malu sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Nah, mana Si Toeng. padahal tadi bener mba, dia ngejar-ngejar saya. suer deh." Ucapnya lantang.
"Ya, sudah tidak apa-apa. lain kali hati-hati." ucapnya sambil berlalu pergi dengan senyum yang masih mengembang.
Ya, gadis cantik dengan sejuta pesona itu, tidak pernah terlihat sedih ataupun muram. ia selalu tersenyum, bahkan bisa dikatakan Hobinya adalah tersenyum. sementara Pria yang bernama Marcel masih tetap berdiri di Depan ruang Perpustakaan. Ia masih tidak percaya, dengan apa yang ia lihat. senyum zahira mampu meruntuhkan Imannya. matanya mampu membius Marcel, namun yang tak akan dia lupakan senyumnya yang tetap konsisten walau ia telah menabrak gadis itu.
"Cel, ye dia masih bengong. sory tadi gue kabur. gak tau kenapa gue setiap kali liat Zahira, pasti jantung gue berdebar. dia gak hanya cantik tapi juga Sholeha."
" Ooh...Namanya Zahira."
"Kenapa? jangan-jangan loe juga naksir lagi?"
"Ya, gak lah. mana mungkin gue naksir sama gadis Muslim berhijab." ucapnya dengan lantang. lalu mengajak Faqih pergi dari sana.
Namun mata Marcel masih tetap melirik ke dalam, seperti mencari sosok-sosok gadis jelita yang baru saja ia tabrak. Marcel adalah sosok Pria Katolik, yang sangat taat beribadah. tidak hanya Tampan, Putih dan berkharisma. pria bermata sipit itu digandrungi banyak wanita. namun sayang ia hanya menyukai wanita yang seiman dengannya, karena baginya agama adalah prioritas utama.
Usai mengerjakan Tugas di Perpustakaan, Zahira langsung bergegas pulang. adzan telah berkumandang menandakan waktu Ashar telah masuk, sesampai di depan Gerbang kampus. Ia kemudian mengubah Haluan kembali ke dalam Kampus. Marcel yang berdiri bersama Faqih di gerbang merasa tertarik untuk mencari tau tentang Zahira, maka diikutilah Zahira sampai dalam kampus.
Rupanya Gadis jelita itu, menuju Mushola dan melaksanakan sholat Asar. Marcel dari jauh masih mengawasi Zahira di area bangku Taman yang menghadap ke arah Musholah. matanya terus melirik setiap gerakan yang dilakukan oleh Zahira, tak terasa kedua tangannya bergerak mengikuti gerakan zahira.
Usai shalat kemudian gadis itu melanjutkan perjalanannya menuju Rumah, namun saat diperjalanan tiba-tiba seorang Ibu-ibu Tua terjatuh, dengan sigap gadis cantik itu menolongnya dan membawanya ketempat teduh. dan mengistirahatkan ibu itu, lalu mengantarkannya pulang. Marcel yang masih penasaran masih tetap mengawasi gerak langkah Zahira hingga menuju Rumahnya.
Keesokan harinya Gadis itu seperti biasanya jam istirahat selalu memanfaatkan waktunya untuk membaca buku Di Perpustakaan. sementara Marcel mencari-cari keberadaan Zahira, maka tibalah ia di Perpustakaan dan mendapati gadis itu sedang terduduk di pojok Perpustakaan dengan buku yang menumpuk menutupi wajahnya, ya jika tidak membaca buku, ia membantu Tania petugas Perpustakaan untuk merapikan buku pada Raknya.agar tidak dicurigai Marcel, mengambil posisi duduk menghadapa Zahira, sambil memandangi wajah cantik gadis itu, dengan tersenyum ia tersipu malu dibalik buku yang ia gunakan untuk menutupi wajahnya.
Tidak beberapa lama, Faqih datang mencari Marcel dan sontak mengagetkan pria itu.
"Cel, loe kemana aja? gue cari-cariin juga."
"Ini baca buku, gak liat loe kalau gue lagi baca buku."
"Sejak kapan Loe baca buku? udah Yuk keluar, ke kantin." Tarik Faqih.
"Loe aja duluan. ucapnya berbisik.
Tiba-tiba Zahira kembali keposisi duduknya setelah meletakkan buku-buku pada Raknya, namun sontak membuat Faqih kaget.
"Ah...Gue tau. Loe pasti lagi liatin Zahirakan bisiknya pada Marcel."
"Sok tau Loe, orang gue lagi baca buku."
"Gak, percaya Gue.Zahira cantik Men....gak mungkin kalau Loe gak suka sama gadis kaya dia."
"Kan udah Gue bilang gak mungkin, dia gadis yang taat dengan agamannya. begitu juga gue taan sama agam gue."
"Tapi tidak menutup kemungkinan cinta itu akan tumbuh."
"Mungkin. Bisa jadi." sambil berlalu pergi meninggalkan Faqih.
Zahira, kemudian berjalan menuju pintu keluar. tiba-tiba langkahnya berhenti, saat ia melihat Faqih.
"Faqih kan?"
"Iya."
