Langsung ke konten utama

KUPASTIKAN ALLAH RIDHA (KISAH NYATA)


Bagaimana bisa kau mencintai ciptaan-Nya, jika kau tak lebih dulu mencintai pencipta-Nya.

LANGIT menoreh senja, sesaat aku bergeming tak bersuara. Ada sesuatu yang hancur, yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Namun letaknya sangat dekat dengan jantung, yaitu daging berbentuk hati. Berulang kali aku beristighfar berharap Allah menenangkan hatiku. Kudekatkan keningku pada lantai, kucium sajadah merah setiap kali Allah memanggilku. Tak lupa pula kukecup sampul Qur’an berwarna hijau hingga tenanglah hatiku, yang dilanda gelisa tak menentu.


Sepekan hari yang ku tunggu-tunggu berantakan. Lagi-lagi hari lamaran tak kunjung terjadi. Ini sudah yang ke lima belas kalinya, acara yang telah lama kuimpikan gagal. Dimana iman seseorang akan semakin sempurna, jika ia memiliki keluarga sakinah, bersama dengan lelaki yang diridhai Allah menuju Syurga-Nya.


Namun apa boleh buat. Aku harus ikhlas menelan rasa pahit. Bagiku mudah saja untuk mengikhlaskan. Sebab kejadian itu bukan yang pertama bagiku, namun sudah kesekian kalinya. Tapi bagaimana dengan orangtuaku, bahkan juga saudaraku? Bukankah impian setiap orangtua melihat putrinya bahagia, hidup bersama lelaki yang baik? Bukankan impian setiap orangtua bisa menimang cucu di hari tuanya?


Aku hanya mengurung diri di kamar. Mataku sudah mulai sembab, menangisi sesuatu yang tak kunjung datang. Mencoba belajar merelakan sesuatu, walau harus menahan pilu dari cemoohan orang di luar sana. Seliweran berita tak sedap singgah di telinganku, menghantarkanku pada kekecewaan hidup. Aku hanya bisa berpura-pura tegar dihadapan banyak orang, namun siapa kira jika sebenarnya hatiku menangis.


Lelaki yang sepekan akan melamarku, telah berjanji akan menikahiku. Melalui proses taaruf lelaki itu menunjukkan keseriusannya padaku. Namun tiba dihari yang di tunggu-tunggu, lelaki itu menghilang tiada kabar. Kejadiannya sama persis seperti sebelum-sebelumnya, banyak lalat hijau menyerbu wajahku, disaat aku membuka lemari pakaian. Tak hanya itu, di hari lamaran sebelumnya ulat putih keluar dari sudut kamarku. Aku tampak heran, sebab hampir setiap pagi kubersihkan, bahkan sedikitpun debu tak pernah kubiarkan menempel pada cermin meja riasku.


Sudah ke lima belas kalinya peristiwa itu sering terjadi. Sementara aku hanya bisa  berfikiran positif, bahwa sesungguhnya Allah sedang menguji hatiku, serta kesabaranku dalam penantian jodoh. Dalam sujud panjang aku tak henti-henti berdoa dan bershalawat, agar Allah meridhai setiap langkah yang kupilih, termasuk untuk segera menikah. Jika tak ada iman di hatiku, mungkin saja saat ini aku sudah mengakhiri hidup. Gadis mana yang kuat harus menanggung malu, setiap kali lamaran selalu saja gagal? Gadis mana yang kuat menahan cibiran teman dan sanak saudara karena umur semakin bertambah, namun belum juga di khitbah?


Aku mencoba menjadi gadis yang kuat, selama bertahun-tahun menanggung rasa sakit, dari sebuah impian pernikahan. Seakan dunia memberikanku harapan, namun menghempaskan harapan itu ke jurang laut. Lagi-lagi aku hanya mendapatkan sebuah gelas kosong yang tak berisi air. Apa yang salah denganku? Apa yang salah dengan kehidupaku di masa lalu?


