Langsung ke konten utama

Ku Lepaskan Dia Karena-Mu




Aku mencintainya karena-Mu, maka kulepaskan pula ia karena-Mu

Aku hanya seorang anak manusia yang penuh dengan kekurangan. Aku tidaklah secantik Aisyah, sehebat dan semulia Khadijah, tak juga kaya seperti Bilqis. Hanya seorang gadis yang berharap masuk diantara salah satu gadis terbaik di akhir zaman.

Mencintai seseorang yang belum tentu jodoh kita, akan membuat rasa bersalah tumbuh di hati. Seperti ombak yang bersalah pada tebing karena menamparnya berkali-kali, seperti kumbang yang bersalah pada bunga diam-diam dihisap madunya, begitupun rasa bersalah api pada kayu yang menjadikannya arang.

Aku pernah mencintainya, dalam relung hati terdalam. Tak tersampaikan lewat lisan, tak diindahkan oleh mata. Mencuri pandang dari kejauhan, tersipu malu saat kusebut namanya, diam-diam kupatrikan namanya di dalam hati, berlahan kuselipkan namanya dalam doa.

Ku kira mencintainya dalam hati tak masalah. Ku kira menatapnya diam-diam dari kejauhan tak apa. Tapi aku salah, semakin hari rasa di hati semakin tumbuh, meski baru kumulai, tak pernah ku sirami. Seperti akar pohon semakin lama semakin kuat, tak mampu tergoyahkan sekalipun badai menghantam.

Aku terus mencintainya dalam diam. Tanpa kusadar bahwa aku salah, Tapi bagiku tak apa, toh tak kusampaikan padanya, ku hanya menimbang rasa padanya, yang itu tak kan membuat kudosa. Lelaki lembut berhati malaikat itu, datang menghampiriku. Matanya tajam bagaikan elang, seketika hatiku menjadi tak karuan. Ia tersenyum sesekali dipandanginya wajahku, namu kuberusaha memalingkan wajah.

Setelah lima menit membisu ikhwan itu akhirnya berbicara padaku. Entah apa yang terjadi tubuhku seperti ditimpa bom, jantungku serasa berhenti ketika sebuah kata mendarat di telingaku. Namun setelah kata yang kuharapkan berlalu, sebuah kenyataan pahit tiba menghampiri.

“Terima kasih atas rasa yang pernah Allah titipkan padaku untukmu. Semoga kau bahagia dengan pilihan orangtuamu. Datanglah ke rumahku, esok aku akan mengucapkan janji suci pilihan orangtuaku.” Seketika tubuhku lemas. Bagaimana bisa aku tak mengetahui jika selama ini ia menyukaiku. Bahkan sikap, gerak-geriknya, matanya, dan tingkah lakunya seperti orang tak mengenaliku. Namun kenyataanya bahwa lelaki itu dulu pernah menyelipkan namaku dalam doanya, namun takdir tak berpihak pada kami. Ia melangkah tanpa bertanya, ia mengira aku telah dijodohkan, namun pada kenyataanya informasi yang ia dapatkan sebuah berita palsu.

Tepat tanggal 10 Desember 2014 lelaki yang pernah singgah disingasana hatiku mengucapkan janji suci. Ada pilu di hati namun, ikhlas mendorongku untuk menerima kenyataan. Ku tau mencintainya dalam diam, cara yang salah. Kusadar bahwa Rabb ku teramat cemburu. Bisa jadi mencintai dalam diam, membuatku berdosa sebab aku memupuk rasa yang menyebabkan hatiku berzina, meski rasa yang kupatrikan dalam hati walau tak tersampaikan oleh lisan.

Ikhwan itu berjabatan tangan dengan ayah gadis yang akan dipersunting olehnya. Berlahan ku sebut nama Allah, ku katakana dalam hati “ Jika aku mencintainya karena-Mu, maka ikhlas kulepaskan pula ia karena-Mu.” Seketika hatiku tenang, seiring ucapan hamdalah terlontar dari mulut para hadirin yang hadir diacara akad nikahnya.

Memang indah hanya mencintai Allah. Tak ada sakit, bahkan rasa bersedih. Walau rasa yang singgah hanya sebatas diam. Rasa ikhlas mengantarkanku pada seorang ikhwan yang tak ku kenal. Ia kakak senior adikku saat di sekolah, hanya sekali ku bersua dengannya. Tak hanya baik hatinya, namun sholehnya dia sekali lagi kutitipkan rasa pada Allah. Sebulan perkenalanku dengannya, tak pernah bersua, sekalipun sebatas bertanya. Kutau segala tentangnya dari adikku. Lelaki itu menanyakan ayahku, entah apa maksud dan niatnya. Benar 3 hari kemudian ia datang ke rumahku.

