kata siapa menikah
tanpa pacaran gak langgeng?? Ada juga yang berpendapat pacaran itu harus, sebab
dengan pacaran kita akan tau bobot-bebet wanita atau pria yang akan kita
nikahi. Ada yang bilang pacaran adalah sebuah penjajakan untuk kita mencari
pasangan terbaik. Sebenarnya kalau kita mengikuti ajaran islam, tak ada nama
istilah pacaran dalam Islam, apa lagi istilah mencari yang terbaik. Ada juga
yang berpendapat banyak mereka yang menikah melalui perjodohan tak langgeng,
karena sama-sama tak mengenal, sama-sama tak menjajaki, pada akhirnya harus
bercerai. Sebenarnya kalau kita berfikir dalam Islam menikah itu memang berawal
tak saling menyukai, tak saling mencintai. Cinta itu akan hadir setelah
menikah, sebab cinta datang bukan karena dicari, tapi ditumbuhkan setelah
menikah.
Saya berbagi sedikit
cerita. Saya memiliki teman pengajian, teman sama-sama hijrah, kami menutut
ilmu di YISC Al azhar. Wanita sholeha itu ku kenal dengan kepribadiannya yang
lembut dan mudah bergaul. Tak pernah sedikitpun kami membahas tentang ikhwan,
ia lebih sering bercerita dan berbagi tentang ilmu Islam. Kami sangat dekat,
terkadang kami selalu menghabisi waktu dengan Chat yang lagi-lagi tak pernah,
segelintir pikiran kami mengarah pada ikhwan.
Tak berapa lama
tiba-tiba temanku itu terdengar bahwa ia segera akan dikhitbah seorang ikhwan
yang tak lain juga anak Yisc Al azhar, tapi beliau sebagai pengajar panahan. Aku
terkejut, sebab kutau sahabatku itu sama sekali tak pernah ada tanda-tanda
sedang ta’aruf atau dijodohkan. Dengan rasa penasaran, kuhubungi dia,
kutanyakan kebenarannya. Sontak aku terkejut, jika kabar itu benar adanya.
Ia bercerita padaku
detik-detik ikhwan itu mengkhitbahnya. Sungguh hatiku terharu, dan terenyuh
mendengar kisahnya. Seorang kakak pemandu menanyakan padanya, apakah temanku ini
sudah siap jika ada seseorang ikhwan yang hendak serius padanya? Temanku
menjawab dengan satu tarikan nafas, In sha Allah siap, kuserahkan semua kepada
Allah. Tak berapa lama setelah kakak pemandu kami bertanya kepadanya, beberapa
hari kemudian ia menerima CV ta’aruf dari seorang Ikhwan yang tak ia kenal. Setelah
bertukar CV, ikhwan itu menanyakan padanya, apakah proses ta’arufnya bisa
dilanjutkan. Tanpa ragu temanku menjawab ia, padahal ia sama sekali belum
mengenal ikhwan itu. Siapakah dia? Dari manakah dia? Atau bagaimanakah
kehidupannya? Walau lengkap sudah di CV tersebut, setidaknya ia butuh
pengenalan lebih dalam, agar ia tak salah menempatkan hati. Namun niat hati
sahabatku bukan untuk sekedar hanya menikah, tak peduli rupa, materi dan semuannya.
Sebab yang ada dihatinya hanya Allah, semua ia serahkan kepada Allah.
Tak sampai sebulan
ikhwan itu datang menemui kedua orangtua temanku, padahal mereka belum bertemu
secara fisik. Ikhwan itu tiba dengan kedua orangtuannya dan saat itu langsung
mengkhitbah temanku. Saat itu pertama kalinya mereka bertemu, hingga sampai
ditentukan hari pernikahan mereka juga jarang bertemu, semua diurus dengan baik
oleh kedua keluarga mereka. Tibalah hari sakral yang ditunggu-tunggu merekapun
akhirnya menikah, dan itulah pertemuan ke tiga mereka dan seterusnya.
Kata siapa menikah
harus melalui proses pacaran? Jika kita menikah Karena Allah, dan tujuan hidup
kita sebagai penyempurna iman in sha allah cinta akan tubuh seiring berjalannya
waktu. Sebab cinta memang bukan untuk dicari, tapi bagaimana menumbuhkannya. Itulah
pelajaran yang dapat kupetik dari sahabatku Ninik, semoga engkau selalu bahagia
menjadikan Rasulullah sebagai panduanmu dalam mengarungi bahtera rumah tangga
bersama suami yang engkau cintai.
Tunggu kisah cinta
indah selanjutnya, hingga penulisnya mendapatkan cinta halalnya :)

Komentar
Posting Komentar
Dilarang mengcopy, karena Blog ini dilengkapi dengan pendeteksi pengaman
terima kasih telah berkunjung pada situs Blog ini.