Mata bulat nan hitam itu terus membidik kearahku. Berlahan hentakan kakinya mulai mendekat, wanita tua itu berdiri dihadapanku. Sungguh saat itu rasanya aku ingin menangis, menatap wajahnya yang sudah mulai menua, dan rambutnya yang mulai memutih. Oh...wanita tua itu ibuku, sungguh miris hatiku saat bertatapan dengannya.



“Umurmu sudah tiga pulu tiga nak. Kapan kau akan segera menikah! Ibu tak tahan mendengar tetangga yang sering membicarakanmu?”
“Ibu Percaya pada takdir Allahkan? Mungkin saat ini Allah belum meridhai aku untuk menikah bu.”
 “Apa yang salah denganmu nak? Ini sudah ke sekian kalinya lamaranmu batal.”

Kemudian aku mendekat kearah ibun, yang terduduk di sudut kasur. Kugenggam tangan ibu yang sudah mulai keriput, seraya menahan tangis.

“Ana ikhlas bu, dengan siapapun nanti Ana harus berjodoh. Semuanya Ana serahkan kepada ibu.”
“Sekalipun ia seorang tukang sapu?”
“In sha Allah jika ibu ridha.”

Berlahan kukecup kening ibuku, kemudian berjalan menuju kamar. Ember yang terisi penuh air, kemudian meluap keluar. Hati yang telah lama menahan kesabaran, kemudian meledak. Hatiku kali ini hancur sehancur-hancurnya, yang hanya tersisah kepingan ikhlas yang tersamarkan oleh rasa tidak kepercayaan.


Malam itu aku menangis sejadi-jadinya, aku meyerahkan diri berpasrah kepada Rabb pemilik kerajaan bumi dan langit. Hatiku mulai melemah, seakan tak tahan dengan takdir yang terjadi dalam hidupku. Jika memang lelaki itu bukan jodohku, mengapa harus memberikan harapan pasti, bahkan setelah shalat istikharah hatiku mantap bahwa lelaki itu adalah jodohku.


Menahan pilu hati tersayat kekecewaan. Aku masih berusaha tetap tersenyum, pergi ke kantor dengan wajah yang tersamarkan kebahagian. Sebisa mungkin aku menata hati, agar teman kantor tak curiga denganku.


“Bagaimana Na, apahkah minggu kemarin keluarga Arif, jadi datang ke rumahmu?”

“Mendadak dia tak bisa datang ke rumah Sar.”
“Ada apa?”
“Ia belum memberikan alasannya, namun sepertinya ada sesuatu terjadi dengan keluarganya, yang tak bisa ia katakan padaku.”
“Masa sih? Padahal kemarin aku bertemu dengannya, dia baik-baik saja.”

Saat itu aku hanya bisa menelan ludah. Seakan otak terus berfikir, apa yang akan aku sampaikan kepada Sari, bahwa pertunanganku dengan temannya bernama Arif gagal. Bukan aku mencoba menyembunyikannya dari Sari, ataupun takut dicemoohkan oleh teman satu kantorku karena gagal lagi. Tapi aku takut bahwa temanku nanti akan berfikir, bahwa akulah yang menolak Arif ataupun aku wanita yang ditolak olehnya.


Sejujurnya aku telah mantap dan yakin bahwa Arif adalah jodohku. Setelah shalat istikharah memohon petunjuk, semakin mantap bahwa aku memilih Arif sebagai imamku. Tapi pada kenyataanya, Arif yang menghilang tanpa kabar. Bahkan setelah di hari kejadian itu, aku sering memimpikan Arif setiap malam.


Lambat laun aku mulai terpikir. Mengapa hal ini terjadi dan terus terjadi. Akupun menceritakan kisah cinta, perjodohan dan tahapan taaruf yang ku jalani selama ini kepada Aisyah. Bahwa aku yakin, selama ini aku sudah menjalani proses taaruf sesuai ajaran Islam, namun mengapa selalu saja gagal.