"Apa kabar? udah lama gak ngumpul acara Farmais, kemana Aja."
karna gue suka sama Loe, setiap kali gue ketemu lLoe pasti grogi. ucapnya dalam hati. "Ada ko, cuma lagi sibuk sama tugas kuliah."
"Oh, gitu ya udah. kapan-kapan kita ngumpul lagi ya. nanti sore ada acara Farmais awas harus datang."
Marcel yang berjalan kearah luar, tiba-tiba mengintip kearah jendela seakan, ingin tau apa yang sedang dibicarakan Faqih dengan zahira. cinta yang tidak pernah singgah dihati wanita Muslim. bahkan jangankan Cinta melirik saja dia tidak mau. namun kali ini marcel benar-benar jatuh hati pada gadis jelita itu. tidak hanya parasnya. berlahan hatinya mulai tertarik dengan sikap dan tingkah Zahira, semakin hari ia mengagumi prilaku elok Zahira. tanpa disadari ia benar-benar jatuh hati, bukan saja dengan paras, tingkah laku, namun agama yang dianut oleh gadis itu.
Semakin hari Marcel dibuatnya penasaran dengan Zahira, ia kemudia memberanikan diri untuk berkenalan dan bertegur sapa dengan Zahira. saat sedang duduk di Taman Marcel memberanikan diri menghampiri Zahira yang sedang asik membaca buku.
"Permisi, Kamu Zahira dari Fakultas sastra?"
"Wa'allaikum salam." ucap gadis itu
Marcel hanya terdiam dan bingung dengan jawaban dari Zahira.
"Ya, Assalamuallaikum. maaf saya Non Muslim" dengan bibir yang kurang Fasih.
"Oh, maaf. saya kira anda Muslim."
"Ya, tak apa-apa."
"Oh, iya. ada yang bisa saya bantu?"
"Tidak, saya hanya ingin berkenalan saja."
"Oh, dikira ada apa, Salam Kenal. maaf dengan siapa?"
"Marcel, nama saya Marcel."
"Oke, Marcel. saya kembali ke kelas dulu." ucapnya sambil berlalu pergi.
Semenjak itu, hubungan Marcel dan Zahira semakin dekat, sebagai seorang teman. bahkan sahabat. namun berbeda dengan Marcel, perasaannya semakin hari semakin tumbuh. ia benar-benar jatuh hati pada gadis itu. namun Marcel benar-benar dilanda galau. sementara ia sangat mencintai agama yang ia anut, mencintai Tuhannya. dilain sisi hatinya telah jatuh pada gadis cantik jelita itu. maka dengan segala resiko yang ada. ia memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya pada Zahira.
"Zahira, boleh aku bicara?"
"Silahkan Marcel."
"Aku mencintaimu, bahkan jauh sebelum kamu mengenalku. sejak pertemuan kita di Perpustakaan karena aku tidak sengaja menabrakmu."
Namun tiba-tiba Zahira terdiam. dan bibirnya membisu. ia sangat bingung apa yang diucapka oleh Marcel, karena selama ini ia hanya mengaggap Marcel sebagai seorang Teman. karena sesunggunya ia hanya menghargai agama lain. karena baginya hidup saling bertoleransi. berteman dengan lawan jenis boleh saja namun tau batas dan norma-normanya.
"Tidak Marcel, karena cintaku Pada Allah lebih besar dari segalanya." ucapnya dengan lantang.
Tiba-tiba ucapan itu seketika mengoyahkan Iman Marcel. kata-kata yang terlontar dari bibir gadis jelita itu mampu menyentakkan hatinya. bahwa mencinta Tuhan itu tidak hanya dengan ucapan dan tindakan. tapi sepenuhnya jiwa dan raga.
Marcel hanya tertunduk malu. kemudian pergi meninggalkan zahira. bukan karena kecewa dengan penolakkan Zahira. karena malu dengan sikapnya. kemudian ia belajar banyak tentang agama Islam pada Faqih dan menanyakan berbagai hal tentang islam. semula ia hanya ingin sekedar mengetahui tentang Islam. namun semakin lama ia merasa penasaran, hingga meminta dibawakannya kepada seorang Ustadz. semakin hari semakin membuatnya penasaran. semakin jelas mengapa Zahira menolak cintanya. tidak beberapa lama setelah itu, Marcel resmi memeluk agama Islam, dengan berganti nama menjadi Muhammad Taufik. bukan lagi karena Zahira gadis jelita itu, namun karena ia mencintai Allah dan agama baru yang ia jalankan, sesungguhnya kekasih sejati yang sebenarnya hanya Allah. tiada kekasih yang lain. jika kita mencintai Allah lebih dari diri kita, maka janji Allah itu pasti. tanpa kita minta Allah akan mengabulkan semua apa yang kita inginkan. termasuk pasangan hidup dan kebahagian. sebab dunia akan punah, maka Akhiratlah yang akan kekal. kepada-Nya lah kita kembali.
jadikanlah dulu diri kita menjadi kekasi Allah, percayalah Allah akan menjaga kita bahkan mencukupi kebutuhan kita lebih dari pasangan hidup kita. karena sesunggunya tempat kita bergantung hanya pada-Nya sang Illahi pemilik kerajaan langit dan bumi.

Lumayan
BalasHapus