“Aku ingin mengkhitbah anak Bapak?”
“Tapi anak ku tak cantik, dan kamipun juga bukan dari keluarga berada.”
“Jika aku mencintai anak bapak karena cantik, maka berlalunya waktu cinta itu akan pudar karena fisiknya yang mulai berubah. Jika aku mencintai anak bapak karena harta, mungkin dapat dihitung berapa besar cintaku pada anak Bapak. Aku tak mengenali putrimu, bahkan kami hanya sekali bertemu itupun hanya bertegur sapa. Tapi Karena cintanya pada Allah, serta sikap dan prilaku putrimu membuatku memilihnya, untuk mendampingiku sama-sama mencari syurga-Nya Allah.”
“Berapa mahar yang sanggup kau penuhi untuk meminang putriku.”
“Al-Qur’an sebab ku ingin dia selalu mencinta Rabbku. Bukan aku, maupun hartaku.”
“Kuterima pinanganmu.”


Seketika Rasa haru, sujud syukur berkumandang di dalam rumahku. Tak terasa butiran Kristal turun membasahi pipiku. Benar janji Allah itu pasti, jika kau menyerahkan semuanya pada Allah, maka Allah akan mempermudah jodohmu. Bahkan ia datang dari arah yang tak kusangka. Hanya sebatas kenal, namun Allah mempersatukanku dengan lelaki yang jauh lebih baik, bersamanya syurga terasa dekat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Minuman sehat Untuk Kita yang Syar’i

Berhijab syar’i bukan menjadi suatu hambatan bagi kita untuk menjalankan suatu aktifitas. Hanya karena kita tidak PD (Percaya Diri) dengan apa yang kita kenakan. Karena merasa kita berbeda dengan yang lainnya. Jangan jadikan syar’imu menghambat karir dan dirimu untuk berkarya. Banyak perusahan yang mau menerima karya dan ilmumu, tak sedikit wanita berhijab syar’i bisa sukses dan jaya bahkan bisa menembus dunia luar. Semua tergantung cara pandang dan berfikirmu. Lakukan yang terbaik, kepakkan sayapmu dan katakan pada dunia bahwa kamu juga bisa seperti mereka. Dulu saya menghabisi banyak waktu untuk kegiatan dengan bekerja di salah satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang otomotif, malam harinya saya harus kuliah, di tambah sabtu minggu saya harus latihan teater, bergabung bersama komunitas Film pendek, pengajian di YISC Al Azhar ditambah harus menyelesaikan naskah, itu semua tidak menghambat saya untuk tetap syar’i. Kalau sudah begitu, sangat penting bagi kita ...

CUKUP MENGAGUMIMU DALAM DO’A

CUKUP MENGAGUMIMU DALAM DO’A (jika dalam raga tak mampu memilikimu, maka dengan do’a aku merasa memilikimu) senja menyapa malam, sisa hujan tadi sore membuatku menelusuri lorong waktu. Detak jam tak seirama dengan suara rintikan hujan, namun dapat memadukan irama yang indah jika didengar dengan penuh cinta. Kenyataan tadi siang telah jauh menghantamku ketebing jurang tertinggi, senyum yang dulu aku harapkan, kini seakan menjadi neraka yang tak ingin aku lihat. jika kuingat kembali kejadian itu, aku hanya ingin meminta kepada tuhan, kenapa harus dirimu orang yang pertama aku cintai? Mengapa harus dirimu orang yang pertama mengisi hatiku? Ya seperti itulah kenyataannya. Kuingat kembali saat pertemuan kita digerbang sekolah, kau berjalan melewatiku dengan aroma wangi tubuhmu, senyumanmu yang memukau membuat seluruh wanita memandangmu. Namun sayangnya senyumanmu itu bukan untukku, tapi untuk wanita yang sedang berdiri anggun didepan taman sambil melambaikan tangann...

KINARA DI UJUNG SENJA PART 2

MALAM itu langkah kaki yang tidak menyisahkan suara, mencekik pernafasannya berulang kali. Sebuah nama yang terngiang jelas di benaknya. Sebuah nama yang tak ingin ia dengar, dan nama itu telah ia kubur dalam-dalam hingga tak membekas sedikitpun dalam memorinya. “Amara dan Ronald bagaimana keadannya sekarang?” Kenny melirik Omanya, ada rasa sesak membuncahkan rasa sakit teramat dalam. Ia kemudian membuang pandang dengan mata yang mulai memerah dan berair. “Oma jangan pernah sebut nama itu di depan saya. Rasanya mendengar namanya saja, membuat saya tak bisa bernafas.” Ucapnya menahan amarah, dengan gigi yang mengeram seakan ia merasakan darahnya berdesir. “Baiklah Oma mengerti.” Ke duanya terdiam. Hening, tak menimbulkan suara. Eva melirik sekilas ke arah Kenny, setelah memastikan cucunya sudah sedikit tenang. Ia kemudian meminta Kenny, untuk memanggil Nara di Pavillion. Mengingat hari ini hari libur, tentunya gadis itu akan sangat bosan, setelah seharian sejak ...