Aisyah mencoba memberikan kesabaran padaku, namun sesuatu melintas dari pikirannya. Ada kejanggalan menyentikkan hatinya, sehingga keluarlah pertanyaan yang tak pernah terfikirkan olehnya.


“Ana apa mungkin kau terkena sihir?”

“Maksudmu? Mana mungkin Aisyah, zaman seperti ini, kau masih percaya pada hal seperti itu!”
“Akupun tak yakin. Namun coba kau perhatikan dan kau analisa sendiri. Kejadian itu terus berulang setiap kali kau akan melangsungkan lamaran. Pikir pakai logikamu dari mana lalat hijau yang besar masuk lemarimu yang terkunci rapat. Satu atau dua tiga lalat tak masalah, ini segerombolan lalat hijau Na? Tikus mati yang tiba-tiba ada di bak mandimu, cacing putih yang entah dari mana datangnya. Coba kau pikirkan jika itu bukan bertanda bahwa seseorang telah menyihirmu, sehingga kau tak diizinkan menikah olehnya? Aku juga tak percaya dengan hal semacam itu. Tapi kutanya lagi padamu, sebelum kau menetapkan hatimu dengan lelaki itu, apakah kau sudah shalat istikharah?”
“Iya aku shalat istikharah setiap hari, puasa senin kamis, bahkan tahajudpun tak pernah ku tinggal.”
“Setelah itu, kau mendapatkan jawabannya.”
“Hatiku mantap memilihnya, begitupun dengannya.”
“Apakah ada seseorang di masa lalumu pernah menyukaimu?”
“Aku tak tau pasti. Tetapi seseorang mengatakan padaku, bahwa ada lelaki temanku saat SMA tergila-gila padaku. Namun karena sikap cuekku lelaki itu sakit hati padaku, dan dia mengambil seluruh fotoku yang ada di Facebook, kemudian di edit dengan kata-kata cinta yang puitis. Ia kini menjadi berandalan dan hidupnya hancur, temanku bilang itu karena diriku.”
“Sudah ku duga. Lelaki itu yang telah mengikatmu, agar kau tak menikah dengan siapapun selain dengannya.”
“Mana mungkin Syah?”
“Ana jujur aku tak percaya dengan hal semacam itu. Namun entah mengapa aku yakin jika kau sedang diguna-guna oleh seseorang. Walaupun aku belum yakin bahwa lelaki itu yang telah menyihirmu. Berkali-kali kau dijodohkan, jika sihirnya tak dilepas sampai kapapun akan terus seperti itu.”
“Jadi aku harus bagaimana?”
“Ruqiyah. Bismillah percayalah pada Allah, setidaknya kau telah mencoba. Jangan bergantung pada Ustadz yang melakukan praktek Ruqiyah. Tapi bergantunglah pada Allah melalui Ruqiyah. Semoga dengan itu, kekuatan sihirpun akan musnah.”
Bismillah, semoga Allah sembuhkanku dari kekuatan sihir itu Syah.”
“Amin.”

Setelah aku menjalani Ruqiyah, bergantung kepada Allah. Bahkan tak pernah kumelalaikan kewajiban, serta sunah-sunah yang diajarkan Rasulullah. Aku berusaha untuk rutin menjaga wudhu. Awalnya tubuhku terasa berat, ada sesuatu yang mendorongku untuk berhenti hijrah. Namun niat di hatiku semakin mantap bahwa, kekuatan Allah lebih dahsyat dari sebuah kekuatan yang berasal dari jin.


Sebula aku rutin, terus menerus menjalani ruqiyah. Rijal lelaki yang dulu pernah menghilang di hari lamaran. Tiba-tiba mendatangiku kembali, lelaki itu mengatakan bahwa ia ingin segera melamarku. Namun entah mengapa hati ku goyah. Bukan karena sakit hati ditinggalkan, tapi sesuatu di hatiku yang kemudian melemah, untuk tidak meneruskan proses taaruf yang sempat tertunda itu.


Aku hanya bisa pasrah pada Allah, sebab aku yakin bahwa Allah belum meridhaiku bersanding dengan lelaki bernama Rijal. Mungkin saja akan ada lelaki yang lebih baik, Allah datangkan untukku sebagai penyempurna imanku.


Benar seminggu setelah gagal proses taarufku dengan Rijal. Seseorang datang dalam kehidupanku, pria yang pernah singgah di hatiku, lelaki yang pernah dikenalkan oleh teman kantorku tanpa sengaja Allah pertemukan kami kembali. Tepat di Masjid Raya Sumatera Barat, lelaki itu menatap wajahku dengan penuh tanda tanya, seperti seseorang yang ia kenal. Ya, itu adalah Arif lelaki yang terakhir kali berniat ingin mengkhitbahku. Saat itu ada rasa bahagia menyeruak dalam hatiku, namun sebisa mungkin coba kutata.


Arif melangkah kearahku, sambil mengatubkan kedua tangannya didada.

Asalamuallaikum. Apa kabar Na?”
“Alhamdulillah Baik.”
“Maafkan aku yang saat itu tiba-tiba menghilang? Jujur Na aku benar-benar berniat ingin mengkhitbahmu, namun ada hal yang membuatku tiba-tiba berat, melangkahkan kaki ke rumahmu. Sungguh Na aku ingin kau mau menerima kukembali?”

Saat itu aku ingin menangis, namun ada rasa bahagia yang ingin kuutarakan kepada Rabbku. Tapi saat itu kucoba menatap matanya, hanya untuk meyakinkan hatiku bahwa lelaki yang kini berdiri dihadapanku benar-benar serius dengan perkataannya. Sesaat aku terdiam, namun Arif kembali menyentakkanku dalam lamunan.


“Apakah aku tak memiliki kesempatan lagi?”

“Bisakah kau yakiniku, bahwa kau layak mendapatkan kesempatan kedua itu?”
“Aku tak bisa menjanjikanmu sesuatu yang fana ini, namun aku akan belajar menjadi imam yang baik untukmu. Janjiku adalah membawamu ke Syurga Allah, in sha Allah.

Kutarik nafasku, berulang kali ku sebut nama Allah dalam hati. Tanpa sadar kuanggukan kepalaku, bahwa aku menerima pinangannya kembali.


Hari yang kutunggu-tunggu akhirnya berjalan dengan lancar. Allah kini telah meridhaiku untuk menikah, dengan lelaki baik yang Allah kirim dalam hidupku. Dua bulan sudah cukup untuk kami sama-sama intropeksi diri, untuk kami sama-sama hijrah di jalan Allah.


Usai walimahan lelaki bernama Arif yang kini menjadi suamiku, mendekat kearahku. Seraya tersenyum, dan kemudian mengajakku untuk shalat berjamaah.

“Hari sudah malam, mari kita shalat.”
Aku hanya mengangguk.
Kamipun melaksanakan shalat berjamaah, usai shalat lelaki yang kini menjadi imamku berkata padaku.
“Jika kelak aku salah, dalam membimbingmu maka kumohon ingatkan aku!”
In sha Allah. Jadikan aku istri yang senantiasa berbakti kepada Allah!”
In sha Allah. Bolehkah kini kumengecup keningmu?”
“Silahkan. Karena telah kupastikan bahwa kini Allah telah ridha.” Ucapku sambil tersenyum.


Bukankah janji Allah itu pasti. Tak ada satupun makhluk yang memiliki Takdir yang buruk, jika kau memiliki niat untuk merubahnya. Semua tergantung dari diri sendiri, apakah kau berdiam diri dengan datangnya takdir, atau kau akan menjemput takdirmu. Sebab Jodoh adalah takdir yang bisa kau ubah dengan ikhtiar. Sementara kematian adalah Takdir yang tak pernah bisa kau rubah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Minuman sehat Untuk Kita yang Syar’i

Berhijab syar’i bukan menjadi suatu hambatan bagi kita untuk menjalankan suatu aktifitas. Hanya karena kita tidak PD (Percaya Diri) dengan apa yang kita kenakan. Karena merasa kita berbeda dengan yang lainnya. Jangan jadikan syar’imu menghambat karir dan dirimu untuk berkarya. Banyak perusahan yang mau menerima karya dan ilmumu, tak sedikit wanita berhijab syar’i bisa sukses dan jaya bahkan bisa menembus dunia luar. Semua tergantung cara pandang dan berfikirmu. Lakukan yang terbaik, kepakkan sayapmu dan katakan pada dunia bahwa kamu juga bisa seperti mereka. Dulu saya menghabisi banyak waktu untuk kegiatan dengan bekerja di salah satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang otomotif, malam harinya saya harus kuliah, di tambah sabtu minggu saya harus latihan teater, bergabung bersama komunitas Film pendek, pengajian di YISC Al Azhar ditambah harus menyelesaikan naskah, itu semua tidak menghambat saya untuk tetap syar’i. Kalau sudah begitu, sangat penting bagi kita ...

CUKUP MENGAGUMIMU DALAM DO’A

CUKUP MENGAGUMIMU DALAM DO’A (jika dalam raga tak mampu memilikimu, maka dengan do’a aku merasa memilikimu) senja menyapa malam, sisa hujan tadi sore membuatku menelusuri lorong waktu. Detak jam tak seirama dengan suara rintikan hujan, namun dapat memadukan irama yang indah jika didengar dengan penuh cinta. Kenyataan tadi siang telah jauh menghantamku ketebing jurang tertinggi, senyum yang dulu aku harapkan, kini seakan menjadi neraka yang tak ingin aku lihat. jika kuingat kembali kejadian itu, aku hanya ingin meminta kepada tuhan, kenapa harus dirimu orang yang pertama aku cintai? Mengapa harus dirimu orang yang pertama mengisi hatiku? Ya seperti itulah kenyataannya. Kuingat kembali saat pertemuan kita digerbang sekolah, kau berjalan melewatiku dengan aroma wangi tubuhmu, senyumanmu yang memukau membuat seluruh wanita memandangmu. Namun sayangnya senyumanmu itu bukan untukku, tapi untuk wanita yang sedang berdiri anggun didepan taman sambil melambaikan tangann...

KINARA DI UJUNG SENJA PART 2

MALAM itu langkah kaki yang tidak menyisahkan suara, mencekik pernafasannya berulang kali. Sebuah nama yang terngiang jelas di benaknya. Sebuah nama yang tak ingin ia dengar, dan nama itu telah ia kubur dalam-dalam hingga tak membekas sedikitpun dalam memorinya. “Amara dan Ronald bagaimana keadannya sekarang?” Kenny melirik Omanya, ada rasa sesak membuncahkan rasa sakit teramat dalam. Ia kemudian membuang pandang dengan mata yang mulai memerah dan berair. “Oma jangan pernah sebut nama itu di depan saya. Rasanya mendengar namanya saja, membuat saya tak bisa bernafas.” Ucapnya menahan amarah, dengan gigi yang mengeram seakan ia merasakan darahnya berdesir. “Baiklah Oma mengerti.” Ke duanya terdiam. Hening, tak menimbulkan suara. Eva melirik sekilas ke arah Kenny, setelah memastikan cucunya sudah sedikit tenang. Ia kemudian meminta Kenny, untuk memanggil Nara di Pavillion. Mengingat hari ini hari libur, tentunya gadis itu akan sangat bosan, setelah seharian sejak ...